
Warning!
Di mohon untuk bacanya pada malam hari, bagi yang masih jomlo itu salahmu sendiri! Sudah nasib dan sebaiknya di terima dengan lapang dada. Bagi yang sudah nikah ya alhamdulillah🤣
.
.
.
"Padahal kamu sendiri yang bilang membutuhkan waktu, aku menurut saja. Tapi, apa sekarang kamu benar-benar siap?"
Nara menunduk malu, jemarinya saling bertaut karena gugup. Kemudian dia mengangguk membuat Gavin bersorak senang tapi dalam hati. Ia pegang wajah Nara membuat sang istri terpaksa harus menatapnya.
"Aku tanya sekali lagi, apa kamu siap?"
"I—iya, Mas. Aku siap, kok," ujar Nara sedikit terbata.
"Kalau begitu kamu harus siap-siap," Gavin tersenyum licik, di mata Nara terlihat menyeramkan. Nara menelan ludahnya kasar, perasaannya jadi campur aduk.
Gavin tak berkata lagi, pertama pria itu mengecup kening Nara cukup lama. Lalu turun ke bibir, memberi sedikit gigitan kecil agar Nara membuka mulutnya. Awalnya Nara terkejut lalu mulai mengikuti permainan Gavin, memejamkan kedua mata menikmati ketika lidahnya bertemu dengan lidah Gavin.
Hingga Nara merasa kehabisan oksigen, barulah Gavin melepasnya. Napas keduanya memburu, Nara melihat tatapan Gavin padanya sudah berbeda. Seperti singa yang kelaparan, membuat Nara bergidik kemudian memalingkan wajah yang sudah memerah.
"Lihat aku," kata Gavin.
__ADS_1
"Hemm?" Nara berpaling sehingga matanya bertemu dengan netra Gavin yang terlihat sayu.
"Beneran siap?" Gavin kembali memastikan, ia tak mau memaksa.
Nara hanya mengangguk, membuat Gavin tambah bersemangat. Dia tidurkan Nara sedangkan Gavin berada di atas Nara. Gavin mencium Nara lagi, tangannya tak tinggal diam. Mulai membuka kancing piyama Nara satu persatu.
Hingga sebuah benda berwarna merah yang terlihat seperti kacamata, tapi bentuknya bulat dan menonjol terpampang membuat Gavin menelan ludahnya kasar. Tanpa kata lagi Gavin membuka benda itu, sedikit kesulitan karena posisinya Nara berbaring tapi untunglah dia bisa.
Gavin hendak menyerang dua bukit kembar itu tapi Nara langsung menahannya. "Kenapa?" Gavin dan pembaca kecewa.
"Matikan dulu lampunya," pinta Nara. Wajah wanita itu sangat merah dan terlihat menggemaskan di mata Gavin.
"Oh iya," Gavin mematikan lampu kamar dan di ganti dengan lampu tidur yang cahayanya temaram.
Setelah itu, tanpa menunda lagi Gavin mulai mencium seluruh wajah Nara membuat wanita itu kegelian. Tak lupa bagian bibir yang menjadi favorit, lalu turun ke leher. Memberi tanda kemerahan hingga membuat Nara meringis nyeri.
Kembali lagi ke sini, Gavin mulai turun ke dua bukit kembar yang baru pertama kali dia lihat. Bukan pertama kali, tapi pernah punya Jovanka, sayangnya dia tidak nafsu dan biasa saja. Lain dengan Nara yang mampu membuat Gavin kesulitan bernapas.
Seperti bayi yang kehausan, seperti itulah Gavin sekarang. Menyedot salah satu milik Nara walaupun tidak ada isi, salah satu tangannya meremash benda satunya. Membuat Nara tak tahan, wanita itu mencengkram sprei kadang mengusap rambut Gavin hingga acak-acakan. Menekan semakin dalam, keduanya sudah merasakan panas walaupun AC menyala.
Sesuatu yang tegang membuat Gavin merasa sesak langsung di bukanya. Nara hampir menjerit melihat itu, membayangkan dulu pernah satu kali hingga membuatnya hampir trauma. Tapi, Gavin langsung mencium Nara, membiarkan istrinya rileks agar tak lagi ketakutan.
"Apa sakit?" Nara gemetar.
"Mungkin sedikit, walaupun sudah pernah tapi aku lupa rasanya. Tahan, ya. Nanti lama-lama nggak sakit lagi," Gavin mengelus rambut Nara, mengecup keningnya singkat.
__ADS_1
Perlahan Gavin menanggalkan semua yang melekat di tubuh. Hingga keduanya sudah tak berbusana. Gavin mengangkat selimut dan menutupi tubuh keduanya. Napasnya sudah memburu dengan jantung yang berdetak kencang.
Benda yang sudah tegak tapi bukan tiang bendera itu mulai memasuki gua yang masih tertutup rapat. Sang pemilik terus meringis sesekali tangannya mencengkram lengan kekar pemilik tiang, eh bukan. Membuat pria itu ikutan meringis.
"Mas, sakit!" keluh sang pemilik gua.
"Sabar, Sayang. Sebentar lagi," yang punya tiang juga sudah tidak sabar.
Sampai akhirnya tiang itu tertancap sempurna di gua yang sudah terbuka. Keduanya bernapas lega. Peluh keringat membanjiri padahal baru start. Mereka bermain entah berapa lama, Nara hanya bisa pasrah sesekali dia yang bertindak agresif. Hal itu membuatnya malu tapi tetap di lakukan.
Hingga ketika sang pemilik gua sudah tak sanggup lagi, barulah mereka berhenti. Seperti telah mendapatkan kemenangan pada ajang lomba balap lari, Gavin merasa amat bahagia. Meski peluh keringat membuat tubuhnya lengket, Gavin tak peduli.
Ia peluk tubuh polos sang istri, mengecup wajah itu terus-menerus membuat Nara kesal sendiri. Malam dengan rembulan yang bersinar terang menjadi saksi di antara dua manusia yang baru bermadu kasih hingga mencapai surga dunia yang hanya bisa di lakukan sepasang suami-istri.
"Makasih, Sayang."
"Hmm ... " Nara tak sanggup lagi, ia terlalu lelah juga matanya yang mengantuk. Tapi, Gavin menahan Nara agar tak memejamkan mata.
"Kenapa, Mas?" Nara melirik Gavin yang masih senyam-senyum sendiri.
"Jangan tidur, kita bersih-bersih dulu biar nyenyak tidurnya."
Nara hanya mengangguk, seluruh tubuhnya lelah apalagi di bagian tertentu. Tak sanggup berdiri hingga akhirnya Gavin menggendong Nara ke kamar mandi. Nara pasrah saja, dia pikir suaminya tulus membantu memandikan dia.
Tapi, pikirannya terlihat naif karena Gavin lagi-lagi melakukan 'itu' hampir setengah jam. Jika Nara tak menghentikan, Gavin tak sadar-sadar sudah membuat istrinya hampir tertidur di dalam kamar mandi.
__ADS_1
Malam itu, untuk pertama kalinya mereka tidur saling berpelukan. Dengan tubuh yang sama-sama lelah sampai bangun kesiangan. Tanpa peduli pada ketukan pintu yang terus terdengar. Seolah masih malam, keduanya saling menghangatkan diri lewat pelukan dalam selimut.
Oh, jangan lupakan hadiah pemberian Bina yang kini tak ada gunanya. Mungkin lain kali baru berguna. Nyatanya benda itu tak terlalu di perlukan untuk membuat dua orang bersatu.