Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Kehamilan Ke-dua


__ADS_3

"Huwekkk ... "


Nara lagi-lagi mengeluarkan isi perutnya, di bantu Gavin dengan memijat tengkuk. Nara terus muntah bening karena isi perutnya sudah habis terkuras. Gavin nampak sangat khawatir, tapi tak ada yang bisa dia lakukan.


"Apa masih mual?" Gavin mematikan kran dan mengambil handuk dari gantungan lalu mengelap wajah Nara yang basah.


Hidung wanita itu memerah, kedua matanya juga. Kehamilan kedua ini sangat menyiksa Nara, walaupun dulu juga pernah tapi kehamilan kali ini lebih parah, mungkin karena sekarang Nara mempunyai suami.


"Masih, Mas," Nara terlihat lemas, dengan segera Gavin menggendong Nara dan membawanya ke atas ranjang.


Pria itu sudah menggunakan pakaian rapi, hendak ke kantor tapi dia urungkan niatnya saat melihat Nara muntah. Dua minggu lalu Nara memberikan kabar bahagia untuk seluruh keluarga terutama Gavin, empat bulan menikah akhirnya Nara hamil.


Setelah di periksa, usia kandungan Nara sudah enam minggu, berarti sekarang sudah pas dua bulan. Tapi, yang Gavin tidak ketahui adalah kalau seorang wanita hamil akan mengalami morning sickness. Dan itu sangat menyiksa istrinya.


"Biar aku telepon dokter, ya? Kamu pucat," kata Gavin.


"Nggak perlu, Mas. Kamu 'kan mau ke kantor, mendingan pergi aja." Nara mengibaskan tangannya menyuruh Gavin pergi, tapi Gavin tidak mau. Ia sangat khawatir dengan keadaan Nara saat ini.

__ADS_1


"Tapi kamu gimana? Aku takut kamu kenapa-napa."


"Aku nggak akan kenapa-napa. Aku sudah pernah ngalamin jadi udah tahu. Mas mendingan kerja aja, sudah tiga hari Mas Gavin di rumah terus, kasihan asisten Mas Gavin kalau setiap hari di suruh nanggung kerjaan Mas."


Perkataan Nara membuat Gavin merasa bersalah. Ingatannya soal masa lalu membuat Gavin baru menyadari, bahwa dulu Nara sangat tersiksa. Apalagi ketika tahu Nara sering meminta ini itu di malam hari, tak bisa dia bayangkan dulu bagaimana Nara bisa menahan keinginannya.


"Ya sudah, aku kerja dulu. Biar aku suruh Mama jagain kamu. Nanti siang aku juga akan suruh supir jemput anak-anak. Kamu istirahat saja, oh ya, apa ada yang kamu pengin?"


"Nggak ada, Mas. Aku cuma mau Mas Gavin cepetan pergi," hardik Nara membuat Gavin melotot.


"Kamu nggak suka aku di rumah?" tanyanya tak percaya.


Gavin tercengang, baru kali ini dia di usir Nara. Dengan berat hati Gavin menuruti kemauan Nara dan segera pergi dari rumah yang dia beli tiga bulan yang lalu.


Gavin dan Nara tak tinggal di rumah Helen setelah satu bulan menikah. Pria itu ingin punya rumah sendiri, walaupun tidak tega karena mamanya sendirian di rumah lama, Gavin terpaksa melakukannya.


Tapi untungnya Helen mendukung keputusan Gavin, wanita separuh baya itu merelakan menantunya pergi dari rumah dan mempunyai rumah sendiri dengan Gavin. Asal setiap satu minggu sekali Nara dan anak-anak akan pulang ke rumah lama.

__ADS_1


Gavin masuk mobil, ada supir yang mengemudi, Gavin duduk di jok belakang. Jarak dari kantor dan rumahnya tak terlalu jauh, dua puluh menit sudah sampai kalau tidak macet.


Setelah memberitahu mengenai Nara pada Helen, Gavin belum juga bisa tenang. Wanita itu semenjak hamil juga menjadi sangat manja, ada apa-apa pasti ingin Gavin yang melakukan, tak bisa jauh darinya meski sebentar. Tapi, pagi ini Nara malah mengusirnya.


Gavin sampai di perusahaan, pria itu turun dari mobil. Hendak melangkah menjauhi mobil tapi ponselnya tiba-tiba bergetar. Ada nama Nara di sana. Segera Gavin angkat.


"Ada apa, Sayang?" tanya Gavin.


"Mas kapan pulang?"


"Eh, apa?" Gavin tidak salah dengar kan? Nara menanyakan kapan pulang?


"Mas, jangan lama-lama, ya," pinta Nara, nadanya terdengar sedih membuat Gavin tidak tega.


"Kamu mau apa? Biar aku belikan."


"Aku mau Mas Gavin ... pulang, Mas." Sisi manja Nara keluar, Gavin mengembus napas pasrah.

__ADS_1


Baru saja datang ke kantor tapi tiba-tiba di suruh pulang lagi. Akhirnya Gavin memilih sang istri, mengenai pekerjaan Gavin punya asisten dan sekretaris. Tak lupa di jalan dia mampir ke supermarket membeli makanan untuk Nara dan susu ibu hamil.


__ADS_2