Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
MENGANDUNG ANAK BRAM


__ADS_3

Satu hari ...


Dua hari ...


Hingga waktu terus berjalan, berlalu dengan sangat cepat. Sementara di tempat lain Rosa masih terus berdiam diri di kamar, melamun ke arah jendela yang terbuka di sana.


Tangannya bergetar ketika ia menatap semua kalender yang ada di atas meja. Ia menarik napas panjang kemudian menghembuskannya lagi dan lagi.


Satu malam itu ... tidak akan pernah mungkin ...


Rosa menggeleng-gelengkan kepalanya hebat. Jadwal bulanannya seharusnya sudah sejak dua hari yang lalu, tapi ... sampai saat ini ia belum mendapatkannya juga.


"Aku tidak mungkin hamil kan?"


Jantung Rosa seperti dicengkeram begitu erat, hingga sampai pada suatu ketika ia berjalan terburu-buru mengambil tes pack di dalam meja yang nekat ia beli tadi malam.


Buru-buru ia berlari ke arah kamar mandi, seluruh tubuhnya berkeringat, ia ketakutan setengah mati.


"Aku mohon, aku tidak mau mengandung anaknya."


Tapi,


Dua garis dua sudah terpampang jelas di sana hingga membuat Rosa syok setengah mati. Air mata itu nyatanya kembali menetes deras, seluruh kakinya lemas, ia tidak mampu lagi untuk berdiri.


"Bagaimana mungkin aku hamil dari laki-laki yang tidak bertanggung jawab ...?"


Rasanya sungguh sakit.

__ADS_1


Dan masa depannya, seperti dihancurkan begitu saja.


***


Anderson sudah tampak kacau sekarang ini. Baju yang ia pakai tampak kusut, rambutnya acak-acakan, mukanya lusuh, bahkan ia sudah lupa kapan terakhir kali ia membersihkan jambang di sekitar rahangnya hingga ia tampak semakin tidak terawat.


Mengenaskan ...


Mungkin itu lah definisi dari penampakan Anderson saat ini. Duduk di sebuah meja sambil terus mengerutkan dahi, kantung mata yang menghitam sangat ketara menandakan sudah beberapa hari dia tidak tidur sama sekali.


Baru kali ini ...


Anderson merasakan bahwa tidak ada Melia berada di sisinya. Biasanya setiap detail, setiap detik, dan setiap waktu, dia mengetahui keseharian Melia, tapi sekarang ...?


Anderson nyaris tidak mengetahui Melia berada di mana.


"Tuan ..."


"Brengs*k!!!"


Prang!


Pyar!


Bram hanya pasrah ketika Anderson melemparkan botol minuman ke arahnya, yang bahkan hampir mengenai mukanya.


Seluruh ruangan ini, nyaris tidak berbentuk sama sekali. Seluruh ruangan acak-acakan sudah mirip seperti kapal pecah.

__ADS_1


"Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan!"


Bram menghela napas.


"Kamu sudah membuat Melia menghilang bahkan sampai hari ini."


Bram mengangguk, memicingkan mata sebentar dan hanya menarik napas panjang.


"Untuk itu, saya datang ke sini untuk menebus kesalahan saya, Tuan."


Anderson dengan cepat menoleh, matanya melebar dengan apa yang tersirat akan kata-kata itu.


Dengan cepat Bram berjalan ke arah Anderson. Membentangkan seluruh foto-foto ke atas meja agar dan memperlihatkannya kepada Anderson.


"Ini foto yang sudah saya kumpulkan satu persatu."


"Sangat sulit untuk menemukan keberadaan nona Melia karena saya harus memeriksa satu persatu mobil dari semua pemilik mobil."


Dahi Anderson semakin mengerut.


Bram menghela napas saat ia teringat akan usahanya, tidak ada cctv di daerah sana tapi Bram berhasil mencari kamera yang terpasang di setiap mobil yang harus ia temukan satu persatu.


"Dan ini ... adalah rumah yang saat ini Melia tempati bersama dengan Reyan."


Dan kata-kata itu berhasil membuat mata Anderson membelalak hebat. Tanpa perlu ditunggu-tunggu lagi, ia langsung keluar melewati Bram dan berlari terburu-buru keluar dari ruangan ini.


"Kita harus ke sana sekarang juga!"

__ADS_1


__ADS_2