Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Beres-beres


__ADS_3

Sesuai rencana kemarin, usai sarapan Gavin mengantar Nara dan kedua anaknya ke rumah mereka yang rencananya akan di jual dan mengemas pakaian.


Tapi, sebelum berangkat harus ada drama antara Bina dan Nessa. Keduanya itu sudah sangat akrab padahal baru kenal.


"Tante, mau ikut nggak?"


"Kemana?" tanya Bina sambil memakan keripik kentang.


"Eca mau pulang, mau beres-beres baju," jawab Nessa, ia ikut mengambil keripik kentang dari toples yang di peluk Bina.


"Nggak ah, nanti Tante di suruh ikut beresin. Tante nggak mau kuku-kuku cantik Tante harus kotor, ngelupas. Jadinya harus buat lagi," tutur Bina yang mengangkat tangannya. Ia menatap kuku-kukunya yang cantik itu dengan sedih.


Kukunya baru di warnai tadi pagi dan harus di bawa untuk bersih-bersih, oh tentu Bina tidak mau.


"Masa Eca sendirian di sana?" Nessa memasang tampang sesedih mungkin.


"Sendiri gimana? 'Kan ada bunda sama Nevan," Walau begitu, Bina ikut merasa bersalah.


"Mereka nggak asik, cuma Tante doang yang bisa ngertiin aku, ajak aku main, ajak aku ngobrol. Ajak aku jail, pokoknya Tante the best, mau yah ikut?" Bujuk Nessa, anak itu bergelayut manja di lengan Bina.


"Kamu tahu nggak apa yang paling ngeselin dari kamu?" Tanya Bina, Nessa menggeleng tidak tahu, katanya, “Aku imut gini mana ada ngeselin.”


"Ada, yang paling ngeselin dari kamu itu, karena kamu terlalu imut. Jadi, Tante nggak bisa nolak keinginan kamu."


Nessa jadi salting, ia memukul ringan lengan Bina. "Ih Tante bisa aja, aku 'kan emang udah imut dari dalem perut."

__ADS_1


*****


"Mbak, ini Mbak sendiri yang beli rumah?"


Nara mengangguk, "iya, butuh perjuangan banget. Alhamdulillah, rezeki lancar terus jadi bisa beli rumah sendiri," Jawab Nara, ia mulai membuka pintu rumah yang sudah di tinggal selama dua hari.


"Wah hebat, padahal Mbak Nara masih muda. Apalagi harus ngurus anak dua sendirian, pasti capek," ucap Bina merasa takjub, Nara memang asing tapi karena sifat Nara yang baik dan mudah bergaul membuat Bina bisa langsung akrab.


"Nggak sendiri, ada ibu panti yang bantuin aku jaga anak-anak waktu aku kerja."


Bina mengangguk paham, ia, Nara dan Nessa masuk ke dalam rumah. Bina pun langsung merasa takjub dengan isi rumah Nara yang terlihat sangat rapi. Barang tak banyak jadi tidak terlihat sempit meski hanya rumah satu lantai.


"Mbak, rumahnya nyaman banget ini. Aku jadi pengin nyoba tinggal di sini, boleh nggak yah?" Bina mengikuti Nara yang sudah jalan hendak masuk ke dalam kamar.


"Boleh, tapi rumahnya mau aku jual, atau kamu saja yang beli?" Nara terkekeh, sedangkan Bina mengerucutkan bibirnya.


"Kerja lah," ucap Nara enteng.


"Kerja apa? Aku sendiri bingung kalau mau cari kerjaan, bingung bakat aku tuh apa. Malah aku ngerasa aku sama sekali nggak punya bakat," helaan napas panjang Bina keluarkan.


"Ya udah, belajar yang rajin. Kalau untuk sekarang mendingan bantuin aku beres-beres."


Bina mendelik, ia sudah menduganya. "Nessa ...!! Kamu bilang nggak bakal biarin Tante ikut beres-beres ... " kesal Bina.


Nessa yang masih duduk di kasur bulu depan televisi sambil bermain ponsel itu terkejut, ia menepuk keningnya. "Ah, iya. Aku lupa," ucapnya, kemudian ia langsung berlari menuju kamar.

__ADS_1


Tapi, tetap saja Bina membantu Nara, mengemas pakaian dan di masukkan ke dalam koper. Bina ikhlas meski harus membuat kuku-kukunya mengelupas walau sedikit tidak— rela.


Rumah Nara tidak langsung terjual, ia akan memasang banner di pagar depan rumah. Untuk barang-barang mungkin akan ada beberapa yang Nara lelang.


"Bun, ayah kapan datang?" Tanya Nessa, mereka sedang duduk di lesehan, beristirahat setelah memasukkan semua pakaian ke dalam koper.


"Nanti sore."


"Sama Nevan juga?"


"Iyalah, masa Nevan di tinggal sendiri, sedang ayah pulang naik mobil?" Nara menggeleng tak paham jalan pikiran Nessa.


Ya, Nevan dan Gavin tadi pergi berdua. Nevan tak mau ikut dengannya karena ia laki-laki sendiri. Katanya, "mending aku ikut ayah, dari pada sama bunda. Apalagi ada Nessa, palingan aku di suruh nyapu halaman."


Bahkan, Bina yang tidak sengaja mendengar hal itu langsung tertawa terbahak-bahak, lain dengan Ghiska yang hanya menahan tawa.


"Jadi, kita makan siangnya gimana?" tanya Bina, Nara menoleh dan berpikir sejenak.


"Di pertigaan depan ada yang jualan bakso, kita makan pakai itu dulu ya. Atau, beli pecel aja di warung," ujar Nara, meminta pendapat dua orang yang sedang menonton drakor di ponsel Bina.


"Bakso aja, Mbak."


Nara mengangguk, dia bilang, "ya udah, Mbak beliin sekarang. Sebentar lagi waktunya makan siang. Eca, kamu mau apa?" tanya Nara pada anak gadisnya.


Nessa mendongak, "Mie ayam ya, Bun," ucapnya sambil nyengir, memperlihatkan deretan gigi putih yang rapi dan terawat.

__ADS_1


"Kalian tunggu di sini, ya. Bunda nggak akan lama, kok." Nara bangkit, ia mengambil tas di atas meja dan tak lupa melihat ponsel serta dompet agar tak ketinggalan.


"Ashiappp," ucap keduanya serempak.


__ADS_2