Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Menunggu Dengan Cemas


__ADS_3

Waktu berjalan dengan cepat, tak terasa hari operasi sudah tiba. Genggaman tangan Nara eratkan pada putranya, mencoba memberi kekuatan pada Nevan yang saat ini sedang di landa gugup.


Masih berada di dalam ruang perawatan, dokter sedang mempersiapkan keperluan operasi. Gavin pun sama, ia sedang mempersiapkan diri. Tidak ada raut tegang atau gugup di wajah Gavin.


Semua sudah berkumpul, tidak hanya ada Nara namun juga ada tante Helen, ibu Mira, Kiki, Fahmi, serta Nessa yang kebetulan hari ini tidak sekolah.


"Bun ... " suaranya lirih, namun penuh dengan rasa takut. Nara semakin mempererat genggaman tangannya.


Memejamkan mata, bukan cuma Nevan yang takut, tapi dia juga. Dalam hati terus berdoa, memohon pada Tuhan agar operasi berjalan dengan lancar. Ia mau Nevan segera sembuh, kembali seperti semula.


Memiliki tubuh yang sehat, tidak akan merasakan sakit lagi. Melihatnya terus berlari dan tidak lagi terbaring di ranjang rumah sakit. Nara ingin semuanya, untuk kesembuhan Nevan.


"Nggak apa-apa, jangan takut. Kalau Nevan di obatin, Nevan bisa sembuh. Kalau nggak di obatin nanti Nevan sakit terus, kepala pusing sama mimisan. Nevan mau sembuh 'kan?"


Menganggukan kepala, menurut pada bunda agar jangan takut. Ia juga sudah bosan berada di rumah sakit, ingin cepat pulang. Tapi belum boleh karena dia masih sakit. Nevan ingin sembuh.


Saat dokter dan perawat datang, mereka membawa Nevan menuju ruang operasi. Nara dan yang lainnya mengikuti.


Di dalam ruangan khusus untuk operasi, terlihat dari luar pintu, Gavin sedang berbaring di ranjang, memakai pakaian yang khusus serta salah satu tangannya sudah di pakaikan jarum infus.


Pintu tertutup, Nara menyentuh pintu yang terdapat kaca kecil. Tirai berwarna hijau di tarik. Sudah tidak bisa melihat ke dalam lagi. Lampu di atas pintu menyala, tanda operasi sudah akan di mulai.


Dada berdebar dengan kencang, kepala ia tempelkan di pintu yang tertutup rapat. Memejamkan mata sembari menarik napas dalam-dalam.


Sentuhan di punggung Nara rasakan, ia menoleh. Melihat Kiki yang tersenyum padanya. Seolah bilang jangan khawatir, pasti semua baik-baik saja.


'' jangan berdiri terus, kakimu bisa kesemutan. Nanti nggak bisa berdiri siapa yang repot?"


Pukulan mendarat, yang di pukul hanya tertawa. Bukannya meringis sakit malah merasa senang bisa membuat sahabatnya kesal.


Nara mendengus, di saat sedih begini cuma Kiki yang masih bisa tertawa. Ia melangkah pergi meninggalkan Kiki, duduk di kursi panjang yang jaraknya masih dekat dengan ruang operasi.


Matanya terus menatap pintu yang tertutup rapat, kedua tangannya menyangga dagu. Air mata yang sejak tadi di tahan sudah tidak mampu untuk tidak keluar.

__ADS_1


Menetes tanpa di minta. Usapan lembut di pipi Nara rasakan, Kiki datang dan berjongkok di hadapannya, mengusap air mata yang mengalir di pipi sahabat, Kiki mengerti bagaimana perasaan Nara saat ini.


Ucapannya tadi hanya agar Nara tidak terlalu memikirkan tentang operasi Nevan, karena ia yakin kalau Nevan pasti akan sembuh dan operasi pasti berjalan dengan lancar.


Nyatanya tidak mudah untuk membuat perhatian Nara teralihkan. Kiki berdiri, duduk di samping Nara. Membawa Nara kedalam pelukan, Nara semakin terisak.


Terus mengusap rambut Nara, mencoba menenangkan. Bukan hanya Nara yang sedih, semua yang sedang menunggu keberhasilan operasi juga sangat sedih, gugup dan khawatir.


Pasti dalam hati mereka selalu memanjatkan doa, mengharapkan kesembuhan Nevan dan operasi yang berjalan dengan lancar.


"udah dong, jangan nangis. Aku jadi ikutan nangis 'kan, gara-gara kamu ihhh... "


"aku takut ... " Suaranya serak, sesegukan karena terus menangis.


"Iya, aku ngerti. Aku juga takut, tapi berdoalah biar lancar. Jangan mikir yang enggak-enggak dulu."


Masih terus berada dalam pelukan hangat seorang sahabat, Nara mulai mengontrol dirinya. Ia sudah tidak lagi sesegukan seperti tadi, tapi masih terus memeluk Kiki.


Hanya Kiki yang selalu mengerti bagaimana perasaannya saat ini.


"Hemm ... "


"Boleh tanya nggak?"


"Hemm ... "


Pukulan mendarat di punggung, yang memukul mendesis kesal. Yang di pukul diam saja, tidak meringis sakit ataupun tertawa.


"Boleh tanya nggak?" bertanya sekali lagi, nadanya terdengar kesal. Yang di tanya hanya menganggukan kepala.


"Sebenernya aku mau tanya dari waktu itu, udah beberapa hari yang lalu tapa selalu nggak ada waktu."


"Intinya aja!" memutar bola mata jengah, bicara terlalu bertele-tele membuat Nara malas mendengarnya.

__ADS_1


"Hehehe ... Aku nggak nyangka lho kalau ternyata ayahnya anak-anak beneran si dia," yang di maksud adalah Gavin, "Kamu hebat, Ra. Berani ngomong jujur."


Berbisik di telinga Nara, takut terdengar orang lain. Apalagi saat ini ada mamahnya Gavin, mana mungkin dia berani bicara dengan suara keras.


Plak!


"Itu bukan tanya namanya."


.


.


.


.


Waktu terasa berjalan dengan lambat, sudah tiga jam lebih mereka menunggu. Tapi masih belum ada tanda-tanda operasi sudah selesai.


Raut wajah khawatir Nara tidak bisa di tutupi, sejak sepuluh menit yang lalu Nara terus saja mondar-mandir tidak jelas. Menggigit ibu jari, kakinya melangkah kesana kemari.


Sampai beberapa saat setelahnya, lampu yang menyala akhirnya padam. Menandakan operasi sudah selesai. Nara berhenti, ia mematung di tempat, dadanya tiba-tiba berdebar dengan kencang.


Saat pintu terbuka dokter keluar, melepaskan masker yang masih terpasang. Raut wajahnya sulit di tebak, Nara mendekat, penasaran dengan hasil yang di berikan.


"Gimana, Dok?"


"Syukurlah, operasinya lancar. Tidak ada halangan apapun selama di dalam tadi."


Berbinar bahagia, air mata kembali mengalir. Bukan air mata kekhawatiran tapi air mata bahagia.


"Apa saya boleh masuk untuk melihat?" Nara sudah tidak sabar. Dokter terkekeh melihatnya.


"Sekarang belum bisa, kami akan pindahkan mereka ke ruang perawatan. Baru setelah itu kalian boleh menjenguk."

__ADS_1


Walaupun sangat ingin, tapi mereka tetap mengikuti perintah dokter. Nara berulang kali mengucap syukur. Ada kelegaan di sudut hatinya, sungguh hari ini Nara merasa ingin terus menangis.


Akhirnya putranya akan sembuh, Nara terus menangis dalam hati yang bahagia.


__ADS_2