Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
KECURIGAAN


__ADS_3

Dan pada akhirnya mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Melia yang pada akhirnya tahu bahwa Reyan tidak mengkhianatinya, sedangkan Reyan tahu bahwa Melia memang bukan orang jahat yang pergi meninggalkannya.


Berulang kali mereka mengucapkan kata maaf atas semua kesalah pahaman ini. Mereka tidak menyangka bahwa mereka memang tidak mempunyai alasan untuk membenci satu sama lain.


"Aku antar kamu pulang,"


Melia tersentak, tapi sebelum Melia berpikir lebih jauh lagi, Reyan sudah menarik tangannya. Menggandeng tangan Melia dan memboncengnya untuk segera pergi dari sini.


Tiba-tiba saja, kenangan akan masa lalu mereka berputar kembali. Dan tentu saja, saat ada laporan masuk mengenai hubungan mereka, ada orang yang benar-benar panas di tempat lain.


Anderson terus mengamati setiap detail foto yang dikirimkan oleh beberapa penguntit yang sengaja ia kirimkan untuk Melia.


Anderson benar-benar marah. Tanpa sadar, seluruh isi kantornya sudah hancur berantakan. Bahkan saat Rio tidak sengaja masuk untuk memberikan laporan, ia berdiri di tempat dan tidak berani masuk. Karena ia sendiri pun tahu, bahwa ini tidak lain memang karena wanita itu. Apa pun jika mengenai perempuan itu, Anderson akan menggila jika semuanya tidak sesuai dengan rencana.


Muka Anderson merah padam. Pecahan kaca ada di mana-mana bahkan lembaran dokumen tersebar ke atas lantai. Buru-buru ia segera pergi, mengambil jasnya dan segera keluar.


"Tenang lah ... mau sampai kapan kamu seperti ini?" Rio memberanikan diri untuk menahan Anderson.


Tapi sepertinya Anderson terlanjur marah, dan ketika Rio tidak sengaja menatap ke arah layar monitor yang ada di ujung sana, Rio sudah cukup tahu kalau ini pasti terjadi karena Anderson melihat Melia dibonceng mesra oleh laki-laki lain.


"Sudah cukup kamu seperti ini. Biarkan perempuan itu bahagia. Lagi pula kamu juga sudah menanggung beban hidup perempuan itu selama ini. Biarkan cukup sampai di sini. Kamu sudah menebus kesalahanmu di masa lalu."


Napas Anderson memburu. Anderson sama sekali tidak mau mendengarkan Rio sama sekali.


***


"Terima kasih, Reyan."


Melia tersenyum ke arah Reyan saat ia berhasil mengantarkan dia pulang.


"Sama-sama, Mel. Jadi selama ini kamu tinggal di sini?"


Melia mengangguk. "Ya, setelah nenek meninggal, aku di sini supaya dekat dengan tempatku bekerja."


Reyan kemudian turun dari motornya. Ia menatap ke arah Melia dan tatapan itu adalah tatapan yang sama persis dengan tatapan Reyan sewaktu dulu.


"Apa kamu tidak penasaran?"


Melia berdehem. Melia tahu ke mana arah pembicaraan Reyan.


"Tentang semua ini kan?"

__ADS_1


"Ya, jujur aku masih penasaran kenapa semua ini terjadi." Tiba-tiba Reyan mengamati pandangan ke sekitar. Ia menatap ke segala arah dan mulai berkeliling.


Hari sudah mulai gelap saat Reyan mengantarkan Melia sampai ke tempat ini. Di sebuah perumahan sederhana dan benar-benar jauh dari keramaian. Sepertinya sisi kanan dan kiri rumah ini kosong.


Entah lah, ini semakin membuat Reyan curiga. Kenapa hanya rumah di dekat Melia yang dibiarkan kosong?


Bulu kuduk Reyan merinding. Entah lah, tiba-tiba dia merasa yakin kalau sepertinya ini memang di sengaja.


"Reyan? Kamu sedang apa?"


Tiba-tiba saja Reyan sudah berkeliling. Ia mulai berjalan mengitari rumah demi rumah hingga Melia mengikutinya dari belakang.


"Rey?"


"Mel? Apa kamu tidak curiga kenapa hanya rumahmu saja yang berdiri di sini? Bukan kah kamu bilang kamu mendapatkan harga murah oleh karena itu kamu bisa mengontrak di sini?"


Melia mengerutkan kening.


"Kalau murah, kenapa tidak ada orang lain yang juga ikut mengontrak di sini? Dan di depanmu, di samping kiri dan kanan rumahmu dibiarkan kosong. Apa kamu tidak curiga?"


"Eh?"


Melia tersentak kaget. Ia benar-benar tidak kepikiran.


Melia menahan napas.


"Rey! Jangan membuatku takut!"


"Aku tidak membuatmu takut. Aku hanya menganalisis fakta."


"Tapi."


"Katakan padaku. Apa ada yang aneh dalam hidupmu selama ini?"


Dahi Melia mengerut. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang.


"Aku mohon katakan padaku."


Srek. Srek. Srek.


Tiba-tiba terdengar sesuatu dari arah belakang rumah Melia. Seperti langkahan kaki dan membuat Reyan langsung berlari ke tempat itu.

__ADS_1


"Reyan tunggu!"


Melia ikut berlari. Tapi begitu Melia mengikuti Reyan, dan mereka sampai di belakang rumah Melia, mereka hanya menemukan sebuah rumah kosong.


Melia semakin takut, dan Reyan pun semakin curiga.


"Mel, katakan padaku. Sebenarnya, apa kamu memang tidak curiga atau benar-benar tidak menyadari setiap detail kejanggalan di hidupmu?"


"A-aku?"


"Katakan."


Wajah Melia semakin memucat.


"Se-sebenarnya. Aku juga sering merasa aneh."


Dan kata-kata Melia berhasil membuat Reyan terbelakak kaget. "Katakan apa itu."


"Sebenarnya, selama ini aku juga sedikit mencurigainya. Tapi ..."


***


Jantung **** berdegup kencang saat ia baru menyadari bahwa memang benar-benar ada kejanggalan di sini. Tanpa sengaja, ia menceritakan seluruhnya kepada Reyan. Menceritakan setiap detail tentang kehidupannya yang selama ini memang terasa janggal. Seakan-akan ada orang yang mengikuti Melia bahkan sejak awal.


Dari mulai kenapa ia begitu mudah mendapatkan beasiswa, begitu mudah mendapatkan pekerjaan, begitu merasa aneh karena ia juga merasa kalau selama ini ia seperti diikuti dan diuntit oleh orang lain.


Reyan berencana untuk menemani Melia sampai besok, tapi Melia menggeleng. Ia merasa kasihan dengan Reyan dan menyuruhnya pulang. Tapi Reyan janji untuk datang kembali besok.


Melia segera masuk ke dalam rumah karena ia amat merasa takut sekarang. Jantungnya berdetak kencang dan ia butuh waktu untuk mengendalikannya.


Seluruh ruangan Melia gelap gulita, buru-buru Melia segera mencari saklar untuk menghidupkannya.


Tapi, begitu Melia menghidupkan lampu, Melia terperanjat kaget saat melihat sosok orang berdiri angkuh di depan matanya.


"Pak Anderson!" Pekik Melia keras-keras.


***


**HAYOOO, SUDAH FOLLOW AUTHORNYA BELUM... HEHEHE.. SILAHKAN TINGGALKAN KOMEN, LIKE, DAN JANGAN LUPA SUBSCRIBE.


LOVE YOU

__ADS_1


ALALEANA**


__ADS_2