Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Kekesalan Kiki


__ADS_3

Di butik, Nara duduk di sofa ruangannya. Berhadapan dengan Kiki yang masih terlihat kesal, napasnya ngos-ngosan, seperti habis lomba lari mengelilingi lapangan tujuh putaran.


“Huh! Ra. Awalnya gue pengen nampar dia lagi tapi kenapa gue malah jadi ngomong panjang lebar banget? Tenaga gue akhirnya habis gara-gara buat ngomong doang!” kesal Kiki, melipat tangannya di depan dada.


Nara meringis, “kamu tuh tadi ngomongnya kasar banget, Ki. Hebat, jarang-jarang aku liat kamu kayak gitu, tapi untungnya kamu nggak jadi nampar dia, kalau jadi pasti pipinya udah bengkak,” Nara mengacungkan dua jempolnya.


Bisa di bayangkan kalau tadi Kiki beneran nampar Jovanka dua kali, pasti pipi wanita itu akan bengkak. Kecantikannya pun akan hilang, di tampar satu kali aja sudah terasa sakitnya apalagi dua kali, tiba-tiba Nara memegangi pipinya yang dari di tampar.


“Huh! Gue malah nyesel, Ra. Gara-gara tadi nggak jadi nampar dia, gedeg gue sama perempuan kayak dia,” ucap Kiki.


Tak lama kemudian pintu terbuka, Indi datang dengan membawa baskom berisi air dan kain. “Nih, Mbak Kiki,” Indi memberikan baskom itu pada Kiki.


Kiki menerimanya, ia mulai mencelupkan kain ke dalam baskom berisi air dan memeras nya, ia mulai mengompres pipi Nara.


“Aduh, Ki. Pelan-pelan ihh, aku tau kamu lagi kesel, tapi jangan ke aku juga balesnya,” Nara memukul tangan Kiki yang memegang kain.


Kiki meringis, “iya, maaf. Aku nggak sengaja, beneran.”

__ADS_1


Kiki kembali mengompres pipi Nara, tapi dengan lebih lembut. Melihat pipi kanan sahabatnya yang berwarna merah, Kiki belum bisa menghilangkan rasa kesal di hatinya karena kejadian tadi.


Baru saja memasuki butik, Kiki malah melihat Nara di tindas. Mana mungkin ia terima, sebenarnya Kiki juga kesal dengan Nara. Jelas-jelas Nara bisa bela diri tapi dia malah diam saja saat Jovanka menampar nya.


Bagi Kiki, Nara sudah seperti saudara, mereka sudah kenal lama. Sudah saling tau kepribadian masing-masing, jadi saat Kiki melihat Nara di tampar tadi, emosinya langsung naik.


Hampir empat tahun ini Nara menderita, gara-gara kelakuan bejat laki-laki, Nara menjadi seperti ini. Padahal Nara tidak salah, tapi sahabatnya ini selalu di salahkan.


Nara hanya anak dari panti asuhan, harusnya bisa bahagia walaupun tanpa orang tua. Tapi semenjak dewasa, kehidupannya bertambah rumit. Berjuang sendiri untuk merawat anak kembar bukanlah hal yang mudah.


Terkadang Kiki sampai ingin menangis melihat Nara yang kesulitan dalam menjaga Nevan dan Nessa. Kiki juga hanya bisa membantu sedikit, sebisanya. Sebagai sahabat, Kiki akan selalu menyemangati Nara, menjadi sandaran saat Nara sedang sedih, apalagi seperti sekarang ini.


“Kamu tuh, Ra. Jadi perempuan harus tegas dong. Bilangin sama si Gavin, dia juga harus gentle, jangan lembek, ada istrinya dateng terus nampar kamu dia malah diem aja, kayak patung. Ihhhh kesel aku, sumpah.”


“Aduh! Kiki ... Kalau mau marah jangan sama muka aku, bukannya di obatin tapi malah di tambahin sakitnya. Niat nggak sih bantuin aku?” Nara menatap kesal Kiki, ia tau kalau Kiki sedang sangat kesal, tapi jangan pipinya yang jadi pelampiasan.


Di kira nggak sakit apa? Apalagi tamparan Jovanka kuat banget, tenaganya udah kayak istri dari mergokin suaminya selingkuh. Walaupun kenyataan dia nampar gara-gara suami, tapi dia bukan selingkuhan.

__ADS_1


“Tanganku kebablasan, Ra. Sorry, hehehe,” Kiki menggaruk belakang kepalanya, sudah selesai membantu Nara mengurangi rasa sakit, di pipi. Bukan di hati.


“Aku nggak mau bilang makasih, kamu udah bikin pipi aku jadi sakit lagi,” densus Nara.


“Nggak bilang makasih sih nggak apa-apa, Ra. Tapi masa nggak dapet imbalan dari bantuin kamu bales perbuatan mak Lampir,” Kiki menengadahkan tangannya, Nara menatap Kiki kesal.


“Ternyata bantuin aku cuma mau imbalannya, sahabat laknat kamu!!” ucap Nara kesal, tapi tangannya mengambil tas di samping tempat duduknya, mencari dompet dan memberikan uang pada Kiki.


“Nih, buat jajan di Alfamart, tapi ajak anak-anak juga. Aku mau lanjut kerja,” Nara menyerahkan uang dua ratus ribu pada Kiki.


Kiki menyipitkan matanya, “kok gue ngerasa lu manfaatin gue, ya. Ngasih gue duit tapi lu juga nyuruh gue ngasuh anak-anak.”


“Enggak lah, Ki. Bentar aja kok, jam tiga nanti kamu anterin anak-anak sama aku, terus nanti malem aku traktir bakso deh,” ucap Nara sambil menahan tawa.


Kerjaan di butik lumayan banyak, mumpung Kiki lagi nggak sibuk, Nara bisa menitipkan anak-anak sama Kiki. Jadi nggak rugi juga dia ngasih duit ke Kiki. Soal makanan, Kiki nomor satu, bakso sebagai imbalan tambahan sudah cukup.


“Walaupun gue curiga sama lu, tapi nggak apa-apalah, lumayan buat ngemil sama nonton bareng anak-anak. Tapi inget, bakso beranak nya satu porsi, es teh jangan lupa. Nanti malem gue ke rumah lu buat nagih, takutnya lu lupa,” ucap Kiki sambil menaruh uang pemberian Nara di dalam tas.

__ADS_1


“Iya, Ki. Aku orangnya nggak pelupa kayak kamu!”


“Ya udah, lah. Gue pamit dulu sama anak-anak, jangan di senggol tuh pipi, nanti tambah merah tau rasa lu,” Kiki melambaikan tangannya ke Nara, lalu keluar dari ruangan bersama anak-anak.


__ADS_2