Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
SAKIT JIWA


__ADS_3

Melia melangkah keluar dari ruangan Anderson, sungguh situasinya benar-benar sudah sangat kacau sekarang ini. Setelah Anderson mengumumkan bahwa ada hubungan di antara mereka, kini semua orang tampak menjauh dari sisi Melia.


Bahkan, ketika Melia melangkahkan kaki ke toilet, semua orang yang menjumpainya langsung menunduk, beberapa menyapanya dengan sapaan formal, dan beberapa lainnya lebih memilih pergi untuk tidak mau berurusan dengan Melia.


"Ya Tuhan, kekacauan apa yang sudah Anderson sebabkan?"


Lalu, dari arah lain terdengar langkahan kaki, Rosa berlari dari ujung lift dan kini bertemu dengan Melia dengan wajah yang tampak kacau.


"Melia ...? eh, maksudku nyonya ..."


"Ros. Apa kamu juga akan jadi seperti mereka? Tolong lah, kamu tahu aku benar-benar tidak nyaman jika kamu juga memperlakukanku seperti ini."


Rosa menggigit ujung bawah bibirnya sendiri. Tapi kemudian ia mengangkat wajahnya.


"Melia."


"Bagus."


Rosa menghela napas seper sekian detik ketika masih melihat begitu banyak orang di sini, tapi cepat-cepat ia langsung menarik tangan Melia agar pergi ke tempat yang lebih sepi.


"Mel, apa kamu sudah tahu gosipnya? Apa kamu sudah tahu apa yang dilakukan Tuan Anderson kepada Jinny dan teman-temannya sekarang?"


Mendengar hal itu wajah Melia langsung memucat. "Apa, Ros? Ada kabar apa tentang mereka? Aku ... sudah memaafkannya dan aku sudah meminta Anderson untuk tidak macam-macam dengannya."


Tapi Rosa menggeleng. "Tidak, Mel. Salah besar jika Tuan Anderson dengan begitu mudahnya menarik ucapannya. Bahkan sekarang Jiny sudah hampir di bawa ke kantor polisi. Ah, tidak, bukan hanya itu. Kamu tahu apa makna daftar hitam yang diberikan Anderson?"


Melia menahan napas. Jelas dia tahu tentang itu semua.


"Bukan hanya Jinny, dalam hitungan menit keluarganya hancur berantakan. Seluruh adik-adiknya di keluarkan dari sekolah yang mana semua itu yayasan milik Tuan Anderson, Ayah dan Ibunya yang bekerja di sebuah perusahaan swasta juga ikut dipecat, bahkan sekarang keluarganya telah diusir dari rumah dinas milik orang tuanya."


"A-apa?"


"Bukan hanya itu. Tapi ini terjadi kepada seluruh teman-teman Jinny yang melukaimu."


Melia melotot tajam, ia membungkam mulutnya sendiri.

__ADS_1


"Dan kamu tahu apa yang lebih menyeramkan?"


"..."


"Seluruh keluarga bahkan Jinny dan lainnya, di black list dari daftar perusahaan mana pun, itu berarti mulai saat ini akan sangat tidak mungkin mereka mencari pekerjaan lagi."


Melia hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rosa. Anderson benar-benar ...!


Tidak! Melia harus menghentikan Anderson sekarang juga!


"Ros, di mana Jinny dan lainnya?"


"Dia di ruang bawah. Aku tadi tidak sengaja melihat Pak Bram menariknya dengan sangat tidak manusiawi."


Buru-buru Melia langsung berlari secepat kilat, pergi dari sini untuk pergi menemui Jinny. Dan benar saja, Jinny tampil dengan sangat mengenaskan. Berlutut ke arah Bram tapi Bram hanya memasang wajah acuh tak acuh kepadanya.


"Jinny?"


Begitu Jinny melihat ke arah Melia, Jinny tertatih-tatih pergi ke arahnya. Duduk bersimpuh dengan deraian air mata penuh keputus asaan.


Dan ucapan minta tolong itu berhasil membuat Melia merasa kasihan kepadanya. Terlepas dengan apa yang sudah Jinny lakukan beberapa waktu yang lalu, tapi saat Melia melihat keadaan Jinny yang seperti ini, Melia benar-benar tidak tega.


"Tolong katakan kepada Tuan Anderson untuk tidak melakukan apa pun pada keluargaku. Ayahku sedang pengobatan mengenai jantungnya, dan saat ini Tuan Anderson juga mem black list seluruh rumah sakit untuk tidak menerima Ayahku berobat."


Dan satu kenyataan mengerikan lainnya berhasil membuat Melia menahan napas. Sungguh. Melia tidak tahu kalau Anderson bisa sekejam dan semengerikan ini.


Jinny menangis tersedu-sedu. Ia bersujud dan merangkak di bawah kaki Melia.


"Jinny, bangun. Astaga, tolong jangan lakukan ini." Pinta Melia, sementara Rosa juga ikut merasakan ketakutan yang luar biasa saat mendengar dengan telinganya sendiri bahwa kekejaman Tuan Anderson ternyata memang nyata adanya.


Rosa menoleh ke arah Bram. Lelaki itu ...! Ternyata dia sama saja! Dia benar-benar tidak mempunyai rasa manusiawi sedikit pun!


"Melia, aku mohon. Maafkan aku. Bagaimana aku bisa hidup setelah ini. Dan adik-adikku, biarkan dia mempunyai masa depan." Air matanya terus berderai hingga membuat Melia benar-benar harus melakukan sesuatu.


"Jinny, aku sudah memaafkanmu. Aku janji aku akan mengatakan pada Anderson kalau dia harus menarik semua kata-katanya."

__ADS_1


"Tidak ada yang harus aku tarik, Melia." Tiba-tiba terdengar sebuah suara. Ternyata Anderson sedari tadi juga mengikuti ke arah Melia pergi, yang lari tunggang langgang membela orang yang sudah menyakitinya.


"Anderson?"


"Mel, apa kamu gila? Kamu baru saja membela perempuan yang tadi sudah menginjak-injak harga dirimu!"


Melia yang tadi ikut berjongkok dan menenangkan Jinny, kemudian berdiri dan melangkah ke arah Anderson.


"Kita perlu bicara." Pekik Melia dengan sorot mata yang sangat tajam.


"Oh, tidak. Kalau kamu ingin aku menarik ucapanku aku tidak akan pernah melakukannya. Aku harus menunjukkan ke semua orang bahwa tidak ada satu orang pun yang bisa menyakiti semua hal milikku."


"Apa kamu benar-benar tidak mempunyai hati? Apa kamu juga harus merusak keluarganya?"


"Itu hanya pelajaran, Melia."


Air mata Melia tidak sengaja menetes. Sungguh. Ia baru sadar kalau orang yang ia sukai nyatanya benar-benar sangat kejam. Anderson tidak mempunyai hati dan lebih mirip seperti monster.


Jauh di dalam hatinya, Melia semakin tidak yakin kalau dia akan bisa menikah dengan laki-laki seperti ini. Laki-laki yang bahkan sudah mirip sebagai orang yang sakit jiwa.


Tiba-tiba, Melia menggigit ujung bawah bibirnya sendiri. Sungguh. Anderson benar-benar sangat keterlaluan. Tanpa sadar, Melia mengepalkan tangan erat-erat.


"Tarik ucapanmu atau aku ..."


Suara Melia berubah serak. Ia ingin menangis saat ini juga. Tapi tiba-tiba, Melia menggeleng. Ia kemudian melepas cincin pemberian Anderson dan mengembalikannya kepada Anderson.


"Aku tidak bisa menikah dengan laki-laki kejam seperti anda. Anda sangat keterlaluan. Aku ... menarik ucapanku tentang tadi malam."


"Melia?!"


"Apa kamu tidak sadar? ... Kamu ... sakit jiwa."


***


Hai, update tiap hari ya .. wkwk.. oiya, jangan lupa mampir di virgin not for sale.. update tiap hari jugak..

__ADS_1


;)


__ADS_2