
Rumah sakit.
Di ruang perawatan yang terletak di lantai tiga, Nara menyelimuti tubuh Nevan menggunakan selimut menciumi pucuk kepala dan mengusapnya dengan sayang sebelum beranjak berdiri untuk duduk di sofa yang sudah dijadikan sofa bed.
Ditatapnya sekeliling ruangan, lampu masih menyala terang, tirai jendela belum tertutup, terlihat banyak bintang di atas langit. Lalu matanya beralih pada sosok yang kini sedang tertidur di ranjang pasien, dari kejauhan ia menatap wajah polos Gavin yang sedang tertidur pulas.
Sebuah senyuman terukir di wajahnya, tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini yang membuat Gavin bertemu dengan anak kandungnya yang terpisah selama lima tahun. Nara membaringkan tubuhnya disamping Nessa, ingin ikut masuk ke dalam mimpi, tapi tiba-tiba kedua kelopak matanya terbuka lebar saat ia mendengar suara seseorang melenguh.
“Kenapa kamu bangun?” tanya Nara sembari berjalan menuju ke arah Gavin, ia tidak jadi tidur karena mendengar suara Gavin yang baru bangun.
Nara membantu Gavin yang ingin duduk bersandar pada bantal, lalu mengambil air dan memberikannya pada Gavin. Sekali teguk, air langsung habis.
“Terimakasih,” Gavin mengembalikan gelas ketangan Nara dan menaruh kembali ke atas nakas.
“Kenapa malah bangun?” Nara mengulangi pertanyaannya, sekarang sudah pukul sepuluh malam tapi Gavin malah terbangun, harusnya tidur dengan nyenyak.
Kedua matanya pun sudah mengantuk, tapi ia ingat pesan tante Helen yang meminta dirinya untuk menjaga Gavin.
“Emm ... Aku, aku ingin ke kamar mandi, tapi agak susah buat berdiri,” ucap Gavin memalingkan wajah, berdehem setelah mengatakan alasan kenapa ia bangun sekarang.
Malu sebenarnya karena harus meminta tolong pada Nara, tapi apa boleh buat. Sudah tidak tahan lagi, ia ingin pergi ke kamar mandi. Jika ada mamanya pasti Gavin tidak akan minta tolong pada Nara.
“Kenapa nggak bilang? Ya udah, ayo saya bantu berdiri,” terlihat Nara menahan senyum.
Nara membantu itu Gavin berdiri, rupanya memang benar pria itu masih sedikit sulit untuk berdiri sendiri mungkin karena bekas operasi masih terasa sedikit sakit.
__ADS_1
“Kamu pegangan pundak saya, terus infusnya sini saya yang bawakan,” Nara meraih tangan kiri Gavin dan menaruh di pundaknya, lalu salah satu tangannya mengambil infus agar mudah saat berjalan nantinya.
“Eh, tangan kamu yang diinfus jangan diangkat ke atas, nanti darahnya ngalir. Saya nggak bisa bantu kalau darahnya naik ke atas, jadi perlu manggil perawat buat benerin, tapi sekarang udah malem, kasian perawatnya yang mau istirahat.”
“Kamu ini aneh, kalau jam segini masih banyak perawat yang lewat, mereka kan punya tugas sift malam, jadi nggak semua perawat udah pulang ke rumah buat istirahat,” Gavin menggelengkan kepalanya, merasa aneh dengan ucapan Nara. Sudah tugas perawat merawat pasien, tapi wanita ini malah merasa akan merepotkan.
Nara diam, tak membalas ucapan Gavin. Kalau dipikir-pikir lagi memang benar ucapan Gavin tadi. Ia sendiri menjadi bingung, entah hanya sekedar basa-basi agar suasananya tidak terlalu tegang atau memang ia tidak tahu karena belum pernah masuk rumah sakit, kecuali saat melahirkan Nessa dan Nevan lima tahun lalu.
“Udah, ah. Ayo!”
Setelah mengantar Gavin masuk ke kamar mandi, Nara berdiri di depan pintu. Menunggu pria itu selesai lalu membawanya kembali tiduran diranjang. Setelah lima menit, pintu kamar mandi terbuka, Gavin keluar dengan membawa infus, terlihat sedikit kesulitan.
Segera Nara membantu, sama seperti tadi. Gavin kembali bersandar pada bantal, ia meminta Nara agar jangan membaringkannya dulu. Ia sudah tidak mengantuk, jika terus berbaring hanya akan membuat kepalanya terasa pusing.
“Em ... Itu, apa aku boleh minta tolong satu kali lagi? ” tanya Gavin dengan ragu, ia merasa tidak enak dengan Nara, ragu juga karena takut kalau Nara tidak akan mau lagi dimintai tolong.
“Aku sedikit lapar, bisa tolong carikan makanan?”
Kruk ... Kruk ...
Baru saja bilang tapi perutnya sudah bunyi, dan itupun sampai terdengar ke telinga Nara. Aih, Gavin malu, ia segera memalingkan wajah dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Nara sudah hampir tidak bisa menahan tawanya, tapi ia berusaha agar tawanya tidak pecah. Bisa-bisa Nevan dan Nessa akan terbangun jika mendengar Nara tertawa keras.
Nara mengangguk, ia lalu ia pergi keluar untuk mencari makanan. Dia yang awalnya merasa sudah mengantuk tapi sekarang tidak lagi. Dengan memakai sweater tebal agar tidak kedinginan, Nara berjalan kaki keluar rumah sakit.
__ADS_1
Mencari penjual bubur yang dekat dengan lokasi, siapa tahu masih ada. Jika tidak ada maka Nara bisa mencari di rumah makan yang masih buka, itupun jika ada.
Tapi sepertinya Nara masih beruntung, ia kembali ke rumah sakit dengan membawa satu kantung plastik yang berisi dua porsi bubur ayam. Ia segera masuk ke ruangan, di lihatnya jam yang sudah pukul sebelas malam, sudah hampir tengah malam tapi mereka malah baru akan makan.
Sebenarnya Nara malas makan selarut ini, tapi melihat bubur ayam dengan wangi yang harum tiba-tiba membuat perutnya terasa lapar. Tidak apalah, sekali-kali makan tengah malam tidak akan membuatnya langsung gendut, pikirnya.
Nara mengambil satu porsi bubur yang diwadahi styrofoam, dan memberikannya pada Gavin. Pria itu menerimanya tapi tidak di buka, hanya dipegang saja.
“Kenapa nggak di makan?” tanya Nara bingung, bukannya tadi Gavin bilang lapar? bahkan perutnya sampai berbunyi tapi kenapa setelah di belikan malahan tidak di makan.
“Kamu nggak liat tangan kanan saya di infus?”
“Liat,” jawab Nara pendek, ia masih belum mengerti dengan maksud Gavin.
“Lalu apakah aku harus makan pakai tangan kiri?” Gavin mengangkat tangan kirinya dihadapan Nara.
“Ah, iya. Aku baru kepikiran, terus gimana?”
“Ya udah, kalau gitu kamu suapin aku.”
“Eh ... ”
Setelah Gavin mengucapkan beberapa kalimat, akhirnya Nara mau menyuapi dirinya makan. Bukan dia modus, tapi memang benar kalau ia sulit untuk makan menggunakan tangan kiri karena tangan kanannya sedang di infus.
Jadilah malam itu, malam penuh bintang dengan rembulan yang bersinar terang. Nara dan Gavin pertama kalinya masuk ke dalam obrolan panjang. Keduanya membahas soal yang perlu di bahas.
__ADS_1
Sampai Nara tidak sadar jika selain menyuapi Gavin, dirinya juga ikut makan menggunakan bubur dan sendok yang sama. Sampai saat satu porsi bubur habis, Nara kembali mengambil satu porsi dan kembali makan sembari menyuapi Gavin.
Tanpa disadari, malam itu, ada sebuah perasaan asing muncul di hati keduanya. Perasaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Mungkinkah ini awal dari hubungan mereka kedepannya?