Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
DE JAVU


__ADS_3

Anderson kini mengunci kedua tangan Melia rapat-rapat, menjatuhkannya ke atas ranjang lagi ketika Melia ingin berontak pergi.


"Pak? Anda mau apa Pak?" Melia kembali meronta, tatapan kelaparan Anderson benar-benar mengerikan.


"Salah sendiri sudah menggodaku."


"Lepas!"


Anderson berusaha ingin menyiumnya, tapi tiba-tiba Melia malah menendangnya, lari terbirit-birit menjauh dari sisi Anderson.


"Aw. Apa yang kamu lakukan?!"


"Bapak pikir? Bapak mau apa?" Melia terengah-engah, meringsut berada di ujung ruang sambil menatap waspda ke arah Anderson.


"Menurutmu?!"


"Kenapa Bapak jadi mesum seperti ini?"


"Hey! Kamu yang mulai!"


"..."


"Dasar perempuan! Kamu yang memulai dengan sok-sokan menggodaku, tapi digertak sedikit saja, kamu lari terbirit-birit seperti itu."


Melia memutar kedua bola matanya. "Emm, saya hanya ... menyium anda."


Sialan! Perempuan ini benar-benar belum paham bagaimana efeknya!


Anderson mendengus, melihat Melia yang berjinjit di ujung ruangan yang tampak waspada seperti itu ... sungguh membuat dirinya marah. Harga dirinya seperti diinjak-injak oleh gadis kecil itu.


Apa dia tidak tahu apa yang barusan dia lakukan tadi?!


Anderson kemudian melangkah, mendekat ke arah Melia tapi Melia malah memekik keras.


"Apa yang anda lakukan ... jangan mendekat!"


"Menurutmu?"


"Sekali anda mendekat saya akan ..."


"Berteriak?"


Dan Anderson malah kembali menarik tangan Melia jatuh ke atas ranjang.


***


"Pak? Bapak marah?"


Melia masih terus tertawa di atas ranjang, melihat ke arah punggung Anderson yang membelakanginya. Sedari tadi Anderson hanya diam saja tanpa mau menoleh ke arah Melia.


Melia mengernyit, dalam hati ia benar-benar tertawa karena berhasil menjahilinya.


"Pak?" Melia mulai mengetuk-etuk punggung Anderson dengan jarinya.


"Jangan sentuh aku, atau aku akan benar-benar berakhir memperkosamu."


Melia mendengus. "Saya tidak yakin anda akan melakukannya."


Pernyataan itu, membuat Anderson terusik, mau tidak mau ia menoleh ke arah belakang dan menatap ke arah Melia.


"Apa yang membuatmu yakin kalau aku tidak mampu melakukannya?"


Dan kini posisi mereka berhadapan, tidur di atas ranjang dan saling menatap satu sama lain.

__ADS_1


"Anda bilang sendiri kalau anda tidak mungkin menyakiti saya ..."


"Kamu tahu rupanya ...?"


Melia mengangguk. "Maaf, saya belum bisa memberikan apa yang Bapak minta ..."


"Ya, aku tahu. Aku juga tidak mau merusak perempuan paling berharga dihidupku."


Melia mengernyit.


"Tunggu. Bukan kan Bapak sudah merusak saya?"


"Kapan?"


"Waktu di Bali ..."


"Omong kosong."


Mata Melia terbelalak kaget.


"Aku hanya memberikan semacam obat tidur padamu. Efeknya memang begitu, membuat tubuhmu terasa melayang dan lupa ingatan."


"Apa?!" Sungguh. Melia benar-benar kaget dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Anderson.


"Aku hanya memanipulasi keadaan agar seolah-olah kamu sudah aku tiduri. Karena mungkin hanya dengan itu, kamu bisa menjadi milikku dan memintaku bertanggung jawab."


"Jahat sekali ..."


"Memang. Aku akui itu. Tapi mau bagaimana lagi? Aku sudah putus asa untuk mendapatkanmu."


"..."


"Tapi ternyata aku salah, kamu malah berakhir membenciku."


"Karena aku jatuh cinta padamu, Melia. Aku akan melakukan apa pun untuk membuatmu menerimaku."


Melia menahan napas. Anderson ternyata memang segila ini.


"Bagaimana jika pada akhirnya saya tidak bisa menerima anda?"


"Aku sudah punya rencana B, aku bahkan sudah menyuruh Bram untuk mengusirmu dari rumah ini, membuat hidupmu menderita, membuat hidupmu tidak mempunyai apa-apa lagi."


Dan perkataan jujur itu berhasil membuat Melia terhenyak kaget.


"A-apa?"


"Dan disaat kamu putus asa dan tidak mempunyai apa-apa, aku harap kamu akan datang kepadaku."


Melia bangkit. Sungguh. Melia tidak mengira kalau Anderson bisa sejahat ini.


"Anda kelewatan."


Tapi baru saja Melia akan pergi, Anderson menahan Melia dan merengkuhnya ke dalam pelukannya.


"Kamu tahu kan alasanku melakukannya? Aku hanya tidak bisa kehilanganmu, Mel. Kamu harus tahu betapa aku cinta padamu dan betapa tergila-gilanya aku denganmu."


"Tapi, cara anda ...?"


"Yang penting aku sudah mendapatkanmu kan?" Anderson kembali mensesap aroma itu, aroma yang benar-benar membuat Anderson tergila-gila.


"Pak, lepas. Anda membuat saya marah."


"Aku tahu kamu pasti marah ... tapi mau bagaimana lagi? Aku cinta padamu, Mel."

__ADS_1


Melia mendengus di pelukan Anderson, ia ingin pergi tapi Anderson menahannya lagi. Sungguh. Melia tidak menyangka dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Anderson. Walau pun Melia mengetahui semua rencana jahat Anderson, tapi ketika Anderson mengatakan bahwa dia melakukannya karena Anderson mencintainya, hati Melia luluh seketika.


Apa memang semua perempuan di dunia ini sama saja? Selalu luluh terhadap laki-laki yang tergila-gila padanya?


Dan kini, tubuh Melia lemas seketika. Membiarkan dirinya dipeluk oleh Anderson dengan sangat erat.


Beberapa menit kemudian, terdengar dengkuran lirih dari sisi Anderson, napasnya teratur dan matanya sudah benar-benar terpejam, menandakan bahwa Anderson kini terlelap menjemput tidurnya.


Sedangkan Melia, hanya bisa menatap damai laki-laki itu. Menatap laki-laki yang juga sangat ia cintai, sejenak kemudian, Melia juga ikut tertidur bersama dengan Anderson, karena seharian ini, dia juga benar-benar merasa sangat lelah.


***


Waktu sudah sangat siang ketika Anderson bangun dari tidurnya kali ini. Melia sudah bangun terlebih dahulu dan Anderson mencarinya.


Tapi ternyata, Melia berada di dapur dan membuatkan sepiring omeletet.


"Sudah bangun? Saya membuatkan makanan untuk Bapak."


Anderson mengusap-usap mukanya. "Ah, aku pikir kamu pergi."


Melia menggeleng sekaligus mengernyit.


"Kalau begitu aku mandi dulu."


Melia mengangguk kemudian melanjutkan lagi masakannya. Hari ini, dia juga harus masuk kerja, dan setelah Anderson mandi, dia juga harus membersihkan diri.


Hanya butuh waktu sepuluh menit Anderson selesai di kamar mandi, dan setelah itu buru-buru Melia masuk ke dalam kamar mandi bergantian dengan Anderson.


"Maaf, Pak. Aku juga harus cepat-cepat karena aku harus bekerja."


"Hei, resign saja. Wanitaku tidak akan pernah kubiarkan bekerja."


Tapi sepertinya, Melia tidak mendengarkan itu, ia masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya rapat-rapat.


Tapi, baru saja ia masuk ke dalam kamar mandi, ada sesuatu yang berhasil membuat jantungnya berdegup dengan sangat keras.


Seperti De Javu.


Dan Melia terhenyak akan hal ini.


Situasinya sama persis ketika penguntit itu datang ke dalam rumahnya.


Sikat gigi itu tergeletak di atas wastafel, botol sampo yang sudah dimiringkan, dan juga kloset yang terbuka lebar.


Melia menahan napas. Tangannya sedikit bergetar.


Mungkin kah ...


Melia menelan salivanya pasrah.


Tiba-tiba, ponselnya berdering dan buru-buru Melia melihatnya. Nama Rosa berada di atas layar dan dia mengirimkan pesan untuknya.


Mel, maafkan aku ... aku tidak tahu kalau kamu mempunyai hubungan dengan Tuan Anderson.


Kita masih sahabat kan?


Aku benar-benar minta maaf, bukan maksudku menjadi pelakor di hidup kalian, aku salah mengartikan ketika dulu kamu bilang kamu tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Pak Anderson.


Kita baikan, kan?


Oh ya, nanti sore aku dan teman-teman sedevisi ada rencana untuk menjenguk Boby. Dia baru sadar dari komanya, dan kamu harus tahu kalau saat dia sadar, dia menceritakan kalau sebenarnya dia ditabrak oleh seseorang. Sungguh. Aku penasaran, apa kamu mau ikut berkunjung ke rumah sakit?


Begitu isi pesan dari Rosa hingga mampu membuat Melia menahan napas.

__ADS_1


__ADS_2