Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
MALAM PEMAKSAAN


__ADS_3

"Pak Anderson!" Melia masih membelalakkan mata karena tidak percaya dengan kehadiran Anderson di sini. Perlu berulang kali Melia meyakinkan diri bahwa yang berdiri di sana adalah benar-benar Anderson. Walau pun dengan keadaan yang sedikit berbeda.


Ralat. Sangat berbeda.


Anderson yang biasanya rapi kini benar-benar berantakan. Rambut yang selalu pada tempatnya kini sudah berlari ke mana-mana. Jas yang ia kenakan sudah kusut, kemeja bagian dalam itu saling keluar dan sudah hampir tak tertata sama sekali. Raut mukanya merah dan kacau balau itu kini memandang Melia dengan sangat tajam.


"Pak Anderson? Kenapa anda ke sini? Dan ... kenapa anda bisa masuk?" Kerutan yang ada di dahi Melia semakin terlihat dan membuatnya sedikit ketakutan.


Apa lagi ketika melihat Anderson yang kini juga langsung melangkah ke arah Melia tanpa mau berkata sepatah kata apa pun.


"Ini rumah saya. Apa yang anda lakukan di sini? Maaf, tapi sebaiknya anda pergi dari sini." Pekik Melia. Jujur, ia juga merasa tersinggung saat melihat Anderson yang tanpa izin datang ke mari. Apa lagi sudah berada di dalam rumah.


"Siapa yang menyuruhmu berkencan dengan laki-laki lain selain diriku, Melia?" Dan suara baritonnya menggema. Suara yang datar tapi entah kenapa terasa menakutkan bagi Melia.


"Si-siapa?" Melia mulai melangkah mundur ke arah belakang. Ia tampak waspada, sungguh, Melia benar-benar takut sekarang ini. Apa lagi, Anderson yang terus berjalan ke arah dirinya.


"Aku tidak pernah mengizinkanmu untuk bertemu, tersenyum, apa lagi berboncengan mesra dengan lelaki lain, asal kamu tahu!!!" Dan kini, suaranya mulai meninggi. Membuat Melia semakin ketakutan.

__ADS_1


"Pak! Bisa kah anda diam disitu tanpa harus berjalan ke mari?"


"Mau sampai kapan kamu jual mahal?"


"Tutup mulut Bapak!"


"Panggil aku Anderson, Melia! Aku paling benci saat kamu memanggilku seperti itu! Jangan biarkan ada jarak di antara kita."


"Lebih baik anda keluar! Kenapa Bapak bisa datang ke sini?!"


"Apa kamu lupa kalau kamu tidak mengunci pintu itu?!"


"Tidak, Melia. Kamu lupa. Apa karena kamu sedang berbunga-bunga dengan lelaki itu hingga kamu lupa segalanya?!"


Dan kini, Anderson semakin mempercepat langkahan kakinya. Ia segera menuju ke arah Melia dan menarik tangan Melia erat-erat. Dan dengan cepat, Anderson langsung menjatuhkan Melia sampai jatuh ke arah sofa.


"Apa yang anda lakukan?! Lepaskan!"

__ADS_1


"Aku sudah cukup bersabar menghadapimu, tapi kali ini aku sudah tidak mau lagi menunggu."


"Pak! Lepaskan saya!"


"Aku akan melepaskanmu, tapi setelah kamu berjanji untuk menuruti semua ucapanku. Menjadi milikku dan selamanya milikku!"


"Apa anda sudah gila?!"


"Aku cinta padamu, tidak bisa kah kamu mencoba mencintaiku?"


"Lepaskan!" Melia semakin meronta, tubuhnya menggeliat. Sementara itu nyala mata Anderson semakin tajam. Hari ini, Anderson benar-benar seperti orang yang kerasukan.


"Mungkin hari ini aku akan sedikit memaksamu!"


"Anda jangan macam-macam! Sekali Anda macam-macam saya akan ..."


"Berteriak maksudmu?" Ha ha ha. Tawa Anderson menggema. Tapi secepat kilat ia langsung membungkam mulut Melia keras-keras hingga Melia tidak bisa berkutik lagi.

__ADS_1


"Hmft!" Mata Melia menyala nyalang. Tangan Anderson sudah mengunci tubuh dan mulutnya hingga benar-benar tidak bisa membuat Melia bergerak lagi di bawahnya.


Ya Tuhan, apa yang akan dia lakukan?


__ADS_2