
Kiki dan Fahmi pun ikut terkejut dan merasa khawatir dengan Nara, baru saja mereka ingin masuk tapi saat itu mereka melihat Nara sedang tidak sadarkan diri dalam pelukan Gavin.
“Astaga, Nara!” teriak Kiki langsung menghampiri Nara dan Gavin.
“Kenapa Nara bisa pingsan?” tanya Fahmi yang ikut mendekat.
“Aku juga nggak tau, Nara tiba-tiba pingsan pas aku lagi ngelamun gara-gara kaget denger kabar Nevan sama Nessa hilang,” jawab Gavin, ia mengangkat Nara dan menggendongnya.
Menaruh tubuh Nara di atas sofa, Kiki segera mendekat. Ia menepuk-nepuk pipi Nara, wajah Nara terlihat sedikit pucat.
“Ini pasti gara-gara Nara nggak makan siang, atau dia juga nggak sarapan tadi pagi. Huh! Ini anak emang suka bikin orang khawatir, dia nggak bilang kalau laper,” Kiki terus mendumel, seketika ia ingat dengan minyak kayu putih yang ada di tasnya.
“Barusan Nara bilang anak-anak hilang, bagaimana bisa?” tanya Gavin mulai merasa khawatir, ia mendekat ke arah Fahmi yang sedang duduk di kursi dekat meja kerjanya.
Nara datang tiba-tiba, saat masuk pun Nara langsung ke inti. Nara mengira kalau Gavin lah yang membawa kedua anaknya, tapi sebenarnya Gavin sama sekali tidak tahu apa-apa. Bahkan ia belum bertemu anak-anak seminggu ini.
“Saya juga tidak tahu, tapi yang pasti mereka di culik. Tadi siang saya ingin menjemput mereka berdua, tapi satpam bilang kalau mereka sudah pulang duluan. Mereka naik mobil hitam, mirip seperti punyaku,” ucap Fahmi yang sedang memikirkan sesuatu.
Setelah itu Gavin pun memanggil Rafli, asistennya. Meminta Rafli untuk menyelidiki keberadaan Nessa dan Nevan, melalui CCTV sekolah dan juga mencari siapa sebenarnya dalang penculikan kedua anaknya.
.
__ADS_1
.
.
Di belahan bumi yang lain, sebuah tempat yang cukup gelap, rumah yang di lapisi dinding kayu. Nessa terisak dengan kedua tangannya yang di ikat di belakang.
“Hishh, bisa diem nggak?!” ujar Nevan sedikit membentak, dia pun sama, kedua tangannya di ikat juga kedua kakinya.
“Hiks ... Aku takut, tanganku juga sakit,” Nessa tak mendengarkan ucapan adiknya.
Mereka berdua di ikat saling membelakangi, dengan tiang di tengah-tengah mereka, kaki juga tangan. Sejak tadi Nessa mencoba untuk melepaskan talinya, tapi terlalu kencang, alhasil tangannya yang terasa perih dan mungkin juga sudah lecet.
“Aku tau kamu takut, tapi jangan nangis. Air matamu nggak bisa buat lepasin tali di tangan kita! Mendingan kita pikirin gimana caranya biar bisa keluar dari sini, aku juga nggak bisa tahan lama-lama di tempat ini. Di sini bau, lantainya kotor!” ucap Nevan kesal, ia menatap jijik pada lantai yang di duduknya karena banyak debu dan juga terasa lembab.
“Ya udah, tangan kamu 'kan deketan sama aku, jadi tolong bukain nih talinya kalau bisa,” Nessa menyenggol jari Nevan, Nevan mengangguk setuju.
Dengan susah payah Nevan mencoba untuk membuka tali yang mengikat tangan kakaknya. Tapi karena tangannya pun di ikat, butuh waktu lama hanya untuk membuka satu ikatan tali.
“Hei! Kalian sedang apa? Mau mencoba kabur?” suara wanita yang sangat di kenali oleh Nessa dan Nevan, keduanya pun serentak menoleh ke arah Jovanka berada.
“Van, dia tante jahat,” kata Nessa lirih, Nevan hanya mengangguk tanpa berkata.
__ADS_1
Di sana, Jovanka sedang duduk di sebuah kursi kayu. Ia baru saja datang setelah mendengar kabar gembira, menurutnya. Rencananya berhasil. Tidak sia-sia dia mengeluarkan uang yang cukup banyak.
“Dia kayaknya mau balas dendam,” ujar Nessa lagi.
Nevan menghela napas kasar, begitu tahu siapa yang menculik mereka berdua adalah Jovanka, Nevan menjadi marah sendiri pada Gavin. Jika saja Jovanka bukan siapa-siapa Gavin, mana mungkin mereka berdua akan di culik seperti hari ini.
Jovanka menatap mereka dengan seringai liciknya, bisa dia bayangkan saat ini wajah panik Nara.
“Tante Jahat gila!!” teriak Nessa.
Jovanka menatap Nessa tajam, ia mendekat. Memegang kedua pipi Nessa dengan kencang sampai membuat Nessa meringis.
“Aku memang jahat tapi aku tidak gila! Aku melakukan ini pun karena ibu kalian berdua, cih!” Jovanka melepaskan tangannya cengkramannya dengan kasar.
Pipi Nessa terasa ngilu. “Aku tadi udah bilang, kenapa kamu bandel sih?” ujar Nevan sedikit khawatir.
Nessa diam, kedua pipinya terasa sedikit sakit.
“Kalian jaga mereka berdua, jangan sampai kabur. Aku akan pergi dulu,” kata jovanka pada beberapa anak buahnya sebelum dia keluar dari gubuk kumuh ini.
“Kita nggak bisa kabur,” ucap Nessa lirih setelah mendengar kata-kata Jovanka.
__ADS_1
“Bisa kalau kita nggak ketahuan,” balas Nevan, ia kembali mencoba untuk membuka Ikatan tali di tangan Nessa.