Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Kesan Pertama


__ADS_3

Mendapat kepalan tinju dari Nara, dua preman itu mengusap hidungnya yang berdarah. Rasa sakit yang di dapat hampir sama dengan rasa sakit dari tinjuan seorang pria.


Mereka berdiri, mencoba seimbang agar tidak lagi tumbang. Menyenderkan tubuhnya ke dinding, masih dengan napas yang ngos-ngosan.


Melihat Nara yang sepertinya tidak merasa lelah, kedua preman itu segera pergi. Meninggalkan Nara dan wanita yang mereka rampok. Pergi dengan tangan kosong lebih baik dari pada kembali mendapat pukulan.


Setelah kepergian dua preman itu, Nara segera menghampiri wanita paruh baya yang sedang duduk menahan takut dan rasa sakit.


"Ibu nggak apa-apa?" Nara berjongkok, melihat wanita paruh baya yang dia tolong barusan.


"Saya nggak apa-apa. Terimakasih ya, kalau nggak ada kamu yang nolongin, saya nggak tau lagi jadinya gimana." Ucap wanita itu seraya memegangi lututnya yang terasa sakit.


"Iya sama-sama Bu.. Mari saya bantu ngobatin lukanya." Nara membantu wanita itu berdiri, merangkul dan membantunya berjalan.


Nara mengambil dua bungkus plastik yang berisi makanan. Masih merangkul wanita yang di tolong nya, Nara membawa wanita itu ke butik.


Sampai di butik, Nara membantu wanita itu untuk duduk di sofa. Melihat Nara yang membawa seorang wanita, Indi yang sedang makan itu mendekati Nara.


"Kenapa, Mbak?"


Nara menoleh, "Indi, bisa tolong ambilkan kotak obat?"


"Bisa, Mbak." Indi mengangguk, dengan segera dia naik ke lantai atas tempat ruangan Nara berada. Mengambil kotak obat dan kembali.


"Nih, Mbak. Kalau gitu saya mau lanjut makan."


Nara mengambil kotak obat yang Indi berikan, "iya. Ya udah sana, lanjutin makannya biar tenaganya banyak."


Wanita yang di tolong Nara sejak tadi hanya diam, dia menatap sekeliling butik Nara. Saat sedang melihat-lihat sekitar, tiba-tiba dia merintih kesakitan.


"Aduh... "


"Ma-maaf, apakah sakit?" Merasa bersalah, Nara tidak tahu apakah dia menekan luka di lutut wanita paru baya ini terlalu kuat.


Luka di lutut wanita ini tidak lebar, hanya sedikit lecet tapi Nara tahu kalau luka kecil seperti ini rasanya memang sakit. Dengan segera dia meniup luka kecil itu.


"Ya-iyah... sedikit sakit." Wanita itu tersenyum.


Melihat kalau wanita ini sudah biasa saja, Nara kembali melanjutkan mengolesi betadine. Menutup luka dengan kain kasa di tambah dengan tempelan hansaplast.


"Maaf, Nak. Mau tanya, apakah butik ini milik kamu?"

__ADS_1


Nara mendongak, "iya, Bu. Ini milik saya."


"Aduh...jangan panggil saya Ibu, panggil saja Tante Helen."


"Ah, iya Bu. Eh..Tante Helen."


Nara tersenyum kikuk, menggaruk belakang Telinganya yang tidak gatal. Kemudian dia membereskan alat yang dipakai untuk mengobati lutut wanita paruh baya itu dan memasukkannya kembali ke dalam kotak.


"Tante kenapa bisa ada di sana? Di situ 'kan cuma jalan gang kecil, makanya banyak preman yang lagi nongkrong."


Nara berdiri, menaruh kotak obat di atas meja. Kemudian dia duduk di sofa yang berhadapan dengan tante Helen.


Nara sudah tahu kalau di gang kecil tempat tante Helen di rampok itu memang banyak preman. Bahkan tak jarang di sana mereka bersenang-senang dengan botol alkohol.


Tempatnya lumayan jauh dari keramaian dan jalan raya, jadi memang aman untuk tempat nongkrong, minum alkohol bagi para preman pengangguran yang tidak ada kerjaan.


Bahkan mereka sering berjudi di tempat yang menurut Nara kotor itu. Membuat Nara sendiri tidak begitu berani datang ke tempat kecil itu.


"Tadi Tante lagi terima telepon. Sampai Tante nggak sadar kalau udah jalan terlalu jauh. Tante juga kaget pas liat ada preman yang lagi duduk di tempat itu."


Nara hanya ber-oh ria, mereka kembali berbincang, saling berkenalan sampai suara anak kecil mengalihkan perhatian mereka.


Si kecil Nessa dengan kakinya yang pendek itu berlari menghampiri Nara. Di susul oleh Fahmi dan Nevan di belakangnya.


Pelukan antara ibu dan anak itu terjadi, mereka seperti sedang melepas rindu yang bergejolak. Padahal baru setengah hari tidak bertemu.


"Sayang? Kok baru pulang?" Tanya Nara sembari membawa Nessa ke pangkuannya. Mencium kedua pipi gembul Nessa dan mengusap kepalanya.


"Iya, tadi om Fahmi ajak aku sama Nevan jalan-jalan."


Akhirnya perbincangan antara dua orang itu terjadi, tante Helen yang melihat kedatangan dua anak Nara dan seorang pria dewasa begitu terkejut.


"Nara.. mereka berdua anak kamu?" Tanya tante Helen.


Nara mengangguk, "iya Tante, mereka anak aku."


"Umur mereka berapa?"


"Empat setengah tahun, Tan. Memangnya kenapa?" Nara balik bertanya, menatap tante Helen dengan heran. Apakah ada yang salah dengan kedua anaknya.


"Oh, nggak. Tante cuma tanya aja." Tersenyum kikuk, tante Helen merasa sedikit heran saat melihat Nessa dan Nevan. Entah kenapa mereka berdua terlihat mirip dengan putranya.

__ADS_1


Saat Nevan berjalan mendekat, tante Helen bisa melihat dengan jelas wajah Nevan. Benar dugaannya kalau kedua anak Nara mirip dengan putranya. Tapi bagaimana bisa, Nara 'kan sudah menikah dengan laki-laki yang datang bersama anak-anak.


Apa yang aku pikirin ini, ada-ada aja.


Tante Helen menggelengkan kepalanya, berusaha menepis pikirannya yang sudah mulai ngawur. Tidak mungkin juga juga Kedua anak Nara adalah cucunya, lagian Nara sudah menikah dan pasti pria itu adalah ayah dari anak Nara.


"Bunda." Nevan mendekati Nara, kemudian menaiki sofa dan duduk di samping Nara.


Mereka mengobrol, tante Helen berkenalan dengan kedua anak Nara. Apalagi berkenalan dengan Nessa, tante Helen sangat menyukai gadis kecil itu. Mulutnya yang cerewet seperti bumbu pelengkap dalam masakan.


Terlihat sempurna dalam mengundang tawa, tante Helen jadi menginginkan seorang cucu. Tapi, tante Helen baru menyadari kalau Nevan adalah anak yang pendiam.


Sejak tadi jika Fahmi yang tidak mengajak Nevan mengobrol maka Nevan tidak akan mengeluarkan suaranya. Hal itu membuatnya kembali berpikir yang tidak-tidak.


"Kalian udah makan belum?" Nara sampai lupa, jika saja perutnya tidak merasa lapar, mungkin dia tidak akan menyadari kalau dirinya belum makan siang.


"Kita belum makan, Bunda." Dengan polosnya Nessa menjawab, tidak 'kah sejak tadi perut gadis itu kelaparan.


"Ah, Bunda pikir kalian udah makan. Kalau gitu mendingan kita makan bareng-bareng. Tadi Bunda dari beli makan di luar, untungnya beli banyak."


Nara menurunkan Nessa dari pangkuannya, mengambil bungkus plastik yang berisi makanan. Tanpa ada bantahan mereka semua makan karena tawaran dari Nara.


Bahkan tante Helen yang merasa sungkan itu tetap di paksa Nara untuk makan. Dengan beberapa kali bujukan akhirnya tante Helen mau dan makan siang bersama Nara.


Setelah beberapa saat, makanan yang di beli Nara habis tak tersisa, perut mereka lumayan kenyang. Sampai suara ponsel milik tante Helen berbunyi. Segera tante Helen mengangkatnya, berdiri dan berjalan sedikit jauh.


"Ra, Tante udah di jemput sama supir di luar. Jadi Tante mau pulang dulu, makasih ya udah bantuin Tante." Ucap tante Helen saat sudah selesai menelepon.


"Iya, Tan. Sama-sama," setelah berpamitan, tante Helen langsung keluar dari butik Nara. Menaiki mobil dan melaju pulang menuju rumahnya.


.


.


.


bersambung


jangan lupa like dan komennya ya kakšŸ™ƒ


makasih udah mau mampir 🄰

__ADS_1


__ADS_2