Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
ROSA


__ADS_3

Malam sudah terlalu larut ketika Anderson masih berada di sini. Berkutat dengan beberapa dokumen hingga membuat kepalanya hampir pecah.


Bagaimana bisa? Laporan keuangan bisa berakhir dengan begitu mengenaskan. Biasanya, jika Melia masih ada di sini, dia akan merapikannya terlebih dahulu, tapi sekarang, Melia sudah tidak ada, ia sudah digantikan dengan sekretaris baru yang mungkin, dia belum terbiasa dengan semua yang seharusnya diharapkan oleh Anderson.


Anderson stres, atau lebih tepatnya, ia frustrasi karena sudah tidak ada Melia berada di sini. Dan lagi-lagi, Anderson tidak bisa mengusir Melia dari dalam otaknya.


"Melia bagaimana, Bram?" Tanya Anderson tiba-tiba. Ia menatap ke arah figura yang diam-diam tadi ia pasang di meja kerjanya dengan foto Melia berada di sana.


"Nona Melia belum pulang, Tuan. Satu menit yang lalu saya mendapat laporan dari pengawal rumah nona Melia kalau nona Melia masih belum pulang."


Anderson mengernyit, ia kemudian melihat jam yang ada di dinding ruangannya. Pukul sembilan lebih, tapi, kenapa Melia belum juga pulang?


"Mungkin nona Melia sedang lembur, Tuan."


"Mungkin?" Anderson menghela napas. Untuk kali ini, Anderson sedikit kecewa dengan laporan yang diberikan oleh Bram.


"Aku sudah bilang berulang kali kalau kamu harus mengikuti Melia ke mana pun dia pergi."


Bram tercekat. "Maaf, Tuan. Semenjak nona Melia curiga bahwa ada orang yang menguntitnya, kami juga harus berhati-hati."


Lagi-lagi Anderson menghela napas. "Cepat cari tahu di mana Melia sekarang!"


"Baik Tuan."


Lalu tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu. Seseorang dengan blus berwarna putih masuk ke dalam ruang Anderson dengan senyum yang ada di wajahnya.


"Maaf, Tuan. Apa tadi anda memanggil saya?" Rosa yang saat ini sudah naik jabatan menjadi sekretaris Anderson sangat bersemangat ketika tadi bosnya itu memanggil dirinya.


"Emm, ya ya." Anderson mengangguk. "Bram, kamu boleh pergi. Dan ingat, lakukan tugasmu dengan baik."


"Ya, Tuan. Akan saya laksanakan." Begitu ucap Bram kemudian pergi dari ruangan ini. Membiarkan Rosa dan Anderson berada di dalam ruangan hanya berdua saja.


Sementara itu, jantung Rosa berdegup dengan sangat kencang. Ia masih tidak percaya di antara ribuan kandidat yang mengantri untuk menggantikan Melia, itu adalah dirinya.

__ADS_1


Apa lagi saat Tuan Anderson yang tadi pagi datang dan memintanya secara langsung, tentu saja hal itu membuat Rosa berbunga-bunga.


Bagaimana tidak? Rosa akan selalu bersama dengan bosnya yang tampan ini. Laki-laki lajang dan juga kaya dan tentu saja mampu membuat perempuan di mana pun tergila-gila.


Di samping dia akan mendapat kenaikan gaji, siapa tahu Rosa juga berhasil menaklukkan hatinya, kan?


Rosa tersenyum di dalam hati. Sebenarnya ia merasa bersalah dengan Melia, tapi bukan kah Melia sendiri yang kemarin mengatakan kalau tidak ada yang terjadi apa-apa dengan Anderson? Oleh karena itu, Rosa tidak berdosa kan kalau Rosa berharap kalau Pak Anderson akan melirik dirinya?


"Tuan ...?" Senyum Rosa masih tersungging di sana. Dengan lipstik berwarna merah menyala, high heels setinggi dua belas senti meter, juga dengan parfum bunga lavender yang sengaja ia gunakan untuk menggoda Anderson.


Tapi tiba-tiba, tanggapan Anderson tidak terduga. Ia malah membanting dokumen ke arahnya dan menarik napas panjang.


"Sepertinya kamu harus melakukan kroscek ulang semua laporan ini."


"A-apa Tuan?"


"Kepalaku pusing dengan data excel yang kamu buat."


Rosa menelan salivanya sendiri. Apa dia sudah melakukan kesalahan besar?


Anderson menghela napas.


Sementara itu, Rosa baru pertama kali kena semprot seperti ini oleh sosok Anderson. Membuat tangan dan tubuh Rosa bergetar hebat karena ketakutan. Hingga sampai pada suatu ketika, saat Rosa memutar tubuhnya, ia tidak sengaja keseleo oleh high heels dua belas senti meter itu dan membuatnya terjatuh.


"Astaga."


Anderson kaget saat melihat wanita itu terjatuh. Anderson yang masih mempunyai hati pun buru-buru bangkit dan menolongnya.


"Kamu tidak apa-apa?"


Rosa tersentuh akan sikap hangat yang diberikan oleh Anderson. Ketika Rosa merasakan tangan Anderson menyentuh kedua bahunya, entah kenapa Rosa seperti mendapatkan kesempatan.


"Emm saya."

__ADS_1


Sebenarnya Rosa baik-baik saja, Rosa mampu berdiri dengan sempurna karena untung saja hanya high heelsnya yang patah.


Tapi karena dia tidak ingin mengubur kesempatan ini, Rosa lebih baik memilih untuk berpura-pura. Berpura-pura sakit agar Rosa mendapatkan kesempatan untuk lebih dekat dengan Anderson.


"Emm, Pak. Kaki saya sakit ..."


"Astaga. Kenapa tidak hati-hati?" Anderson sedikit panik. "Bram?"


Ah, sial! Anderson baru ingat kalau ia baru saja menugaskan Bram untuk mencari keberadaan Melia.


"Pak, kaki saya sakit sekali ... bisa kah anda sendiri yang mengantarkan saya pulang?"


"..."


"Tolong saya Pak ..."


Karena merasa bersalah, Anderson mau tidak mau menerima apa pun yang diinginkan oleh perempuan ini.


Tapi baru saja Anderson membantu Rosa untuk segera bangkit, tiba-tiba angin kencang berhembus lewat kaca jendela yang tadi terbuka. Angin itu begitu kencang hingga tanpa sengaja menghempaskan beberapa kertas dan juga dokumen di atas meja. Hingga tanpa sengaja ...


Pyar!


Sebuah figura jatuh ke atas lantai hingga membuat Anderson langsung menoleh, dan hanya Anderson, satu-satunya orang yang tahu kalau figura itu adalah foto dari Melia.


Dan disaat itu juga, kenapa Anderson merasakan perasaannya tidak enak?


Melia?


***


Hmft!


Melia dibungkam. Ia berusaha meronta-ronta tapi bayangan ini terus menerus membekap mulutnya.

__ADS_1


"T-tolong." Tapi sayang, suaranya tidak mampu didengar oleh siapa pun.


__ADS_2