Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
MASA LALU REYAN


__ADS_3

Rosa masih tersenyum dengan semua perbuatan Anderson saat ini. Meski pun mereka harus menunggu karena tempat duduk di kedai ini penuh sesak, pada akhirnya mereka bisa duduk di ujung ruangan.


"Terima kasih, Pak."


Tapi lagi-lagi, Anderson tidak memerdulikan Rosa. Ia hanya melirik ke arah kaca jendela yang mana Melia sudah berjalan pergi dan dibonceng lagi oleh Reyan.


"Saya tidak menyangka Bapak akan seromantis ini. Mengajak saya jalan-jalan untuk makan malam." Lagi-lagi, Rosa tersipu. Sungguh. Rosa pasti akan malu jika Rosa mengetahui tentang semuanya.


"Kakimu sudah sembuh dengan cepat?"


"Eh?" Mata Rosa terbelalak ketika Anderson tiba-tiba mengatakan akan hal itu.


"Sudah cukup pura-puranya?"


Sial! Rosa baru sadar kalau ternyata Anderson mengamati Rosa, kalau Rosa mampu berjalan lancar ketika menggandeng tangan Anderson untuk berjalan sampai ke tempat duduk ini.


Astaga, kenapa Rosa bisa sampai lupa?


"Emm, aku?"


"Aku harus pergi."


"Tapi Tuan."


Anderson menghela napas.


"Dengar, Rosa. Kalau kamu berharap aku akan melihatmu, tolong singkirkan perasaan itu. Maaf, aku memang harus meminta maaf padamu kalau sebenarnya aku juga memanfaatkanmu."


"..."


"Sama seperti apa yang kamu lakukan ketika kamu pura-pura cidera hanya untuk memikatku, situasiku sama ketika memanfaatkanmu untuk membuat perempuan lain pada akhirnya sadar kalau dia sedang cemburu."


"M-maksud Tuan?"


"Ya, aku sudah jatuh cinta pada perempuan lain. Sudah bertahun-tahun lamanya, dan aku tadi sedang memanfaatkanmu."


Dan petir itu menyambar dengan sangat kencang sampai ke ulu hati Rosa saat ini. Rasanya sungguh menyakitkan ketika mendengar itu semua dari mulut Anderson.


"Maksud Tuan? Melia?" Dan pada akhirnya nama itu meluncur deras di mulut Rosa kali ini.


Anderson mengangguk.


"Sangat sulit untuk mendapatkan perempuan itu."


Rosa bahkan sudah menangis saat ini.

__ADS_1


"Aku percaya kamu perempuan baik. Aku yakin suatu saat nanti kamu mendapatkan laki-laki yang baik juga."


Sungguh. Rosa sudah tidak mampu berkata apa-apa lagi.


"Tetap lah menjadi sahabat Melia. Kamu tahu, hanya kamu teman dekatnya selama ini."


"Dan maaf juga aku tidak bisa mengantarmu pulang. Tapi bukan berarti aku laki-laki jahat. Akan aku pastikan kalau kamu dijemput oleh pengawalku. Bram akan kupastikan datang ke sini dan membawamu pulang."


Rosa semakin menahan napas, menahan tangisannya yang kembali akan pecah.


"Aku harus pergi. Aku harus memperjuangkan dia lagi."


Lalu di sini, hanya tersisa Rosa seorang diri. Menatap ke arah luar jendela dan melihat Anderson yang tampak terburu-buru masuk ke dalam mobilnya untuk mengejar Melia.


Tangisan Rosa pecah kembali. Saat pesanan datang, ia sudah tidak mampu lagi untuk memakannya.


Sepuluh menit kemudian, ada seseorang yang datang. Tiba-tiba ia duduk di depan Rosa dan melihatnya sedang menangis.


Bram hanya duduk membeku ketika melihat perempuan itu sedang patah hati. Tapi kemudian, ia menyodorkan sebuah tisu ke arahnya.


"Kenapa perempuan selalu jelek jika menangis? Ambil ini dan hapus ingusmu."


***


"Terima kasih, Rey."


Tapi, Melia menggeleng. Ia malah menyuruh Reyan untuk pulang saja.


"Tidak apa-apa, Rey. Aku sudah merasa aman. Lagi pula kamu juga sudah menambah kancing pintu tambahan kan?"


"Tapi Mel."


"Pulang saja, Rey."


Reyan menghela napas. "Apa karena laki-laki itu? Apa karena tiba-tiba tadi kamu melihat laki-laki itu bersama dengan perempuan lain?"


Melia terhenyak.


"Rey, kamu ...?"


"Aku pacarmu, Mel. Kamu tidak pantas seperti itu di depanku."


Melia malah semakin menahan napas. Sepertinya, ia harus menjelaskan tentang Reyan saat ini juga. Melia semakin takut jika Reyan terus salah sangka terhadapnya.


"Reyan, mengenai hubungan kita ..." Melia agak sedikit takut ketika mengatakan itu di hadapan Reyan.

__ADS_1


"Maaf, tapi aku harus mengatakan ini. Tapi, ini sudah bertahun-tahun yang lalu dan aku merasa kalau itu tidak bisa disamakan dengan masa sekarang."


Kerutan yang ada di dahi Reyan semakin ketara.


"Maksudmu?"


"Aku tidak bisa, Rey."


Mata Reyan dibuat menyala ketika mendengarnya. Apa saat ini Melia sedang tidak waras?


"Mel, apa kamu tidak ingat ada orang yang berusaha memisahkan kita? Ada orang yang sengaja mengusikmu di hidupmu? Aku pikir kamu bisa berpikir dengan logika. Tapi ternyata, kamu malah mengikuti alur si penguntit itu."


"Rey, itu masalah yang berbeda. Mengenai hubungan kita ..."


Tapi ternyata, Reyan sudah terlanjur kecewa. Ia pergi begitu saja dari hadapan Melia dan membawa motornya pergi.


Melihat itu semua dada Melia juga terasa sesak. Perasaan bersalah menyeruak tajam. Ia benar-benar merasa bersalah kepada Reyan karena Melia sudah mengecewakannya.


Sedangkan di tempat lain, Anderson membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Menembus jalanan di ibu kota untuk segera pergi ke arah rumah Melia.


Dada Anderson masih panas ketika membayangkan tentang kejadian yang baru saja terjadi. Melia dan Reyan adalah dua orang yang harus ia pisahkan malam ini juga.


Anderson semakin menginjak gasnya dengan kencang. Ia harus buru-buru menemui Melia karena takut jika terjadi apa-apa di antara mereka berdua.


Dan sekarang, dia sudah berdiri tepat di depan rumah Melia. Lampu sudah menyala, dan itu berarti sudah ada Melia berada di dalam rumah.


Anderson menahan napas, ia menatap ke arah ponsel oleh gambar yang baru saja dikirimkan Bram dan tentu saja itu adalah laporan dari anak buahnya yang lain.


Reyan sudah pergi, meninggalkan Melia hingga membuat perasaan Anderson sedikit tenang. Karena paling tidak, tidak ada yang mengganggunya malam ini bersama dengan Melia.


***


Sementara di tempat lain, Reyan menghancurkan semua barang yang ada di rumahnya. Amarahnya meledak, dan hanya menghancurkan barang, ia bisa melampiaskan semuanya.


Ia benar-benar tidak terima saat ia mengingat tentang apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu.


Bukan ini seharusnya. Bukan ini yang sebenarnya Reyan rencanakan. Reyan pikir, dia akan mendapatkan Melia. Tapi apa yang baru saja ia lihat? Melia malah cemburu ketika Anderson bersama dengan perempuan lain.


Melia, jelas mulai mencintai laki-laki itu. Laki-laki yang sudah ia duga telah menghancurkan semuanya, menghancurkan seluruh keluarganya sampai hancur tanpa sisa.


Dan kini, ia mengepalkan tangannya penuh amarah. Kalau saja dia adalah pelakunya, Reyan benar-benar tidak akan pernah bisa memaafkannya.


Reyan, bukan lelaki lemah seperti dulu. Salah besar jika Anderson menganggapnya enteng. Dan jika semuanya sudah terbukti, Reyan akan benar-benar menghancurkan Anderson bahkan tanpa sisa seperti apa yang pernah ia lakukan dulu.


"Anderson," tanpa sadar, Reyan mengucapkan nama itu. Reyan mengepalkan tangannya, penuh dengan kebencian.

__ADS_1


***


Hai, jangan lupa follow authornya ya.. thank u


__ADS_2