
"Aku jatuh cinta padamu, Melia. Sangat. Jika aku melakukan apa pun padamu, setelah malam ini, aku mohon jangan membenciku."
Adalah kata-kata dari Anderson yang sudah tidak mampu dicerna lagi oleh Melia. Kepalanya sangat pusing hingga Melia merasa tidak mampu lagi menopang tubuhnya.
Di tengah hiruk pikuknya orang yang masih berjoget di lantai dansa, Anderson menggendong Melia untuk pergi dari tempat ini.
Melia hanya bisa mencium aroma tubuh Anderson. Ia masih sadar tapi ia sudah tidak mampu lagi untuk membuka mata. Ia hanya bisa merasakan saat kemudian terdengar deru mobil yang membawanya pergi dari tempat ini.
"Semua sudah dipersiapkan, Tuan."
Ada sosok laki-laki tua yang tengah menanti mereka di kejauhan jalan. Anderson hanya menganggukkan kepala satu kali lalu membawa Melia duduk di bagian belakang bersama dengan dirinya.
"Kita mau ke mana Pak ...?" Melia mulai gelisah. Pusing dikepalanya sangat menyiksa. Membuat dirinya tidak berdaya di hadapan Anderson.
"Tenang lah, kita hanya beristirahat di suatu tempat." Anderson mulai berani menyentuh kepalanya sambil membelai anak-anak rambut itu.
Anderson tersenyum penuh kemenangan. Hari ini, Melia benar-benar akan menjadi miliknya.
"Aku ingin pulang ..."
Sungguh. Melia mulai merasa takut, seluruh tulang-tulangnya seperti tidak berdaya. Alih-alih menjawab perkataan dari Melia, Anderson malah meraih kepala Melia dan memeluknya erat-erat.
__ADS_1
***
Lampu terkesan redup saat malam mulai menjemput. Suasana yang ada di kamar ini sangat remang-remang ketika Anderson membawa Melia sampai ke tempat ini.
Anderson membawa Melia dengan sangat hati-hati, ia memperlakukan Melia seperti sesuatu yang mudah retak ketika ia menaruhnya sampai ke atas ranjang dan menidurkannya.
Melia sudah hampir tidak sadar, samar-samar ia hanya dapat melihat Anderson yang tiba-tiba mulai naik ke atas tubuhnya.
"P-Pak ...?"
Melia menggeleng-gelengkan kepala. Tapi, ia benar-benar tidak kuasa. Tubuhnya benar-benar terasa lemah hanya untuk bergerak saja.
Lalu, yang Melia ingat lagi adalah, tangan Anderson yang mulai membelai wajah Melia.
Tapi sepertinya, Anderson tidak mau berhenti. Anderson menatap sayu ke arah Melia dan kini mulai membuka bajunya sendiri satu persatu.
***
Pengaruh obat yang Melia minum, benar-benar membawa efek yang sangat buruk. Tubuhnya terus merasa melayang hingga pikirannya sangat kacau.
Melia mendesis kesakitan. Sampai pada suatu ketika, Melia sudah tidak mampu lagi tersadar dengan apa yang akan terjadi setelahnya.
__ADS_1
Ini saatnya.
Anderson sudah mulai tahu bahwa Melia sudah berada di titik keputus asaan yang teramat sangat. Ia sudah tidak mampu bergerak, dan ia sudah tidak mampu melawan lagi.
Anderson tahu, bahwa saat ini adalah situasi yang sangat tepat ketika ia harus melakukan rencananya.
Tapi ...
Melihat gadisnya yang tidak berdaya seperti ini, kenapa tiba-tiba Anderson merasa tidak tega?
Tatapan Anderson berubah menjadi sendu saat ia terus mengamati Melia dari atas sampai bawah. Sedetik kemudian, ia menarik diri, menjauh dari tubuh Melia yang tidak berdaya dan segera menjauh pergi.
Sial!
Anderson mengumpat di dalam hati. Ia tidak mampu untuk melakukan hal buruk ini kepada Melia. Sudah cukup Anderson menyiksanya ketika dirinya adalah penyebab orang tuanya meninggal, dan sekarang ...? Apa dia sanggup untuk menyiksa Melia dengan sengaja menidurinya?
Anderson menelan salivanya pasrah. Tapi ... jika bukan dengan cara seperti ini, ia tidak akan pernah mungkin mendapatkannya, kan?
Lalu, Anderson kembali melangkah mendekat ke arah Melia.
Masa bodoh dengan semua ini! Ia harus melakukannya!
__ADS_1
Lalu, Anderson mulai membuka kancing kemeja Melia satu persatu.
***