
Keesokan harinya, Nara mendapatkan pesan dari Fahmi, katanya ingin bertemu. Di rumah Nara, ada hal penting yang ingin di sampaikan. Dahi Nara berkerut dalam, penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Fahmi, sepertinya sangat serius.
Padahal hari ini pekerjaannya lumayan menumpuk, tapi setelah membaca pesan dari Fahmi, ia merasa tidak enak jika menolak. Akhirnya Nara memutuskan untuk tidak bekerja, dan akan menyerahkan separuhnya pada Indi. Karyawan yang paling ia percaya.
Sabtu pagi, jam sembilan, ternyata Nara kedatangan tamu, tante Helen datang dengan membawa makanan untuk kedua cucunya.
"Padahal tadi Tante dari butik kamu, kata karyawan kamu, kamu nggak kerja. Ya udah, Tante ke sini aja, ternyata bener. Kalau kamu nggak kerja, kenapa?" tanya tante Helen yang sudah duduk di sebelah Nara.
"Tadi kak Fahmi nelpon, katanya pengen ketemu, ada hal penting yang pengen di bicarakan. Wahh... Tante repot-repot pakai acara bawa makanan," Nara menerima beberapa paperbag dan kantong plastik yang isinya camilan kesukaan Nessa.
"Untuk cucu, kenapa nggak? Eh, tapi buat kamu juga ada kok."
Nara nyengir, "Makasih, Tan. Mau minum apa?" Nara meletakkan paperbag itu di atas meja.
“Wahh ... Gue juga pengen dong di bikinin minuman ... ” suara cempreng dari Kiki membuat Nara menoleh.
Nara memutar bola mata malas, datang ke rumah orang bukannya salam tapi langsung nyelonong masuk. Kelakuan Kiki yang sudah biasa Nara lihat, tapi tak akan mempermasalahkan itu.
Jangan di tiru!!
"Ngapain kamu ke sini?" Nara memandang Kiki kesal.
"Lah? Lu kenapa pagi-pagi gini? Kok gue masuk pakai acara di tanyain segala. Gue tadi dari butik lu, tapi lu nggak ada, hari ini gue libur, makanya ada waktu buat ketemu bestie," Kiki ikut mendudukkan dirinya di sofa, berseberangan dengan Nara.
Saat matanya melihat banyak camilan di atas meja, tangannya reflek mengambil salah satu camilan itu. Tanpa minta izin dari pemiliknya.
Nara memukul telapak tangan Kiki, "Heh! Kalau mau ngambil itu izin dulu, itu bukan buat kamu, tapi buat anak-anak."
__ADS_1
Kiki mengusap telapak tangannya yang terasa perih, lalu menoleh pada Helen, “Tan, apa aku nggak di bawain makanan?”
“Nggak tahu malu kamu!” celetuk Nara sambil menggelengkan kepalanya.
"Bodo... "
"Eh, udah dong, kok malah ribut. Kamu tenang aja, Tante bawa banyak makanan, punya kamu juga ada ... " tante Helen mencoba melerai, keributan dua sahabat ini tidak akan berakhir jika tidak ada yang melerai nya.
Kiki bersorak senang, ia memandang Nara dengan menaik turunkan alisnya. Nara yang melihat itu pun hanya memutar bola matanya.
Obrolan mereka berlanjut, sampai tak terasa satu jam sudah berlalu. Seperti janji Fahmi tadi pagi, ia akan datang kerumah Nara. Tepat pukul sepuluh, Fahmi datang mengetuk pintu.
Saat dibuka oleh Nara, dia mengerutkan dahinya. Pasalnya, Fahmi bukan datang seorang diri. Tapi Fahmi datang bersama seorang pria yang usianya hampir sama dengan tante Helen, namun sedikit lebih tua.
Nara mengajak mereka masuk, di dalam masih ada Helen dan Kiki yang sedang mengobrol. Saat Helen menoleh, matanya membulat sempurna. Terkejut melihat siapa yang datang.
Ayah Fahmi yang bernama Irwan itu pun menatap Helen terkejut, "Helen? Kamu ... Di sini?"
Helen menganggukkan kepalanya, "Kamu juga ngapain di sini?"
"Aku ... " Irwan diam, ia menoleh ke arah Nara, matanya tiba-tiba memanas, cairan bening mengumpul di sudut matanya.
Putrinya yang selama ini ia biarkan, tanpa perlindungan darinya. Kini sudah tumbuh dewasa, dengan wajah yang cantik, mirip seperti ibu kandungnya. Dan postur tubuh yang tinggi.
Nara yang di pandangi oleh Irwan merasa sedikit risih. Pasalnya ini pertama kalinya mereka bertemu. Tidak saling kenal. Satu hal yang ia ketahui, kalau pria yang bernama Irwan ini adalah ayahnya Fahmi.
Irwan tersadar dari lamunannya saat Fahmi menyenggol lengannya.
__ADS_1
“Yah, Ayah kenal sama tante Helen?”
"Ah, iya. Kami teman lama, dulu sering bertemu saat kalian masih kecil, tapi sekarang sudah tidak lagi."
"Iya, dulu kami teman lama, apalagi sewaktu ibumu masih ada, hampir setiap hari kami main ke rumah kamu-- " Eh, tante Helen menghentikan ucapannya, ia baru sadar dengan apa yang dia ucapkan.
"Maaf, saya lupa kalau ibumu--"
"Nggak apa-apa, Tan," Fahmi memotong ucapan Helen, kemudian ia menatap Nara.
"Apa kami nggak di persilahkan untuk duduk?" Fahmi tersenyum menatap Nara, Nara menepuk jidatnya. Ia lupa.
“Maaf, maaf ... Mari, silahkan duduk. Biar saya buatkan minuman dulu... ” Nara tersenyum Kikuk, sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Fahmi tersenyum seraya mengangguk. Ia duduk di sofa yang bersebrangan dengan tante Helen. Sedangkan ayahnya duduk di sebelahnya.
Lalu Kiki? Gadis itu sudah ngacir dan mengikuti Nara ke dapur.
.
.
.
bersambung
huwaa 😭 maaf baru up. ngilang lama tanpa kabar, tugas dunia nyata bener-bener nyata waktu 😭🤧
__ADS_1
sekali lagi maaf yahh, moga kalian masih betah disini 🤧🤧