Hanya Ada Kita

Hanya Ada Kita
Hadiah Perkenalan


__ADS_3

Pukul 12 kurang, anak-anak sudah sampai dirumah. Waktunya pas sekali saat Nara baru selesai memasak. Beberapa hidangan yang cukup banyak tersaji di meja makan.


"Bunda ... " seperti biasa, saat mereka pulang, Nessa lah yang paling heboh. Baru masuk ke dalam rumah dia sudah berteriak.


"Nessa ... Coba sekali-kali kalau baru masuk rumah jangan langsung teriak terus lari-lari, biasakan untuk salam lebih dulu, " Nara memperingati. Nessa hanya nyengir kuda sambil menggaruk tengkuknya walau tidak gatal.


"Bunda, tadi Nevan lihat ada truk di depan rumah sebelah. Bukannya rumah itu kosong ya, Bun?" tanya Nevan, di ikuti Gavin di belakangnya. Mereka duduk bersebelahan di kursi.


"Ada tetangga baru pindah, lagi nurunin barang kayaknya," Nevan ber oh saja, lalu mulai memakan nasi yang sudah Nara hidangkan.


Sedangkan Gavin, pria itu ikut makan. Bukan sekali dua kali ia seperti ini. Semenjak kasus Jovanka hampir selesai, Gavin terus menyempatkan dirinya bermain dengan anak-anak sehingga sering ikut makan bersama.


Masalahnya, tindakan Gavin ini membuat Nara merasa tidak nyaman. Ada sebuah perasaan yang terus tumbuh setiap melihat anak-anak tertawa senang setelah bermain dengan Gavin. Ada harapan besar di sudut hatinya, tapi terus Nara tekan.


Makan siang berjalan seperti biasa, setelah selesai, kedua anak Nara masuk ke dalam kamar. Waktunya mereka tidur siang saat liburan. Tanpa perlu di temani oleh Nara, mereka bisa memejamkan mata dengan cepat.


"Mau pulang sekarang?" Nara membereskan bekas makan siang. Gavin masih tetap duduk di tempatnya.


"Memangnya kalau aku nggak pulang kamu mau nemenin aku?" Gavin menaikturunkan alisnya, Nara menatap Gavin heran. Akhir-akhir ini sikap Gavin menjadi aneh, tapi Nara belum bisa menyimpulkan karena apa.


"Aku kan tanya!" ucap Nara nge-gas.

__ADS_1


"Ah! Aku cuma bercanda. Aku harus pulang sekarang, ada yang perlu aku kerjakan terkait perceraian dengan Jovanka." Nara menjadi sensitif padanya jika ia meminta di temani, perempuan ini sikapnya selalu berubah-ubah, sampai Gavin tidak bisa menebaknya.


"Ya sudah, tinggal pulang! Kenapa harus laporan dulu sama aku?" ucapnya ketus, Gavin tersenyum kecut lalu ia berdiri dari duduknya. Mengambil kunci mobil di atas meja, dan memakai jas yang tadi di letakkan di atas kursi.


Tidak ada lagi yang bicara di antara mereka, Gavin berjalan keluar di ikuti Nara, yang berniat mengantar Gavin sampai luar sekalian mengunci pintu rumah.


"Tetangga baru yang kamu bilang laki-laki atau perempuan?" tanya Gavin saat sudah di depan pintu, matanya menatap rumah yang katanya ada tetangga baru.


"Katanya laki-laki, masih single. Aku sih belum kenal," jawab Nara pendek, ia juga ikut melihat rumah sebelahnya.


Tadi setelah mengobrol dengan bu Susi, Nara hanya melihat sekilas, ada laki-laki yang keluar dari truck sambil ber-telponan. Setelah itu ia segera masuk ke rumah, karena kesal dengan godaan bu Susi tadi.


"Laki-laki?" Gavin terlihat terkejut, lagi-lagi Nara menatapnya heran. Memangnya kenapa kalau laki-laki?


Gavin mendengus, tiba-tiba ia merasa kesal entah karena apa. "Aku pamit ... " ucapnya pendek.


"Hemm... " Nara hanya diam, menatap punggung Gavin yang semakin menjauh. Banyak yang berubah dari sikap Gavin belakangan ini. Walaupun ia tidak begitu kenal dengan Gavin, tapi yang Nara tahu, kalau Gavin orangnya sedikit pendiam.


Tidak seperti belakangan ini, dia sering mengajak Nara mengobrol santai. Setelah melihat kendaraan Gavin sudah pergi jauh, Nara berniat langsung masuk ke dalam rumah, ia sudah memegang handle pintu tapi gerakannya terhenti saat mendengar suara panggilan.


"Permisi... " Nara menoleh, keningnya berkerut melihat seorang pria yang sepertinya memanggil dirinya.

__ADS_1


Nara segera mendekat, "Panggil saya, Mas?"


"Iya, benar. Kenalkan saya Joshua, saya orang baru di komplek ini."


"Ohh, jadi Masnya yang baru pindahan di sebelah?" pria yang bernama Joshua mengangguk.


"Ada apa manggil saya?"


"Eh, iya. Saya ingin memberi 'ini' sama ... "


"Nara! Panggil saja saya Nara," kata Nara cepat.


"Haha ... iya, Nara saya ada beberapa makanan untuk tetangga baru saya saat ini, dan saya ingin beri kamu ini," Joshua memberikan sebuah paper bag, Nara sempat ragu untuk menerimanya tapi ia juga merasa tidak enak.


"Ehm... Kalau gitu terimakasih ya, Mas Joshua, kebetulan saya masih ada kerjaan rumah, jadi saya masuk duluan. Semoga betah tinggal di sini."


"Sama-sama, saya juga masih harus mengantarkan beberapa makanan ini, saya pamit ... " ucapnya lalu pergi.


Setelah kepergian Joshua, Nara langsung melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah, saat baru menutup pintu, ia mencoba membuka isi paper bag itu.


Ada satu kotak, saat di buka ternyata benar isinya makanan, ada potongan cake rasa coklat. Ah, lebih baik untuk anak-anak saja, mereka berdua seleranya sedikit sama, sama-sama suka coklat.

__ADS_1


Nara lantas menaruh cake itu di dalam kulkas. ia ingin ikut tidur bersama kedua anaknya, rasanya cukup lelah setelah setengah hari membereskan rumah yang lumayan banyak debu dan dedaunan jatuh di halaman depan dan belakangan rumahnya.


__ADS_2