Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
PATAH HATI


__ADS_3

"Anderson! Anderson! Anderson!"


Sesuai dugaan Anderson, Melia berlari dengan terburu-buru. Napasnya tersengal-sengal, peluhnya menetes ketika ia menatap dan mendongak ke arah Anderson.


"Aku mohon ... tolong lah aku. Tolong lah Rosa."


Ya, sekali lagi Anderson sudah bisa menebak. Selama ini dia selalu menguntit Melia, bohong rasanya kalau dia tidak tahu apa yang akan dibicarakan oleh Melia.


"Ya, aku tahu."


"Eh?"


"Kamu pasti akan meminta tolong padaku mengenai Rosa kan? Rosa pasti sedang putus asa, dan berharap kamu mau meminta bantuanku agar menjauhkan Bram dari sisinya."


Mata Melia melebar. Tapi kemudian Melia menganguk-anggukan kepalanya.


"Kamu sudah tahu ...?"


Anderson hanya menyunggingkan sebelah bibirnya saat menatap ke arah Melia, tapi sejenak ia kemudian mengelus kepala Melia lalu berakhir memeluknya.


Melia mengernyit, sebenarnya ada apa dengan Anderson? Kenapa tatapannya seperti orang yang sedang terluka tadi ...?


"Anderson ...?"


"Aku sudah mengenalmu jauh sebelum kamu tahu, bohong rasanya kalau aku tidak tahu apa yang akan kamu minta dariku."


Lalu pelukan itu semakin erat, Anderson menenggelamkan kepalanya lagi seperti bersembunyi.


"K-kamu ...? kenapa kamu seperti ini ...?" Melia ingin melepas pelukan itu tapi Anderson menahannya.


"Anderson, kamu seperti orang yang sedang patah hati."


"Aku memang sedang patah hati ...?"


"Eh?" buru-buru Melia melepas pelukan itu. Melia kemudian menatap lekat-lekat Anderson dengan seksama. Bawah matanya cekung, bola mataya tampak memerah serta napasnya yang terdengar terasa berat.


Anderson ... seperti baru saja menangis ... tapi ... kenapa ...?


"Tapi tenang saja ... aku sudah melakukan semua yang aku bisa ..." lalu tiba-tiba terdengar langkahan kaki, ada puluhan orang berseragam hitam dari sudut sana tampak bergegas kemudian berlari ke arah tempat di mana kamar Melia dirawat.


Melia kebingungan dengan mereka. Semua orang terlihat terjaga. Mereka berdiri di samping kamar Rosa juga berada di seluruh sudut rumah sakit.

__ADS_1


"Anderson ...?"


"Sudah aku katakan, kalau aku akan menuruti semua ucapanmu. Aku janji ... aku akan ikut melindungi sahabatmu itu. Jangan khawatir, Bram tidak akan pernah berani mendekat. Aku sudah menyuruh para pengawal-pengawal itu untuk langsung menghajar Bram jika dia nekat datang lagi ke tempat ini sampai mengganggu Rosa."


Melia membungkam mulutnya sendiri merasa tidak percaya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dan sepertinya Anderson memang tidak berbohong.


"Terima kasih, An."


Anderson tersenyum lalu memeluknya lagi. "Bisa kah aku memelukmu lagi? Aku sedang patah hati dan kamu tahu itu ..." begitu ucapnya hingga Melia langsung mengerti dengan apa maksud dari ucapan Anderson.


Bram ...


Tidak salah lagi, Melia tahu, seberapa dekat mereka ...


Lalu pada akhirnya Melia membalas pelukan itu. Mempererat pelukannya lagi dan lagi ...


"Terima kasih ... kamu sudah berkorban sampai sejauh ini."


Dan Anderson, tidak bisa menyembunyikan tangisannya lagi.


Anderson memang benar-benar sedang patah hati.


***


Ia kemudian pergi untuk sejenak saja, tapi ia berjanji ... ia akan segera kembali untuk merebut sesuatu yang seharusnya miliknya.


Rosa ...


***


Hingga pada akhirnya ...


Waktu berlalu dengan sangat cepat, Anderson tetap memenuhi semua janji-janjinya kepada Melia. Dia tetap menjaga Rosa, walau pun Rosa sudah keluar dari rumah sakit, ia tetap menaruh banyak sekali pengawal untuk menjaganya.


"Terima kasih, Pak. Saya tidak tahu harus bagaimana untuk mengucapkan rasa terima kasih itu ..."


Anderson mengangguk. Melia pun ikut tersenyum ketika mereka telah mengantar Rosa sampai ke rumah.


"Nanti, setelah kau sudah merasa baik kembali lah lagi ke kantor. Anderson sudah berjanji untuk menerimamu lagi. Lagi pula, itu juga akan memudahkan Anderson untuk menjagamu dari Bram."


Rosa menarik napas panjang kala mendengar nama itu. Rasanya menyakitkan saat ia teringat lagi akan sosoknya.

__ADS_1


"Terima kasih, Mel."


Melia memeluk sahabatnya itu kemudian pamit.


"Kamu sudah baik-baik kan? Kita akan pulang dulu."


Rosa mengangguk, kemudian tersenyum sambil melambaikan tangannya.


Lalu ... di sini lah saat-saatnya. Melia, belum pernah bisa setenang ini. Semua masalahnya selesai satu persatu dan itu semua berkat Anderson.


Mereka bergandengan tangan saat berjalan keluar dari ruang Rosa. Rasanya sangat lega ketika pintu itu ditutup, Rosa sudah bisa tersenyum. Beban di kepala Melia sepertinya perlahan-lahan menghilang.


"Terima kasih, An."


Langit sudah hampir gelap, senja sebentar lagi usai, Anderson ikut tersenyum saat Melia juga tersenyum ke arah dirinya.


"Ada sesuatu hal yang harus kita pikirkan setelah ini."


"Apa itu ...?"


"Pernikahan kita."


Mendengar itu Melia tersenyum lagi.


"Ya, tentu saja."


Lalu mereka tertawa bersama, memeluk satu sama lain dengan sangat erat.


"Maaf karena sudah membuatmu terlalu lama menunggu ..."


***


Yeayyyy...


maaf ya dikit ...


masih lemes, karena beberapa waktu kemaren aku emang kena covid.. tapi untung gejalaku ringan ... aku cuman mampu bikin cerita satu dua doang, dan itu aku update di w a t t p a d.. wkwk


terima kasih sudah menunggu HT Anderson. janji kok bakalan ditamatin disini ..


thank u ..

__ADS_1


__ADS_2