Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
ROSA DAN BRAM


__ADS_3

Anderson menarik napas panjang, menghembuskannya berat ketika ia masih duduk di sini, memandang pada kaca jendela pintu ruangannya saat Bram kembali untuk melaporkan keadaan Melia saat ini.


"Melia bagaimana, Bram?"


"Nona Melia masih keras kepala, Tuan. Dia masih bertahan hingga sampai sekarang ini."


Anderson mengernyit, tiba-tiba ia merasa sangat pusing. Perempuannya ... kenapa dia mempunyai kepala yang sangat keras.


"Di mana dia sekarang?"


"Dia kehilangan tujuan, Tuan. Nona Melia sepertinya masih frustrasi ketika dia diusir dari rumah dan saya menyabotase seluruh uang tabungannya."


Gigi Anderson gemeletuk, Bram sudah melakukan hal sedemikian rupa tapi Melia masih saja bertahan. Sebenarnya, mudah bagi Melia untuk datang kepadanya, dan Anderson pasti sudah menyambutnya. Tapi, Melia malah melakukan hal sebaliknya.


"Lalu, apa yang akan kita lakukan Tuan?"


"Tunggu sebentar lagi."


Bram mengangguk kemudian pergi dari sini. Dan saat ini, ketika ia melihat punggung Bram yang pergi dari ruangan ini, Anderson menyesal, kenapa dia tidak mempertimbangkan usulan Bram tempo hari.


Sementara di ujung lift, seseorang tengah berjalan terburu-buru, raut muka Rosa tampak begitu khawatir. Kerutan yang ada di dahinya semakin tambah saat ia baru saja mendapatkan telefon dari Melia.


"Pak Bram, tunggu ..."


Mendengar seseorang memanggilnya, Bram segera menghentikan langkah.


"Apa yang sudah anda lakukan kepada Melia?"


Bram menyipit. Ia melihat tangan Rosa bergetar hebat. Bram yakin sekali Rosa ketakutan saat berhadapan dengannya, tapi perempuan ini sepertinya masih mempunyai nyali ketika mendapati sahabatnya diperlakukan dengan tidak manusiawi.


"Jadi ... anda ... kalian ... benar-benar memasukkan Melia ke dalam daftar hitam."


Bram mengangguk.


"Apa anda tidak mempunyai hati? Melia bahkan kebingungan mencari tempat tinggal."


Bram tanpa sengaja melihat ponsel Rosa yang berdering. Sudah dapat dipastikan kalau Melia saat ini sedang putus asa dan meminta bantuan kepada Rosa.


"Apa Melia sedang berusaha meminta tolong?"


Jantung Rosa berdetak keras.


"Tidak ada salahnya jika aku memberinya bantuan untuk menginap di rumahku."


Mata Bram menyipit.


"Jangan ikut campur."

__ADS_1


Rosa terhenyak.


"Sekali kamu ikut campur, nasibmu akan sama dengan Melia."


"Apa?!"


"..."


"Daftar hitam ...?"


Bram mengangguk. Dan untuk kesekian kalinya, Bram melihat tangan Rosa kembali bergetar. Wajahnya semakin pucat dan keringat dingin mulai bercucuran.


"Kamu takut ...?"


"Tapi, apa salahku? Aku hanya membantu ..."


"Sekali lagi jangan ikut campur."


Dan detik itu juga ponsel Rosa kembali berkedip-kedip. Nama Melia kembali muncul di atas layar dan Bram kembali memergokinya.


Tanpa pikir panjang Bram langsung meraih ponsel itu dan membantingnya sampai ke atas lantai. Membuat Rosa terhenyak kaget dengan apa yang baru saja Bram lakukan. Dan setelah ponsel itu pecah dan berceceran ke atas lantai, Bram kemudian mengambil itu dan membuangnya ke tong sampah.


"Apa yang kamu lakukan?!"


Tiba-tiba saja Bram menarik tangan Rosa. Pergi menjauh dari sini sambil membawa Rosa dengan paksa.


"Aku harus mengurungmu selama beberapa waktu."


"Apa?!"


"Apa maksudmu?"


Tiba-tiba saja Bram sudah memasukkan Rosa ke dalam mobil, membawanya pergi entah ke mana dengan kecepatan tinggi.


"Pak! Apa yang bapak lakukan?!"


"Anggap saja aku sedang menculikmu."


"Anda sama gilanya dengan Tuan Anderson."


Bram tiba-tiba tertawa. Sebuah pemandangan yang jarang sekali ditemukan dari sisi Bram.


"Tapi paling tidak, aku jadi tahu bagaimana rasanya."


"Rasa tentang?" Sungguh. Rosa benar-benar tidak mengerti.


Bram hanya menatap Rosa penuh arti. Tapi kemudian, ia kembali mengebut di tengah jalan raya. Membuat Rosa semakin ketakutan dengan apa yang dilakukan oleh Bram.

__ADS_1


Lalu, lampu merah menyala. Bram mengerem mendadak hingga Rosa terlonjak sampai ke depan.


"Aw."


Bram hanya menatap dingin Rosa.


"Anda membuatku takut."


Tetapi sesaat kemudian, Bram mengamati Roda lekat-lekat. Mengamati Rosa dari bawah sampai atas lalu menahan napas beberapa detik.


Dan sekarang, Rosa yang memergoki Bram menatapinya seperti itu.


"K-kenapa anda menatap saya seperti itu?"


"Aku akan buktikan kepada Tuan Anderson, bahwa opsi yang pernah aku berikan padanya beberapa waktu yang lalu, jauh lebih baik dibandingkan hanya bersabar menunggu perempuan membuka tangannya lebar-lebar untuknya."


Rosa semakin mengernyit. Ia semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Bram.


"Apa yang anda katakan? Aku sama sekali tidak mengerti."


Begitu lampu hijau menyala, Bram segera melajukan lagi mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sementara, Rosa masih tidak mengerti dengan apa yang sedang direncakan oleh Bram.


***


Di tempat lain, di sebuah halte bus, Melia semakin khawatir. Ia kembali mencoba menghubungi Rosa, tapi Rosa sama sekali tidak menjawabnya.


Bahkan sekarang, ponselnya mati dan Melia semakin tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa pun.


Hujan mulai turun dan hari mulai gelap. Beberapa mobil lalu lalang, dan suara klakson terdengar berbunyi nyaring, tapi entah kenapa itu malah membuatnya semakin sepi.


Melia merasa hidupnya seperti tersudut dan terasingkan. Ia baru sadar, bahwa ancaman Anderson nyatanya memang benar-benar mengerikan.


Melia mulai kelaparan ...


Jika ia menggunakan uangnya untuk makan, ia takut ia tidak mempunyai pegangan lagi untuk mencari tempat penyewaan. Hanya sebatas roti yang ia pegang dan air mineral yang mungkin bisa mengganjal isi perutnya.


Melia tidak sadar bahwa seseorang sedang mengamatinya. Laki-laki dengan rambut acak-acakan dan pakaian compang-camping itu tiba-tiba langsung berlari, menjambret tas yang Melia pegang dengan secepat kilat tanpa Melia sadari.


"Astaga!"


Terlambat. Orang itu sudah membawa seluruh tas yang berisi ponsel, dompet dan barang berharga lainnya.


Melia kembali menangis.


Anderson ... kenapa kamu benar-benar sangat kejam?!


***

__ADS_1


Hai, tengok Virgin not for sale juga ya .. update tiap hari juga ;)


Kamciak ...


__ADS_2