
Melia kehilangan arah dan tujuan ...
Hujan yang sedari tadi hanya gerimis, kini semakin lebat hingga tubuh Melia terkena cipratan air. Halte yang teduh, nyatanya tidak membantu Melia sama sekali saat hujan terus menerus datang secara lebatnya.
Melia terisak. Ia nyaris putus asa. Ia sudah tidak mempunyai barang berharga sedikit pun saat ini. Tangannya mencengkeram erat, ia tidak tahu harus ke mana disaat hujan yang terus datang secara deras.
Di tempat lain, Reyan kewalahan. Ia benar-benar kebingungan ketika beberapa menit yang lalu ia berkunjung ke rumah Melia, namun tidak ada Melia di sana. Yang ada malah keluarga lain yang menempati rumah itu.
Hand phone Melia tidak bisa dihubungi, Reyan mencari ke mana pun, tapi, tidak ada satu orang pun yang tahu ke mana Melia pergi. Membuat Reyan tidak tahu lagi harus pergi ke mana lagi.
Reyan kemudian memacu motornya dengan kecepatan tinggi, entah kenapa Reyan mempunyai firasat buruk. Membuat Reyan segera menghidupkan motornya lagi dan nekat mencari Melia di tengah badai seperti ini.
***
Anderson masih berada di dalam kantor. Mengamati pergerakan Melia lewat kamera yang langsung tersambung dengan ponselnya.
Anderson tidak begitu saja melepas Melia, beberapa orang pengintai yang disuruh Bram untuk mengawasi Melia, masih saja menyorot kegigihan Melia yang masih tidak sudi untuk datang kepadanya.
"Melia ... kenapa kamu keras kepala sekali?" Anderson semakin memijit kepalanya yang semakin sakit. Hatinya juga merasa sakit ketika melihat Melia tengah kedinginan di halte bus.
Sial!
Anderson menggebrak meja. Anderson pikir, Melia akan tidak tahan, tetapi pertahannya sekuat baja hingga Anderson harus berdiri untuk segera melakukan tindakan.
Diraihnya jas yang tergeletak di ujung sofa. Napasnya memburu, ia harus menjemput Melia sekarang juga. Ia meremas tangan kuat-kuat, wanitanya apa memang harus sekeras kepala ini?!
Bagaimana mungkin Anderson tega melihat Melia kedinginan seperti itu?! Di tengah hujan badai dan dalam keadaan sendirian!
Sial!
Anderson yang mau tidak mau harus mengalah.
***
Reyan masih terus mencari, tapi ia tidak menemukan Melia di mana pun. Hanya ada satu informasi yang ia peroleh pada tetangga di ujung kompleks. Bahwa, mereka melihat Melia terusir dari rumah itu dengan membawa koper.
Reyan semakin khawatir. Kalau katanya Melia pergi dari dua jam yang lalu, intinya Melia belum benar-benar jauh dari sini.
__ADS_1
Reyan terus melakukan motornya dengan kecepatan tinggi. Sampai pada suatu ketika, secara kebetulan, Reyan tidak sengaja melihat Melia sedang terduduk di halte bus.
Buru-buru Reyan segera menghentikan motornya. Segera turun dan memastikan kalau orang yang ada di sana adalah benar-benar Melia.
"Melia?"
Begitu perempuan itu mendongak. Reyan segera menghela napas, Reyan lega luar biasa saat melihat kalau yang ada di depannya ini memang benar-benar Melia.
"Astaga, Melia. Aku mencarimu ke mana-mana."
Tapi Melia hanya diam saja. Melia masih tampak syok, wajahnya terlalu pucat. Rambutnya juga basah terkena air hujan dan menatap Reyan dengan begitu sendu.
"Mel?! Kamu baik-baik saja?!"
Setetes air mata turun, tapi lambat laun tangisan itu pecah dengan sangat deras. Bahkan, Melia sudah tidak kuat. Ia membungkam seluruh wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis sesenggukan di sana.
"Mel, katakan! Apa yang sebenarnya terjadi?"
Tapi Melia tidak kuasa untuk mengatakan apa pun. Yang ia rasakan hanya lah bayangan mengerikan tentang Anderson.
Ya Tuhan, kenapa baru sehari Melia masuk ke dalam daftar hitam, rasanya Melia benar-benar sudah merasa tidak sanggup?!
***
Laki-laki itu kenapa datang lagi?!
Di ponselnya, terlihat sosok Reyan yang tengah bersama Melia hingga benar-benar membuat Anderson murka.
"Percepat mobilnya sekarang juga!!!" Teriak Anderson.
"Baik, Tuan."
***
Di waktu yang sama, Rosa tengah kebingungan di sebuah kamar. Satu menit yang lalu Bram membawa Rosa sampai ke tempat ini. Di sebuah tempat yang Rosa tidak tahu di mana ini berada.
"Pak, kenapa anda membawa saya sampai ke sini?"
__ADS_1
Bram hanya menyeringai. Malam sudah gelap gulita dan sosok Bram yang berdiri angkuh di depan pintu hanya tampak seperti sebuah siluet. Membuat Rosa bergidik ngeri melihat sosok Bram yang seperti itu.
"Pak ...?
Tapi Bram hanya diam saja, dan kembali membuat Rosa menahan napas.
"Tolong jangan seperti ini. Anda membuat saya takut."
Tiba-tiba saja Bram melepaskan jas hitamnya, mulai melepas dasi yang ia kenakan dan mulai berjalan ke arah Rosa.
"Pak?! Anda mau apa?" Jantung Rosa berdegup tidak karuan. Ia mulai takut. Sungguh merasa takut.
"Pak, sepertinya ada kesalahan. Aku ingin pulang." Rosa ingin segera melangkah, tapi begitu tangannya menyentuh gagang pintu, Bram menariknya dengan paksa. Mendorong tubuhnya sampai ke atas ranjang.
"Mau apa KAMU?!"
Tapi secepat kilat, Bram langsung membungkam mulut Rosa rapat-rapat.
"Hmft. Lepas!"
Bram tidak tahu bahwa sedari tadi ponsel di dalam saku jasnya berkedip-kedip. Puluhan pesan yang dikirimkan seseorang terabaikan karena beberapa waktu yang lalu Bram sengaja men silent ponselnya saat bersama dengan Rosa.
Cepat berikan aku uang! Aku butuh uang! Sudah kukatakan beri aku nomor telefon bosmu, agar aku sendiri yang menelponnya!
Sial! Jika malam ini kamu tidak memberiku uang, aku tidak akan segan-segan memberi pelajaran kepada wanitanya!
Dasar bodoh! Aku bisa saja memberi tahu pada wanita itu kalau bosmu lah pembunuh orang tuanya!
Dan itu lah beberapa deret pesan yang dikirimkan seseorang kepada Bram.
***
So far so good?
or
So far so bad?
__ADS_1
Ditunggu komennya ya kakak...
oiya, mampir juga ke virgi not for sale.. wkwk.. aku kok suka promosi terus..