
Bulu kuduk Melia meremang begitu saja saat melihat ke arah sorot mata itu. Entah kenapa, sorot itu tampak berbeda. Ada sesuatu yang jelas-jelas Anderson sembunyikan tapi Melia tidak tahu itu apa.
"Tinggallah bersamaku, Melia."
Tapi nyatanya, permintaan itu hanya membuat Melia melenguh.
"Kenapa? Saya masih punya rumah walau ini hasil dari mengontrak."
"Tidak ada jaminan kalau laki-laki itu datang ke sini lagi."
"Reyan sahabat saya."
"Dengar Melia, tidak ada kata sahabat di antara laki-laki dan perempuan. Kamu tidak akan pernah sadar jika ada perasaan lain di antara kalian."
"Jangan seperti itu."
"Aku cemburu. Bisa kah kamu menuruti kekasihmu ini?"
"Tapi Pak?"
"Mau sampai kapan kamu memanggilku formal seperti itu?"
"Aku ... hanya belum terbiasa."
"Jangan panggil aku seperti itu? Ada kata yang lebih manis selain itu kan? Kamu bisa memanggilku sayang, cintaku, kekasihku."
"Itu membuatku merinding."
"Ha ha ha." Anderson malah terkekeh. Tapi kemudian, Anderson semakin menghimpit Melia lagi ke arah dinding, menyesap aroma Melia sampai hanya menyisakan beberapa inci di depannya.
"Pak? Apa yang anda lakukan?"
"Aku suka aromamu."
Melia semakin merinding ketika Anderson mulai menyapu semua leher dan wajahnya. Perlakuannya yang hangat tapi begitu lambat itu semakin membuat Melia gusar akan sesuatu.
"Jangan, anda ..."
Penolakan itu nyatanya malah semakin membuat Anderson kehilangan akal. Dia mulai menyentuh Melia di mana saja. Dan tubuh Melia tiba-tiba panas oleh sesuatu hal yang tidak bisa ia jelaskan.
__ADS_1
Buru-buru Melia mundur ke arah samping dan melepas semua itu. Hanya saja, Melia takut jika ini diteruskan, ia akan kebablasan.
"Kenapa kamu tidak suka aku sentuh?"
"Aku tidak bisa." Melia menggeleng.
Tapi sepertinya, Anderson paham akan hal itu. Dia membiarkan Melia untuk kembali bernapas sejenak dan masuk ke dalam rumah.
"Anda mau minum apa, Pak?"
"Kamu selalu menawariku minuman."
"Kalau begitu makan apa?"
"Memakanmu."
Melia melenguh. "Bisa kah anda tidak seperti ini lagi?"
"Bisa kah kamu tidak merubah topik pembicaraan?"
Melia memutar matanya.
Melia mengernyit. Anderson tahu apa yang ada di dalam pikirannya.
Anderson kembali melangkah ke arah Melia lagi. Masih dengan tatapan dingin dan angkuh, ia kembali menarik Melia dan menyudutkamnya di sisi meja.
"Kenapa anda seperti ini?"
"Aku akan memberimu dua opsi Melia."
"Opsi tentang?"
"Sepertinya aku tidak mau menunda-nunda lagi. Aku sudah benar-benar ingin memilikimu dan aku tidak punya waktu lagi untuk bermain-main."
"Maksud Bapak?"
Tiba-tiba saja Anderson merogoh ke arah saku jasnya. Mengambil satu kotakan merah dan menyerahkannya kepada Melia.
"Opsi pertama. Menikah lah denganku."
__ADS_1
Melia tambah mengernyit. Matanya malah menatap ke arah kotakan merah yang disodorkan oleh Anderson.
"Cepat ambil atau aku akan memberimu opsi kedua."
"Eh?" Melia tertegun. "Aku tahu kalau lamaran bisa sehoror ini. Benar-benar tidak sesuai dengan ekspetasiku."
"Aku bukan tipe yang romantis, Melia. Cepat ambil atau aku akan benar-benar melakukan opsi kedua."
"Opsi kedua?"
"Kamu tahu kalau Bram telah memberikanku ide dan menurutku itu ide yang brilian juga."
"Ide tentang?"
"Jika kamu menolak opsi pertama maka aku akan segera memperkosamu dan hamil anakku agar kamu tidak bisa lepas dariku."
"Orang gila!" Pekik Melia keras-keras.
"Ha ha ha. Sayangnya aku tidak bercanda. Dan ini semua harus aku selesaikan hari ini juga." Anderson mulai menyondongkan tubuhnya ke arah Melia.
"Jadi silahkan pilih, Melia."
"Opsi pertama kamu mau menikah denganku, atau opsi kedua, aku akan memperkosamu sekarang juga dan menghamilimu."
Sungguh. Ketika Anderson mengatakan akan hal itu, tiba-tiba sorot matanya berubah menjadi sungguh-sungguh. Sebuah pertanda, bahwa Anderson memang sedang tidak bercanda.
Melia gelagapan. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Tapi, Anderson malah semakin mendekat, menyondongkan tubuhnya dan semakin mendekat ke arah Melia hingga membuat tubuhnya benar-benar terhimpit.
"Aku ... aku sedang datang bulan." Entah dari mana asalnya tiba-tiba Melia mengatakan hal itu. Sebuah ide yang tiba-tiba muncul untuk membuatnya terhindari dari Anderson.
"Bulshit." Tiba-tiba Anderson tertawa. "Bahkan aku tahu setiap tanggal berapa kamu datang bulan. Dan hari ini, bukan kah hari ini adalah tepat dua Minggu setelah hari pertama menstruasi terakhirmu? Dan bukan kah hari ini masih dalam rentang masa suburmu?"
"A-apa?"
Ini gila. Benar-benar gila. Kenapa Anderson bisa tahu jadwal haidnya?
"Jadi silahkan pilih Melia. Menerima lamaranku dan besok kita menikah, atau aku harus memperkosamu sekarang juga!"
"Pak! Anda gila!"
__ADS_1
"Sudah kukatakan kalau aku memang sedang tergila-gila denganmu?"