Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
SADAR AKAN PENGUNTIT


__ADS_3

Dalam keheningan malam, Melia masih tidak tenang di dalam tidurnya, ia meneliti waktu satu persatu. Ia berusaha semaksimal mungkin agar ia tidak tidur karena ia harus meyakinkan tentang sesuatu hal.


Jantungnya berdebar keras, walau pun matanya terpejam, ia masih tetap berusaha untuk terjaga. Sampai waktu berada di pukul dua belas tepat, dan Melia masih setia memastikan setiap kejanggalan yang ada.


Semua akan baik-baik saja kan? Ucap Melia di dalam hati.


Hingga waktu terus bergulir, satu jam berlalu, dua jam dan Melia masih tetap memastikan, tapi ternyata tidak ada apa-apa.


Saat ini, jam dua pagi. Melia langsung bangkit dan menoleh ke kiri dan ke kanan.


Astaga. Apa yang baru saja aku lakukan?


Melia menenangkan jiwanya sendiri. Seberapa keras ia berusaha untuk tetap terjaga, tapi ternyata, ini semua hanya perasaannya saja.


Melia sudah mengantuk berat. Ia mengusap-usap mukanya berulang kali dan semakin yakin kalau selama ini ia memang hanya perasaannya saja.


Tidak ada orang yang datang dan tidak terjadi apa-apa. Untuk itu, Melia memutuskan untuk segera tidur. Perasaannya jauh lebih tenang dan mungkin ia akan terlelap nanti.


Sampai pada akhirnya, Melia memang benar-benar sudah tertidur.


***


Melia tidak tahu bahwa ada yang mengamati dia dalam diam. Menggunakan sebuah ponsel yang langsung merekam semua kegiatan Melia di dalam kamar, Anderson segera bangkit setelah yakin wanitanya sudah tertidur.


Ternyata, Melia memang sudah mencurigai ada orang yang selalu datang ke rumahnya. Buktinya, dia berusaha semaksimal mungkin untuk tidak tidur tadi. Dan Anderson hanya bisa menaikkan sedikit alisnya.


Anderson kemudian melangkah, merogoh kunci yang selalu tersimpan di dalam saku celananya dan membuka pintu rumah Melia.


Sosok itu berdiri di sudut yang gelap. Di tangannya tergenggam sebuah tisu dan kini ia berjalan mendekat ke arah Melia.

__ADS_1


"Selamat malam sayang, aku datang." Dan itu kata-katanya sebelum pada akhirnya Anderson membekap mulut Melia.


***


Melia terbangun dari tidurnya. Tubuhnya terasa pegal seperti biasa saat ia bangun. Tapi, walau pun begitu ... Melia sudah jauh lebih tenang. Tadi malam, dia sudah memastikan bahwa semuanya memang hanya perasaannya saja, ia sudah berusaha untuk tidak tidur selama mungkin dan memang tidak terjadi apa-apa.


Melia tersenyum dalam paginya. Ia sedikit bersenandung ria ketika mengingat bahwa hari ini dia akan mengundurkan diri.


Cepat-cepat ia bergegas ke kamar mandi. Tapi begitu ia baru menginjakkan kakinya ke dalam kamar mandi, matanya langsung terbelalak sempurna. Ia terperanjat hingga langsung terpental jatuh ke atas lantai karena syok akan sesuatu.


"Apa-apaan ini?"


Melia membungkam mulutnya sendiri saat lagi-lagi ia melihat ke arah wastafel yang ada di sana. Sikat gigi yang kemarin ia yakini berada di dalam wadah kini terjatuh keluar. Sampo yang ia yakini sudah ia balik, kini berdiri seperti semula. Lalu, kloset yang ada di ujung sana juga terbuka dengan sendirinya. Juga butiran-butiran air yang ada di seluruh dinding kamar mandi telah membuat Melia yakin bahwa ada seseorang yang sudah menggunakan kamar mandinya baru saja.


"Astaga,"


Melia hampir menangis dibuatnya. Kali ini, dia benar-benar yakin kalau memang ada seseorang yang datang ke tempat ini. Datang ke dalam kamarnya dan menggunakan kamar mandi seperti apa yang dikatakan oleh Reyan kemarin.


Melia langsung meraih ponselnya, segera menghubungi seseorang yang dari kemarin menjanjikan Melia untuk kembali datang menolongnya.


"Reyan, Reyan. Aku mohon tolong aku. Bisa kah kamu segera datang ke sini?" Tangis Melia pecah, sementara di tempat lain Reyan segera pergi menuju ke tempat Melia.


***


Anderson sudah berada di dalam kantornya. Ia mengetuk-etuk meja berulang kali sambil menyipitkan mata.


"Bagaimana dia bisa sadar?"


Anderson mengerjapkan matanya. Saat ia meneliti layar di depannya, ia bisa melihat Melia begitu syok saat ia langsung terduduk dia sudut kamar mandi sambil memeluk tubuhnya sendiri.

__ADS_1


Sementara Bram, ikut menyipitkan mata.


"Apa Tuan melakukan kesalahan tadi malam?"


Tapi Anderson menggeleng.


"Aku hanya mandi seperti biasa."


"Kalau begitu kenapa nona Melia bisa sampai begitu histeris?"


"Ah, aku memang selalu lupa kalau untuk meletakkan sikat gigi dan botol sampo ke dalam tempatnya."


Bram menghela napas. Tapi, Anderson hanya tersenyum mengerikan.


"Tapi bagus lah. Pada akhirnya dia juga sadar bahwa memang ada orang yang menginginkannya, sudah sejak lama."


"Tapi itu menakutkan bagi nona Melia."


"Tidak apa. Toh, sebentar lagi dia akan menjadi milikku. Bagaimana pun caranya ..."


Bram mengerutkan kening. Tapi, baru saja Anderson berbicara dengan kepercayaan dirinya, sebuah layar yang menunjukkan seseorang lain yang tidak biasa muncul di depannya.


"Atau anda akan benar-benar kehilangan nona Melia karena ada laki-laki lain yang datang dan mampu melindungi nona Melia."


Mata Anderson membelalak sempurna.


Ini jelas-jelas bukan rencananya!


Di depan mata kepalanya sendiri, sosok Reyan datang ke dalam kamar Melia dan langsung memeluk Melia yang tampak syok berat dan terus menenangkannya.

__ADS_1


Muka Anderson merah padam. Di genggamannya ada sebuah bolpoin dan langsung terbelah menjadi dua.


Kurang ajar! Bagaimana bisa dia menyentuh wanitaku!


__ADS_2