
Suara alarm membangunkan Nara yang masih tertidur pulas. Perlahan kelopak mata itu terbuka, merasa terganggu dengan suara yang berasal dari ponsel miliknya.
Tangan Nara terulur mengambil ponsel yang ada di atas nakas, sambil melihat jam yang ternyata masih jam lima pagi. Alarm ini akan berbunyi setiap hari tanpa Nara setel ulang.
Nara letakkan lagi di tempat tadi, tiba-tiba dahinya berkerut saat merasa ada sesuatu yang menimpa perutnya. Pandangannya tertuju ke bawah, matanya terbuka lebar saat itu juga. Rasa kantuk yang mengganjal hilang begitu saja.
Entah bagaimana bisa tangan Gavin berada di atas perut, Nara menoleh ke belakang dan terasa embusan napas hangat di pipinya. Lagi-lagi Nara di buat kaget, jarak antara dirinya dan Gavin sangat dekat bahkan hampir menempel.
Nara kembali memalingkan wajah, pipinya panas. Ia juga heran, bukankah tadi malam mereka tidur berjauhan? Dan dimana bantal guling yang menjadi pembatas?
Tanpa berniat membangunkan Gavin, dengan perlahan Nara mengangkat tangan Gavin yang berada di atas perutnya, tapi justru hal itu malah membangunkan Gavin. Kedua mata pria itu terbuka.
“Ada apa?” tanya Gavin dengan suara serak khas bangun tidur.
Nara yang terkejut refleks menoleh, melihat Gavin yang seperti sedang mengumpulkan nyawa.
“Maaf, aku jadi membangunkan mu,” kata Nara merasa bersalah.
"Ehm ... Nggak apa-apa," Gavin kembali ingin memejamkan matanya.
“Mas ... ” panggil Nara, Gavin kembali membuka matanya.
“Mas kenapa bisa di sini? Di mana bantal gulingnya?” tanya Nara heran, Gavin mengernyitkan alis tanda berpikir, tapi sepertinya Gavin belum benar-benar sadar.
__ADS_1
“Aku buang.”
Nara melongo, ternyata Gavin yang membuangnya. Padahal tadi malam Gavin sendiri yang menaruh bantal guling itu.
“Tapi kenapa--”
"Ngobrolnya nanti saja, aku masih ngantuk ... " setelah itu Gavin benar-benar kembali tertidur.
Nara ikut merebahkan dirinya juga, rasanya pun masih sedikit mengantuk sedangkan tangan Gavin sudah di tarik pria itu sehingga tidak menimpa Nara lagi.
...⚫⚫⚫...
Pukul delapan pagi mereka baru terbangun. Tentu saja hal itu membuat orang salah paham. Nara dan Gavin pergi ke tempat sarapan dimana keluarga mereka berada.
“Ehem! Pengantin baru nih baru bangun,” celetuk Kiki mengundang tawa semua orang kecuali dua orang anak kecil yang tidak mengerti perkataan Kiki.
“Iya nih, kita sudah nunggu lama tapi mereka baru keluar ... ” timpal Helen, Nara dan Gavin sudah duduk di kursi, mereka bersebelahan.
“Kalian ini ngomong apa?” tanya Nara.
"Nggak ngomong apa-apa, kok. Cuma kamu yang tahu, kami nggak tahu apa-apa," ucap Kiki tapi hal itu justru membuat Nara semakin bingung.
Nara mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk. Lalu mengambil sendok, bersiap untuk makan. Kiki yang memperhatikan itu seketika berdehem membuat Nara mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Ra! Masa lupa sama suami? Ambilin tuh! Kasian udah laper, tenaga habis buat olahraga tadi malem ... "
“Olahraga apaan sih?” bibir Nara mengerucut tanda sebal, tentu ia tahu apa maksud perkataan Kiki.
Pelukan tadi pagi saja sudah membuat jantung Nara berdebar tak karuan, selain Gavin tidak ada pria yang menyentuh Nara. Kecuali ayah dan Fahmi. Apalagi jika lebih dari sekedar pelukan, Nara sudah merasa merinding duluan karena ia masih sedikit trauma.
Nara mengambil piring lain, mengisi dengan nasi serta lauk untuk Gavin. Diam-diam Gavin tersenyum, ini adalah kali pertama Gavin di layani seperti ini walau sudah pernah menikah dua kali.
Jovanka tidak pernah menjalani kewajibannya sebagai seorang istri kecuali dalam hal ranjang. Tapi sayang Gavin yang tidak merespon. Dua tahun Jovanka di anggurin untuk nggak jamuran.
Untuk kejadian bantal guling, Gavin memang sengaja membuangnya karena merasa terganggu. Tapi ia tidak sadar kalau sedang memeluk Nara, untung saja istrinya itu tidak berteriak karena ia telah melanggar janji.
Sarapan pagi di lalui oleh canda dan tawa tapi tidak untuk pasangan pengantin baru. Nara dan Gavin masih merasa canggung karena kejadian tadi pagi apalagi saat di kamar mandi.
“Kalian masih mau menginap di sini atau langsung pulang?” tanya Helen si sela-sela sarapan.
Nara menoleh ke arah Gavin, yang artinya menunggu keputusan Gavin. “Langsung pulang aja, Mah.”
“Jadi, kalian tinggal di rumah Mamah 'kan? Ngga pindah?” tatapan mata Helen penuh harap, Nara mengangguk begitu juga Gavin.
Tadi pagi mereka sudah membahas hal ini, Nara akan menjual rumah itu dan pindah ke rumah Gavin. Walaupun ada rasa sedikit tidak rela, tapi itu yang terbaik. Jika tidak di jual maka rumah itu akan kosong tidak ada penghuni. Jadi, lebih baik di jual.
“Kalau Mamah di tinggal sendiri, Mamah nggak ada temennya,” ucap Nara, Helen tersenyum haru.
__ADS_1
“Iya, kalau kalian cari rumah sendiri Mamah bakal sendirian di rumah. Apalagi rumahnya besar, serem jadinya kalau sepi penghuni,” Helen bergidik ngeri, rumah tiga lantai tentu saja akan terasa seram apabila hanya ada sedikit penghuni walaupun ada pelayan sekalipun.