Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Sebuah Tamparan


__ADS_3

Keesokan harinya, saat waktunya jam makan siang, Jovanka melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Tujuannya ingin ke butik Nara, memberi pelajaran pada wanita yang dia anggap tidak tahu malu.


Semalam, karena terlalu marah Jovanka sampai ketiduran, bahkan ia tidak tahu apakah Gavin pulang atau tidak. Karena pagi ini, Jovanka pun belum melihat Gavin di rumah.


Saat bertanya pada ibu mertuanya, Helen malah bilang kalau Gavin baru saja pergi. Ada perasaan lega saat itu, tapi tetap saja karena ia belum bertemu dengan suaminya semalaman.


Hubungannya dengan Gavin memang belum ada kemajuan, di tambah kedatangan Nara dalam hidup mereka, maka makin bertambah lah kerenggangannya dalam berkomunikasi dengan Gavin.


Pria itu begitu acuh tak acuh padanya, sedangkan pada Nara, dia malah bersikap baik dan lembut, padahal mereka bertemu belum lama.


Dalam benak Jovanka, pasti Gavin akan pergi ke butik Nara siang ini, dan Jovanka ingin sekali memberi pelajaran pada wanita itu.


Sesampainya di butik Nara, Jovanka langsung menerobos masuk, matanya berkeliling mencari keberadaan Gavin juga Nara, tapi tidak menemukan adanya mereka.


“NARAA!!!” panggil Jovanka dengan suara keras, tak peduli dengan beberapa orang yang terkejut juga keheranan.


“NARAA!!”


Mungkin karena Nara tidak ada di sini jadi Nara tidak muncul, Indi yang kebetulan berada di dekat Jovanka pun segera mendekat.


Saat melihat wajah Jovanka, seketika Indi ingat dengan seorang pelanggan yang pernah marah-marah di sini.

__ADS_1


“Maaf, anda mencari siapa? Bisakah tidak teriak-teriak di sini? Anda mengganggu pelanggan lain,” ujar Indi yang langsung membuat Jovanka menatapnya sinis.


“Cih! Kamu tidak mendengar aku tadi memanggil atasanmu? Sekarang di mana wanita itu?” tanya Jovanka menatap Indi tajam. Kedua tangannya menyilang di dada.


Indi menelan ludah, buset, galak amat ni orang. Ngapain juga dia nyariin mbak Nara?


“Mbak Nara sedang tidak ada di sini, mereka lagi keluar nyari makan siang, jadi kalau berkenan Anda silahkan menunggu atau bisa pulang dan ke sini lagi nanti.”


“Kamu mengusirku?”


“Saya nggak ngusir, tapi memang kenyataannya mbak Nara lagi nggak ada di sini, jadi Anda tidak bisa menemui mbak Nara,” Indi mengendikkan bahunya.


“Kamu—” belum sempat Jovanka bicara, Nara datang.


Jovanka menoleh, melihat ke arah Nara yang baru saja memasuki butik. Matanya tiba-tiba memerah, tangannya mengepal saat melihat Nara datang dengan Gavin juga kedua anak Nara.


“Jovanka?” suara Gavin terasa tercekat, ia begitu terkejut melihat adanya Jovanka di sini. Lalu matanya beralih pada Nara, melihat reaksi wanita itu, tapi wajah Nara biasa saja.


Saat Nara sudah berada di dekat Jovanka karena ingin pergi Jovanka segera menarik tangan Nara yang sedang menggandeng kedua anaknya.


Rasa marah yang sudah di tahan sejak tadi pun bertambah karena melihat Nara ternyata pergi bersama suaminya, Jovanka membuat Nara mengahadap ke arahnya, lalu ...

__ADS_1


“PLAK!!”


Satu tamparan dari Jovanka mendarat di pipi mulus Nara, membuat beberapa orang di sekitar terkejut dengan apa yang di lakukan Jovanka. Tak terkecuali Gavin juga kedua anaknya, jangan lupakan Kiki yang baru saja memasuki butik.


“Nara!!”


“Bunda!!”


Kiki segera berlari menuju ke arah Nara, memegangi tubuh Nara yang sedikit terhuyung karena Jovanka melepas cengkramannya dengan kasar.


Kiki menatap tajam ke arah Jovanka, berpikir dalam benaknya bahwa Jovanka ternyata berani bermain kasar, lalu tatapannya beralih pada Gavin yang sedang berdiri mematung.


Matanya pun melototi pria itu, pria yang telah membuat Nara menderita. Benar kata Nara, tidak mungkin Nara bisa bersama dengan Gavin, karena pria itu sudah memiliki istri.


Apalagi jika keadaannya sudah begini, pasti Nara lagi yang akan menjadi korban, juga kedua anak Nara yang menjadi incaran keluarga Gavin. Kiki juga tahu seberapa bencinya Jovanka pada Nara karena mengira kalau Nara telah merebut Gavin.


“Tante Jahat! Tante jahat banget, Tante udah mukul Bunda,” Nessa maju, berdiri di depan Jovanka, matanya sudah berkaca-kaca karena melihat Jovanka menampar Nara dengan keras.


Nessa pun membalas Jovanka dengan memukul kakinya, merasa risih dan juga sedikit sakit, Jovanka menghempaskan tubuh Nessa sehingga Nessa terjatuh ke lantai.


Gavin pun kembali dikejutkan dengan tindakan Jovanka yang berani bersikap kasar pada anak kecil, ia pun segera menghampiri Nessa yang sedang menangis kesakitan.

__ADS_1


“Jangan nangis, ada Ayah di sini,” ucap Gavin sambil memeluk Nessa, lutut Nessa sedikit lecet dan mengeluarkan darah, pantas saja anak ini menangis.


“Ayah, Tante jahat mukul Bunda, Bunda kesakitan,” ucap Nessa yang masih sesegukan, dalam pelukan Gavin ia menangis, masih memikirkan Nara. Sedangkan lututnya pun masih berdarah.


__ADS_2