
Sesampainya di rumah, Jovanka segera masuk ke dalam kamar, tidak memperdulikan ibu mertuanya yang sedang menonton televisi dengan majalah di pangkuannya, dan menatapnya dengan heran.
Jovanka juga merasa kalau ibu mertuanya juga mengetahui sesuatu, ia segera mengeluarkan ponselnya dari tas. Menelpon seseorang.
“Halo.”
“Iya, Nyonya?” jawabnya di sebrang sana.
“Saya ingin kamu menyelidiki tentang kegiatan Gavin selama seminggu terakhir. Dan juga apa yang Gavin lakukan selama di Bali minggu kemarin, oh, satu lagi, kamu cari tau apa hubungan Gavin dengan Nara, nanti akan saya kirim fotonya.”
“Saya beri kamu waktu sampai sore hari ini, jika tidak bisa, jangan harap kamu bisa kerja sama saya lagi!!”
Tanpa menunggu lawan bicara mengeluarkan suara, Jovanka langsung menutup panggilan telponnya. membanting ponselnya ke atas ranjang dengan kesal.
Hari ini ia seperti mendapat kejutan besar, awalnya ia ingin pergi ke kantor Gavin dan mengajak pria itu makan siang, tapi setelah melihat Gavin ingin pergi keluar, Jovanka memutuskan untuk mengikuti kemana Gavin pergi.
Ternyata Gavin pergi menemui Nara dan kedua anaknya, dan juga tadi, Jovanka mendegar dengan jelas kalau Nessa memanggil Gavin dengan sebutan 'ayah'.
Setelah itu, Jovanka kembali keluar dari kamar. Ingin menemui ibu mertuanya, tadi ia melihat ibu mertuanya ada di ruang keluarga. Dengan cepat kakinya melangkah.
“Maa!!!” panggil Jovanka dengan suara yang cukup keras.
“Maa!!” tidak ada jawaban, sesampainya di ruang keluarga, ternyata Helen sudah tidak ada.
Jovanka berdecak, kenapa saat di cari malah menghilang?
Jovanka berbalik badan, ingin kembali ke kamar, tapi ia melihat ibu kepala pelayan sedang lewat, segera ia menghentikannya.
“Bi Ratih ... ”
Bi Ratih menoleh, “Iya, Non?” Bi Ratih berjalan mendekati Jovanka.
__ADS_1
“Bibi lihat Mamah, nggak? Tadi dia lagi duduk di situ,” tunjuk nya pada sofa yang tadi sempat di duduki oleh Helen.
“Saya nggak tau, Non, nyonya pergi kemana. Tapi saya lihat tadi kayaknya nyonya dapet telpon baru pergi,” jelas Bi Ratih.
Jovanka hanya menganggukkan kepalanya, ia pun melanjutkan langkahnya menuju kamar.
.
.
.
Sesuai perintah Jovanka, bawahan yang ia perintahkan untuk menyelidiki Gavin sudah ada di hadapan Jovanka. Jam tujuh malam, ia pergi dari rumah untuk bertemu bawahannya tanpa memberitahu Helen.
Di sebuah Coffe Shop, Jovanka duduk bersama seorang pria yang berusia sekitar empat puluhan tahun. Di meja tersedia dua cangkir kopi sebagai teman mengobrol.
“Bagaimana?” tanya Jovanka yang sudah penasaran.
“Bukankah saya sudah membayar kamu mahal? Lalu hanya untuk mencari apa hubungan mereka saja kamu tidak bisa,” ucap Jovanka sinis, ia menyesap kopinya yang masih panas.
“Ini memang aneh, saya tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi minggu kemarin Gavin tidak pergi ke Bali,” jawab pria itu yang ikut menyesap kopinya.
“Lalu?” Jovanka menyipitkan matanya, sekali lagi ia merasa mendapatkan kejutan.
Ternyata Gavin berbohong padanya, tidak pergi ke Bali karena urusan pekerjaan, lalu kemana perginya selama seminggu itu? Sampai di hubungi pun rasanya sulit sekali.
“Akan terlalu panjang kalau saya yang bicara, lebih baik Nyonya baca ini sampai selesai. Hanya ini yang bisa saya berikan, mengenai perintah Nyonya untuk mencari hubungan Nara dan Gavin, saya sudah berusaha.”
Pria bertopi itu memberikan beberapa berkas pada Jovanka, berisi penyelidikannya selama seharian ini. Ia hanya bawahan yang menuruti perintah, tidak ingin tahu terlalu dalam mengenai masalah rumah tangga atasannya.
“Baiklah, tidak masalah. Bayaran sudah saya tranfer ke rekening kamu. Kamu bisa pergi,” Jovanka menerima berkas dari pria itu.
__ADS_1
Setelah kepergian bawahannya, Jovanka pun ikut pergi untuk pulang ke rumah, rasa penasaran semakin besar, kebenaran apa lagi yang ia belum tahu, jawabannya ada di berkas hasil penyelidikan yang di bawanya.
.
.
.
Sesampainya di rumah, ia mempercepat langkah. Saat di dalam, ternyata keadaan rumah masih terlihat sepi, ibu mertuanya belum pulang semenjak pergi tadi siang, dan pria yang dia cintai juga belum pulang.
Hatinya tiba-tiba merasa panas, saat ia membayangkan kalau saat ini Gavin sedang bersama Nara dan kedua anak yang menyebalkan itu.
Saat sudah berada di dalam kamar Jovanka melempar tasnya asal, ia membuka berkas hasil penyelidikan. Di bacanya tiap kata yang ada. Matanya pun memerah saat sudah hampir selesai membaca seluruh isi kertas itu.
“Bren*sek!! Apa-apaan ini?!” Jovanka melempar berkas itu marah, dadanya bergemuruh, rasa panas menjalar, AC yang berada di ruangan seperti tidak berfungsi, keringat muncul di dahi.
“Jadi, minggu kemarin Gavin bukan pergi ke Bali tapi dia pergi ke rumah sakit karena anak Nara?”
“Gavin jadi pendonor untuk anak Nara? Dan ternyata anak Nara adalah anak dari Gavin? Kebetulan macan apa ini?” Jovanka menjambak rambutnya frustasi, lagi ia merasa seperti mendapatkan kejutan.
Gavin benar-benar telah menyembunyikan hal besar darinya, berbohong padanya untuk waktu yang cukup lama.
Satu hal yang membuat Jovanka terkejut adalah kalau ternyata Gavin dan Nara dulu pernah berhubungan sehingga membuat mereka memiliki sepasang anak kembar.
Berarti, perempuan yang di perkosa Gavin lima tahun lalu adalah ... Nara?
Jovanka tidak habis pikir, hanya kejadian satu malam tapi kenapa bisa Nara langsung hamil? Malahan sudah lima tahun terpisah tapi mereka bertemu lagi, Jovanka tiba-tiba tertawa.
Takdir memang lucu, ia yang sudah menikah dengan Gavin tapi belum sama sekali mendapatkan apapun dari pria itu. Tapi Nara?
Tidak, Jovanka tidak mau menyerahkan Gavin begitu saja, Gavin miliknya, bukan milik orang lain.
__ADS_1
“GAVINNN!!!!”