
Malam semakin larut, acara makan malam bersama telah usai dan malam penuh kecanggungan di mulai saat ini. Nara duduk di atas kasur dengan pandangan mengarah ke depan.
Sedangkan Gavin sedang berada di kamar mandi, tadi sebelum makan malam mereka tidak sempat untuk mandi sehingga setelah makan malam barulah ada kesempatan untuk membersihkan tubuh.
Awalnya Nara bingung karena mereka berdua sama-sama ingin mandi. Tapi akhirnya Gavin mengalah dan membiarkan Nara mandi terlebih dahulu. Setelah selesai mandi, Nara bisa duduk dengan tenang sembari mengamati seluruh kamar ini.
Kamar pengantin yang sudah di hias seindah mungkin. Ada kelopak mawar berbentuk love di tengah-tengah kasur, dan buket bunga di sisi tempat tidur. Nara tidak pernah membayangkan akan mempunyai kesempatan untuk ini.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka, Nara menoleh lalu kembali memalingkan wajah. Bagaimana tidak? Gavin keluar hanya dengan memakai handuk sampai sebatas pinggang. Hingga memperlihatkan bagian perutnya yang berotot.
“Ehm ... maaf, tapi aku lupa membawa pakaian tadi ... ” Gavin mengerti kenapa Nara bertingkah seperti itu, tapi Gavin tidak menyadari kalau saat ini wajah Nara memerah dan terasa hangat.
“Iya, aku tahu. Aku juga sudah menyiapkan pakaianmu.” Nara menunjuk ke arah dimana pakaian Gavin berada, Nara sudah menyiapkannya sejak Gavin masuk kamar mandi.
Gavin tersenyum tipis. “Terimakasih ... ”ucapnya lalu pergi lagi ke kamar mandi untuk ganti pakaian.
Lima menit berselang Gavin sudah keluar, lalu Gavin ikut duduk bersama Nara di atas kasur, tapi sungguh hal itu membuat jantung Nara berdegup dengan kencang hingga tanpa sadar Nara menyentuh bagian dadanya.
"Kenapa?" tanya Gavin bingung.
"Ah, ngga-- nggak apa-apa, aku-- aku cumaa ... " Nara menelan ludah, bingung ingin menjelaskan bagaimana.
Gavin menahan senyum saat sadar kalau Nara sedang gugup, bahkan jadi salah tingkah saat Gavin terus menatapnya. “Tenang aku nggak akan ngapa-ngapain kamu ... ” ucapnya ambigu.
“Ngapain gimana?” Nara mengerutkan dahi tapi saat mengetahui maksudnya tiba-tiba wajahnya menjadi panas dan rona merah terlihat jelas membuat Gavin tanpa sadar tersenyum dan merasa gemas.
“Aku masih tahu batasan, aku akan menunggu kamu sampai kamu siap,” Gavin menatap Nara lekat, Nara balas menatap Gavin, tatapannya terlihat serius dan dalam.
__ADS_1
“Tunggu aku siap,” kata Nara, Gavin mengangguk.
“Tapi kenapa malam itu kamu lupa batasan?” celetuk Nara membuat Gavin menggaruk belakang kepalanya.
“Aku ngga tahu, aku nggak sadar dan terpaksa.” Gavin mencoba mengingat kejadian malam itu, memang saat itu ia tidak sadar sudah hilang kendali. Entah kenapa Gavin sendiri tidak tahu.
"Lalu kenapa saat itu kamu ada di sana?” tanya Gavin.
“Saat itu aku baru pulang kuliah tapi tiba-tiba di culik. Aku baru sadar saat sudah ada di dalam tempat yang gelap, aku bahkan nggak sadar kalau ada kamu di sana. Tiba-tiba badan aku panas, aku ngerasa gerah dan--" tenggorokan Nara tercekat, tak mampu melanjutkan kata-katanya.
Gavin mengerti dan muncul perasaan bersalah. “Ma-- maaf, aku jadi bikin kamu mengingat masa lalu ... ”
"Nggak apa-apa, sudah lama dan aku tidak terlalu memikirkannya. Cuma terkadang masih terasa sakit jika mengingat hari itu ... "
“Tapi apa kamu nggak merasa kejadian malam itu sedikit janggal? Atau ada yang aneh?” Gavin kini sudah berhadapan dengan Nara, obrolan mereka semakin panjang dan membuat kecanggungan mereda.
“Aku juga nggak tahu, tapi aku tetap merasa ada yang aneh. Aku jelas-jelas sudah mencari mu selama beberapa tahun tapi tidak menemukan hasil. Jika aku tahu kamu hamil, pasti aku akan langsung menikahi mu dan tidak akan menikahi Jovanka,” Gavin mengembuskan napas berat, perjuangannya dalam mencari keberadaan perempuan malam itu memang tidak membuahkan hasil, makanya ia merasa ada yang janggal.
“Bukankah kamu orang kaya? Dengan uang apa masih tidak bisa menemukan aku?”
“Aku sudah berusaha bahkan uangku habis banyak tapi tetap tidak berhasil. Seperti sudah di rencanakan, tapi aku tidak tahu persis kenapa kejadiannya bisa sampai begini,” Gavin berusaha berpikir kembali, ia butuh waktu untuk menyembuhkan diri dan baru bisa mencari saat kondisinya pulih.
“Sudahlah ... Kalau mau jadi detektif lebih baik besok saja, sekarang sudah malam, bahkan hampir tengah malam. Aku sudah ngantuk ... ” Jam memang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, Nara menguap dengan mata yang sudah mulai terasa berat.
“Tidurlah ... Aku akan tidur di sofa,” kata Gavin membuat Nara mengernyit.
"Kenapa di sofa?"
"Biar tidurmu nyenyak dan nggak merasa terganggu," Gavin mulai bangkit dan turun dari kasur, tapi Nara mencegahnya dengan memegang pergelangan tangan Gavin.
__ADS_1
“Aku nggak akan terganggu. Tidur di sini saja, lagipula kalau tidur di sofa besok badanmu sakit semua apalagi leher.”
“Kamu yakin?” Nara mengangguk, bagaimanapun juga mereka suami istri, Nara mana tega membiarkan seorang pria yang statusnya sebagai suami tidur di sofa.
Sudah tempatnya sempit, tidak akan cukup untuk kaki Gavin yang panjang dan belum tentu posisinya akan nyaman.
“Baiklah, tapi jangan salahkan aku jika aku ngapa-ngapain ... ” kata Gavin dengan semangat langsung merebahkan tubuhnya di kasur.
Nara mendelik. “Mas Gavin sudah janji!”
"Hahaha ... Aku bercanda. Ya sudah, kamu tidur. Kalau nggak percaya juga, aku kasih bantal guling di tengah-tengah.” Gavin segera mengambil bantal guling dan menaruhnya di tengah-tengah mereka.
Tanpa kata Nara langsung merebahkan dirinya, tubuhnya terasa lelah dan pegal-pegal membuat Nara tidak butuh waktu lama untuk tidur. Berbeda dengan Gavin yang sedang memikirkan tentang obrolannya bersama Nara barusan.
Ini tentang malam lima tahun yang lalu, dari pembahasan mereka Gavin merasa semakin yakin kalau ada sesuatu yang salah mengenai kejadian itu. Gavin menatap langit-langit kamar, tangannya terulur mematikan sakelar lampu dan menggantinya dengan lampu tidur.
Cahaya kamar menjadi remang-remang, Gavin menoleh ke samping, dimana istrinya sedang tertidur. Wajah cantik tanpa make up membuat Nara terlihat berbeda apalagi ketika tidur.
Bibirnya menyunggingkan senyum, ada rasa bahagia di hatinya hari ini. Lebih bahagia dari hari kemarin-kemarin.
.
.
.
bersambung
eittsss, jangan tertipu dengan judul😌
__ADS_1