
Kiki menarik tangan Nara, membawa sahabatnya ke lantai atas, ingin mengobati pipi Nara yang sudah memerah juga terasa perih.
Sesaat, Kiki menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang, “Nessa, Nevan, ikut Tante sama Bunda ke atas, di sini masih ada serangga pengganggu.”
“Iya, Tante ... ” jawab keduanya bersamaan.
Mendengar kata serangga pengganggu, Jovanka menggeretakkan giginya, marah karena tahu ia sedang di katai.
“Ayah, nanti kita main lagi, sekarang Nessa mau obatin bunda dulu, dah Ayah ... ” Nessa mencium pipi Gavin sebelum pergi, setelah itu ia turun dari pangkuan Gavin dan segera berjalan menyusul Kiki, kakinya sedikit terpincang karena jatuh tadi.
Sedangkan Gavin masih diam mematung, sebenarnya ia masih syok setelah mendengar ucapan panjang lebar dari Kiki tadi.
Dalam benaknya terus berpikir, apakah benar yang di katakan Kiki? Selama beberapa tahun ini Nara dan kedua anaknya menderita?
Muncul rasa bersalah dalam dirinya, ternyata apa yang Nara alami selama ini adalah karena ulahnya. Dan karena dirinya, kedua anaknya pun ikut menderita.
“Gavin ... ” Jovanka berjalan mendekati Gavin, tangan kanannya memegangi pipinya yang memerah karena terkena tamparan Kiki.
“Kamu liat tadi? Perempuan itu nampar aku, kenapa kamu diem aja? Nggak ngebela aku?” Wajah Jovanka memelas, tapi tidak di hiraukan oleh Gavin.
Malahan pria itu kini menatap Jovanka dengan tajam, membuat Jovanka menelan ludahnya dengan kasar. Tatapan Gavin seolah mampu untuk membelah tubuhnya menjadi dua bagian.
“Apa kamu tidak malu?” kata Gavin setelah diam beberapa saat.
“Aku? Kenapa harus malu?” tanya Jovanka dengan heran, wajahnya yang memelas tadi sudah berganti dengan rasa marah.
Harusnya Gavin mengobati dirinya, tapi kenapa malah menanyakan pertanyaan? Apakah tidak kasihan melihat dirinya kesakitan?
“Sini!” Gavin menarik tangan Jovanka, membawa wanita itu keluar.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam mobil milik Gavin, dengan kasar Gavin menutup pintu. Lalu menyalakan mesin mobil dan melaju dengan cepat.
Di dalam mobil, hanya ada keheningan, Gavin terus melajukan mobilnya tanpa melihat ke arah Jovanka yang saat ini sedang merasa sedikit takut.
Ada rasa marah, malu, juga kecewa pada diri Gavin. Setiap kata yang keluar dari bibir Kiki tadi terus terngiang di kepalanya. Entah kenapa Gavin merasa dirinya terlalu tidak berguna.
Tapi ia juga marah dengan Jovanka, kenapa pula perempuan ini harus membuat keributan di depan umum? Apalagi di butik Nara masih banyak pelanggan.
Sesampainya di rumah, Gavin langsung menarik tangan Jovanka, membawa istrinya masuk ke dalam kamar. Saat baru ingin menaiki tangga, ada Helen lewat karena ia baru saja dari dapur.
“Lho? Gavin? Anka?” Suara Helen seperti angin lalu, tidak di hiraukan oleh mereka berdua.
Helen mengerutkan dahinya, menebak bahwa anak dan menantunya sedang ada masalah. Melihat keduanya masuk ke dalam kamar, lantas Helen pun merasa penasaran, ia ikut naik dan menguping dari depan kamar Gavin.
Di tangannya ada segelas kopi, niat awalnya ingin bersantai di pinggir kolam renang pun sirna, melihat kedatangan anak dan menantunya itu ia menjadi penasaran telah terjadi hal apa.
“Apa kamu tidak malu?” tanya Gavin sekali lagi.
“Buat apa aku malu?” Jovanka mengepalkan tangannya.
“Untuk apa kamu ke sana? Di sana banyak orang!! Dan lagi tadi kamu nampar Nara, sebenarnya Nara salah apa?” Mereka berdua berdiri tidak terlalu jauh dari pintu, sehingga Helen bisa mendengarnya dengan jelas.
“Harusnya aku yang tanya sama kamu, harusnya aku yang marah sama kamu!! Kenapa selama ini kamu bohong sama aku? Bilangnya ke Bali tapi malah pergi ke rumah sakit buat bantu anak haram itu!!”
“JAGA MULUT KAMU ANKA!!” teriak Gavin, tangannya sudah gatal ingin menampar Jovanka tapi ia tahan. Ia tidak pernah memukul wanita.
Tapi mendengar Jovanka menyebut Nevan anak haram membuat amarah dalam dirinya langsung naik sampai ke kepala.
“Kenapa? Nggak terima aku panggil anak haram? Bukannya kenyataannya memang begitu? Kamu pikir aku nggak tau? Kalau kamu adalah ayah dari anak perempuan si*lan itu?!”
__ADS_1
“Tapi tetep aja, 'kan mereka anak haram. Kamu nggak mengakui mereka secara hukum, itu berarti mereka belum sah jadi anak kamu!! Kamu itu suami aku GAVIN!! Bukan suami Nara, kamu harusnya bela aku, bukan malah marah sama aku kaya gini!!”
“Apa kamu tau? Aku bisa aja laporin kamu ke Papa, biar Papa yang bakal ngeberesin perempuan sial*n itu sama anak haram kamu. Biar mereka tau rasa!!” ancam Jovanka, menggunakan nama Papanya yang berpengaruh pasti akan membuat Gavin diam.
Tapi Jovanka salah, ia malah melihat Gavin menyeringai, “heh, kamu pikir aku takut? Apa kamu nggak sadar kalau selama ini kamu hanya di jadikan umpan? Kamu tau alasan sebenarnya kenapa kamu nikah sama aku? Hahaha, pasti kamu nggak tau.”
Jovanka mematung, “A— apa maksudmu?” tanya Jovanka menatap Gavin.
“APA MAKSUD KAMU GAVIN!!” Jovanka mengguncang tubuh Gavin, membuat Gavin dengan kasar menghempaskan Jovanka. Ia merasa risih.
“Bukannya kamu punya anak buah yang bisa mencari informasi? Sama sepertiku, kamu bisa mencari informasi mengenai papamu tanpa aku bicara pun,” setelah mengatakan itu, Gavin pun berjalan keluar.
Saat ia membuka pintu, betapa terkejutnya ia melihat ada mamanya yang masih menempelkan telinganya di udara karena pintu untuk Helen bersandar di buka oleh Gavin.
“Mama?”
“Eh,” Helen terhenyak, ia segera memundurkan tubuhnya, tapi tak sengaja ia membuat kopi yang sedang di bawanya sedikit tersenggol.
Alhasil, kopinya sedikit tumpah, dan juga mengenai kaki Helen, “aduh, panas, panas ... ” Helen memegangi kakinya yang sedikit tersiram air kopi.
“Mama ngapain di sini?” tanya Gavin masih berdiri, tidak membantu mamanya yang sedang kepanasan.
“Ah, Mama tadi kebetulan lewat, nggak sengaja denger kamu ribut sama Anka,” Helen berdiri, ia ingin segera pergi sebelum Gavin bertanya lebih banyak.
“Nggak sengaja denger tapi keterusan. Namanya nguping, itu mah sengaja,” cibir Gavin, ia pun kembali melanjutkan langkahnya, suasana hatinya sedang tidak baik saat ini.
Tante Helen meringis, bukan karena ucapan Gavin tapi karena kakinya yang tadi tersiram kopi panas.
“Aduh, kenapa pake acara ke siram segala, sih. Panas banget lagi.” Tante Helen pun pergi dari depan kamar Gavin, ia ingin mengobati dulu kakinya lalu kembali ke rencana awal, bersantai di pinggir kolam renang.
__ADS_1