Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Boleh Kecewa?


__ADS_3

"Jawab dong, Ra! Tante udah nggak sabar banget pengen kamu jadi menantu Tante." Helen membuat raut wajahnya sesedih mungkin, Nara tentu jadi tidak tega melihatnya.


"Tan, akuu-- " Belum sempat melanjutkan ucapannya tiba-tiba terpotong saat seseorang datang.


"Permisi ... "


Nara menoleh. "Mas Joshua?" Panggilan itu jelas membuat seisi rumah menoleh, terutama Gavin, wajahnya tiba-tiba kesal karena merasa kedatangan Joshua sangat mengganggu dan waktunya tidak pas.


"Wah! Apa saya mengganggu?"


"Nggak mengganggu kok, Mas. Silahkan masuk! Oh ya, ada apa Mas Joshua ke sini?" tanya Nara setelah Joshua duduk di hadapan Nara. Begitupun dengan Gavin, dia ikut duduk di sebelah Nara, terlihat jelas raut wajahnya yang menahan kesal.


"Saya cuma ingin mengucapkan selamat ulang tahun buat Nessa sama Nevan sekalian ngasih kado. Nes, Van! Om minta maaf ya telat ngucapinnya, soalnya Om banyak kerjaan." Joshua memberikan Nessa dan Nevan masing-masing satu paper bag, dengan senang Nessa menerimanya, begitupun Nevan, senyum kecil dia tampilkan.


"Makasih, Om!" ucap keduanya.


Joshua mengangguk. "Kalau begitu kalian lanjutkan mengobrolnya, saya pamit dulu ... "


"Nggak mau minum dulu?" tanya Nara. Mendengar itu Gavin menggerutu kesal, dalam benaknya kenapa Nara harus menawarkan pria pengganggu itu untuk minum dulu. Biarkan saja dia pergi!

__ADS_1


Joshua menggeleng. "Nggak usah, Ra. Saya juga masih ada kerjaan, kesini cuma mau ngasih kado, saya pamit ... " ucapnya lalu pergi. Gavin bernapas lega, tanpa dia tahu kalau sejak tadi Fahmi selalu melihat berbagai perubahan raut wajahnya. Seringai tipis muncul tapi tak terlihat karena Fahmi tutupi bagian mulutnya dengan tangan.


"Ehem!!!" Gavin berdehem, Nara tersentak kaget. Helen menahan tawa begitu juga dengan Kiki yang sejak tadi hanya diam memperhatikan drama keluarga baru Nara.


Nara mengangkat alisnya bingung, Kiki mendekat lalu berbisik. "Gavin minta jawaban kamu! Masa kamu lupa? Saranku terima aja, kasian Gavin nanti kalau kamu PHP-in. Aku juga tahu kalau Gavin cinta sama kamu, dari tadi aku lihat dia kesel waktu kamu ngobrol sama tetangga baru kamu itu, cuma ya dia gengsi mungkin atau nggak tahu kalau sebenarnya dia suka sama kamu!


"Nikah sama Gavin masa depan kamu cerah, Ra. Nggak perlu kerja, dapat duit banyak dari suami. Bonus muka ganteng, beuhh ... Nikmat Tuhan mana lagi yang mau kamu dustakan, Nara!" bisikan Kiki cukup panjang, telinga Nara sampai panas mendengarnya. Apalagi ini pembahasan sudah mlenceng, campur-campur topiknya, jadi kemana-mana.


"Tapi aku nggak cinta!" Nara bersikeras.


"Urusan cinta belakangan, yang penting isi dompet sama wajah good looking dulu, kata pepatah, cinta datang karena terbiasa, jadi gampang. Pikirin anak-anak juga. Mereka butuh sosok ayah, kamu juga udah harus nikah, ingat umur!"


"Ehhh ... Aku mah gampang, dari lahir jomlo itu bukan karena aku nggak laku, tapi aku terlalu berharga buat di miliki, jadi nggak sembarangan orang bisa dapetin aku. Harus berusaha!" elak Kiki.


"Alasan!!" cibir Nara. Aksi bisik-bisik sahabat itu terhenti saat deheman kedua terdengar dari Fahmi.


"Kalian ini bisikin apa? Kenapa lama banget? Lupa kalau masih ada kami di sini?"


Nara dan Kiki sama-sama nyengir, mereka mengobrol sampai lupa kalau sudah kepanjangan. Padahal di situ masih ada orang lain, serasa dunia milik berdua katanya sih. Tapi beda versi.

__ADS_1


"Maaf, Kak. Lupa!" ucap Nara.


"Dari tadi Tante nungguin lho! Tante masih bisa sabar sedikit lagi buat denger jawaban kamu apa." Helen melipat tangannya di depan dada, memalingkan wajahnya tanda sedang merasa kesal.


"Ehh ... " Nara jadi merasa bersalah, terlalu asyik mengobrol dengan Kiki yang topiknya sampai kemana-mana tapi nggak ngebosenin, jadi suka bikin lupa waktu dan suasana bahkan kadang tempat.


"Maaf, Tante. Tapi kalau boleh jujur aku masih bingung!" saat itu juga raut wajah penuh harap dari Gavin luntur menjadi raut wajah kecewa. Jawaban Nara ini sudah seperti dia menolak lamaran tiba-tiba Gavin.


.


.


.


bersambung


Dikit? Emang sengaja hehee😁


maafkan untuk waktu updatenya, padahal aku pengen up tiap hari😭 semoga masih betah di sini, nemenin perjalanan bunda Nara sampai akhir. aku juga sadar kalo cerita ini kurang menarik, aku lagi berusaha buat memperbaiki agar lebih baik (Sok-sokan, padahal up aja jarang😒)

__ADS_1


dah lah, sampai ketemu di bab berikutnya, Happy Reading😚😚


__ADS_2