
Waktu makan siang hampir tiba, masih banyak orang berkumpul di rumah Nara. Belum ada yang pulang. Sehingga Helen berinisiatif untuk makan siang bersama.
Mereka bertiga memasak bersama, Nara, Kiki dan Helen. Sedangkan Fahmi dan ayahnya sedang duduk di sofa depan televisi. Awalnya mereka ingin pulang saja, tapi Helen melarang, katanya mumpung kumpul bareng, sekali-kali makan bareng juga.
Saat semua masakan hampir siap, kedua anak Nara pulang, bersama dengan Gavin tentunya. Kedua anak itu sama-sama mengerutkan dahi saat melihat orang asing ada di rumah mereka.
Dengan cepat keduanya bergegas pergi ke dapur. Ingin menanyakan siapa pria paruh baya yang sedang duduk di depan.
"Itu ... Kakek kalian," kata Nara sambil menghembuskan napas, bagaimanapun juga, ini begitu tiba-tiba, Nara tidak siap sama sekali bahkan tak pernah menyangka akan ada hari ini, dimana ia tahu identitasnya sebenarnya.
"Kami punya kakek?" tanya kedua anaknya polos, ah bukan mereka berdua saja yang berpikir begitu.
Sejujurnya Nara juga sama, tak menyangka ia akan punya ayah, di tambah bonus kakak laki-laki yang sudah ia kenal cukup lama.
"Iya, " jawab Nara sekenanya, ia sendiri bingung ingin menjelaskan bagaimana.
"Anak-anak... Udah dong sesi tanya jawabnya, sekarang waktunya makan siang, nanyanya bisa nanti habis makan. Sekarang Tante udah lapar, mendingan kalian berdua panggil tuh tiga laki di dapan ... " celetuk Kiki yang sudah standby di kursinya.
"Iya Tante ... " Jawab keduanya, lalu mereka pergi memanggil semua pria yang di sebutkan Kiki tadi.
Makan siang kali ini terasa sangat ramai, beruntungnya, meja makan Nara cukup besar, kursinya pun pas-pasan untuk mereka ber delapan. Di tambah dengan menu makan siang yang sangat menggoda lidah.
.
.
__ADS_1
.
Waktu cepat berlalu, beberapa hari setelah kebenaran tentang siapa Nara sebenarnya, ayah Irwan selalu datang setiap harinya. Beliau menggantikan Fahmi yang sebelumnya mengantar jemput Nessa dan Nevan ke sekolah.
Nara masih belum merasa nyaman sebenarnya, namun mau bagaimana lagi?
Setelah makan siang waktu itu, Nara sampai ingin mereka melakukan tes DNA, rasa tidak percaya membuatnya sedikit keras kepala. Tapi tak ada penolakan dari Fahmi maupun ayahnya.
Mereka melakukan tes DNA sehari setelahnya, dan kemarin hasilnya baru keluar. Kali ini Nara benar-benar percaya bahwa ternyata ia memiliki serang ayah kandung setelah membaca hasilnya.
Karena kesibukan di dunia kerjanya, membuat Nara tidak terlalu memikirkan keadaan sekitarnya. Dia juga bisa lebih tenang meninggalkan kedua anaknya karena saat pulang sekolah mereka akan bermain bersama Irwan.
Ah, dia bahkan hampir lupa untuk memberitahu ibu Mira, tentang kebenaran ini. Tidak tahu bagaimana reaksi beliau setelah mendengar ini.
Tidak berbeda dengan Gavin, pria itu pun sama sibuknya dengan Nara. Selain masalah perusahaan yang ia tangani, tidak lupa dengan kasus Jovanka. Serta keputusan Jovanka tentang surat cerai itu.
Sore itu, setelah menyelesaikan pekerjaan di kantor, Gavin memacu kendaraannya menuju kantor polisi. Tentu tujuannya berniat bertemu dengan Jovanka. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit.
Padahal jam kunjungan sebentar lagi akan tutup, tapi Gavin baru sampai. Sekarang dia duduk berhadapan dengan Jovanka, Gavin menatap miris Jovanka, keadaan wanita itu tidak lebih baik dari sebelumnya saat belum di penjara.
Pakainya pun sudah di ganti dengan pakaian khusus tahanan. Belum lagi dengan rambut Jovanka yang acak-acakan, wajahnya tirus, tubuhnya semakin kurus.
Gavin bisa menebak bahwa Jovanka tidak makan dengan benar.
"Bagaimana kabarmu?" setelah hening cukup lama, Gavin memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Kamu bisa lihat sendiri," Jovanka mengangkat bahu, ia tersenyum kecut menatap Gavin.
"Kamu semakin kurus, pasti tidak makan dengan benar ... " Gavin merasa canggung, ia beberapa kali berdehem untuk menetralkan suasana.
"Makanan disini tidak enak, tidak ada rasa ... Lagian, apa selama ini kamu peduli tentang makananku?" ucapnya lalu mengalihkan pandangan.
Gavin tersenyum kecut, "Bagaimana jika aku datang setiap hari dan bawain kamu makanan? Biar kamu bisa lebih gemuk dan nggak pucat juga ... "
Kali ini Jovanka menatap Gavin lekat, "Sudahlah, tidak perlu. Lagipula sebenarnya kamu ke sini hanya ingin menanyakan tentang surat cerai kan?"
Gavin terdiam, karena memang kenyataannya begitu, ia ke sini hanya ingin bertanya tentang surat itu. Sudah di tandatangani atau belum.
"Maaf ... " kata itu keluar begitu saja dari mulut Gavin.
"Kenapa minta maaf? Kamu tidak salah, harusnya aku yang minta maaf, tapi kamu tenang saja, mengenai surat itu aku sudah membuat keputusan," Jovanka menghela napas berat, bagaimanapun, kali ini nasibnya sangat sial, apalagi ini adalah pertama kalinya Jovanka masuk penjara.
.
.
.
bersambung
maaf kalau banyak typo bertebaran 😭
__ADS_1
makasih yg udah mau mampir🤧
lop lop buat kalian 😘🤧