
Keheningan malam menemani perjalanan Gavin menuju rumahnya, melewati jalan yang sama seperti saat dia mengantarkan Nara pulang. Masih banyak mobil yang berlalu-lalang. Sesekali dia menyalip mobil yang ada di depannya.
Karena perjalanannya masih lama Gavin akhirnya menyetel musik. Menikmati lagu yang dia setel. Sampai di rumah musik baru dia matikan, gerbang di halaman terbuka. Mobil dia masukkan ke dalam garasi.
Kakinya melangkah memasuki rumah, dia melihat ibunya masih duduk di depan televisi sambil memegang sebuah majalah yang di letakkan di pangkuannya.
"Mamah belum tidur?" tanya Gavin sembari mendekat.
Biasanya tante Helen akan langsung memasuki kamarnya setelah makan malam usai, tapi kali ini tante Helen malah duduk santai di sofa dan di temani secangkir teh hangat.
Televisi menyala tapi tidak ada yang menontonnya. Tante Helen sibuk dengan majalah yang sedang dia bolak-balik.
"Oh, kamu udah pulang?" tanpa menjawab pertanyaan Gavin, tante Helen balik bertanya.
Membenarkan duduknya dan melipat majalah kemudian di letakkan di atas meja. Tante Helen menepuk-nepuk sofa yang ada di sebelahnya, menyuruh Gavin untuk duduk di sana.
Gavin mendekat, menurut untuk duduk. Dia tahu kalau mamahnya ingin mengatakan sesuatu. "Ada apa, Mah?"
"Gimana?"
"Gimana apanya?" tanya Gavin bingung, satu kata yang di ucapkan tante Helen tidak membuatnya langsung mengerti.
"Kamu udah anterin mereka sampai selamat 'kan?"
"Iya, nggak mungkin aku turunin mereka ditengah jalan. Mamah ada-ada aja," merasa aneh dengan pertanyaan mamahnya.
Gavin berdiri, dia ingin pergi ke kamar. Mengira kalau hanya itu yang ingin di bicarakan oleh tante Helen. Belum kakinya melangkah, salah satu lengannya sudah di tahan.
Gavin melihat tante Helen yang mengkode dirinya untuk duduk kembali. Gavin menurut, dia duduk kembali ke tempat semula.
__ADS_1
"Mamah mau tanya, kamu tau nggak siapa suami Nara? Terus tadi 'kan kamu dari anterin mereka pulang. Kamu lihat nggak mukanya suami Nara itu kayak gimana?"
Tante Helen bicara dengan suara yang pelan. Jika ada yang mendengar pertanyaannya termasuk Jovanka. Pasti wanita itu akan marah-marah tidak jelas, membuat tante Helen malas meladeni jika hal itu terjadi.
Terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh tante Helen, Gavin bingung bagaimana cara menjawabnya. Lagi pula untuk apa tante Helen bertanya tentang Nara. Nara adalah orang asing yang baru di kenal, dan urusan pribadi Nara dia tidak berhak tahu dan ikut campur.
"Kenapa diem?" pukulan mendarat di punggung Gavin, tante Helen tidak peduli jika Gavin akan merasa sakit atau tidak. Mendapati Gavin yang tidak langsung menjawab pertanyaannya, tante Helen merasa ada yang tidak beres.
"Eh, emangnya Mamah belum tau?" mengusap punggungnya yang terasa perih, Gavin baru tersadar dari lamunannya. Tak apalah dia memberi tahu sedikit tentang Nara pada Mamahnya, dia juga tak tahu banyak jadi akan menjawab apa adanya.
"Tau apa?" jiwa ke kepoan tante Helen tiba-tiba muncul. Dia ingin segera mendengar ucapan Gavin selanjutnya.
Tante Helen mendekat, lebih dekat dengan Gavin. Menatap Gavin dengan tatapan serius. Memangnya apa yang harus aku tau? batin tante Helen.
"Nara belum nikah, Mah. Dia nggak punya suami."
Satu kalimat yang di ucapkan Gavin membuat tante Helen diam mematung. Merasa terkejut, tidak menyangka kalau yang dia pikirkan selama ini ternyata benar.
"Oh iya, kamu udah dapet info tentang perempuan itu?"
Gavin menggeleng, "belum, Mah. Nggak ada jejak apapun tentang perempuan itu, aku juga heran."
"Tapi Mamah yakin kalau dia ada di deket kita, jadi kamu jangan nyerah. Siapa tau kalau dia punya anak dari kamu, Mamah 'kan jadi punya cucu."
Setelah mengatakan itu tante Helen berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Gavin sendiri. Terdengar suara tawa dari tante Helen, entah apa yang membuat mamahnya seperti itu Gavin tidak mengerti.
Dia ikut beranjak dari duduknya, melangkahkan kaki menuju kamar. Menaiki tangga satu persatu, lantai dua tempat yang di tuju. Gavin membuka pintu, melangkah masuk.
Sekilas dia melihat istrinya yang sedang memakai masker wajah, dan melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket, setelah pulang kerja dia tak langsung mandi.
__ADS_1
Setelah makan malam pun dia harus mengantarkan Nara sampai rumah dan menghabiskan waktu satu jam untuk bolak-balik. Hari ini Gavin merasa sangat lelah, pikiran maupun fisik.
Air hangat mengguyur tubuh Gavin, memejamkan mata dan tiba-tiba dia teringat pada Nara. Segera menggeleng, haish... apa-apaan aku ini.
Setelah merasa cukup dan lebih baik dari sebelumnya Gavin keluar dari kamar mandi menggunakan kimono. Berjalan menuju lemari pakaian dan mengambil satu setel piyama.
"Tadi dari mana?"
Suara Jovanka membuat Gavin menoleh, melihat istrinya yang sedang duduk santai di depan meja rias setelah menggunakan masker. Wajahnya memang biasa saja tapi Gavin tahu kalau Jovanka sedang marah.
"Dari nganter mereka bertiga." Yang di maksud adalah Nara dan kedua anaknya, Gavin merasa tak perlu menyebutkan nama. Jovanka pasti sudah mengetahuinya.
Gavin mengambil hairdryer di atas nakas dan mulai mengeringkan rambutnya, setelah selesai Gavin berjalan menuju kasur, duduk bersandar pada headboard.
Mengambil ponsel dan memainkannya. Dia tidak terlalu memperdulikan ada atau tidaknya Jovanka. Walaupun mereka tidur satu ranjang tapi Gavin tidak pernah melewati batasan padahal mereka adalah suami istri.
Tapi sering kali Jovanka meminta Gavin untuk melakukan 'itu' dan tanpa pikir panjang Gavin langsung menolak. Sering kali Jovanka akan marah-marah membuat Gavin pergi dari kamar dan menuju kamar tamu.
Baginya tidur sendiri lebih enak, pikirannya bisa tenang dan bisa beristirahat dengan nyenyak. Dari pada satu kamar dengan Jovanka yang hanya akan membuat kepalanya berdenyut sakit.
"Kenapa harus dianter? Mereka 'kan bisa pulang sendiri. Taksi masih banyak di luar. Lain kali nggak usah deket-deket sama mereka, aku nggak suka!"
Gavin menghela napas, lagi-lagi seperti ini. Saat ini dia sedang kelelahan tapi Jovanka tidak mengerti sedikitpun. Beruntung kesabaran Gavin masih banyak, jika tidak maka Jovanka akan dia usir dari kamar ini.
Jika tubuh sedang merasa kelelahan maka emosi menjadi tidak stabil dan jika sudah terganggu akan lebih mudah marah.
"Di suruh sama Mamah." Singkat dan jelas, Gavin tidak ingin berdebat sekarang.
Tidak betah dia berada di kamar, Gavin berdiri dan segera pergi keluar.
__ADS_1
"Mas!! Mau kemana?!"