Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
OBSESI


__ADS_3

Melia segera turun dari atas ranjang, berulang kali ia menyeka air matanya sambil mengambil pakaiannya yang tercecer satu persatu di atas lantai.


"Mel, tetap lah di sini. Aku akan bertanggung jawab atas semua yang aku lakukan padamu." Anderson ikut bangkit, tapi sepertinya, Melia sudah tidak mau mendengarnya lagi.


"Melia ...."


"Lepaskan saya, Pak!"


Sungguh. Melia sudah sangat emosi. Ia benar-benar marah, ia sangat kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Anderson.


Dan bagaimana mungkin Anderson menidurinya disaat Melia tidak berdaya seperti itu?!


Melia terisak. Saat ini ia sudah berhasil memakai pakaian lengkapnya.


"Mel, kita sama-sama tidak sadar waktu itu. Jika aku benar-benar melakukannya, aku janji akan bertanggung jawab!"


Melia hanya bisa memicingkan mata sebentar, tapi kemudian ia berjalan ke arah pintu dengan terburu-buru.


"Maaf, tapi saya tidak membutuhkan tanggung jawab anda!" Melia memekik sambil menggebrak pintu dengan sangat keras.


Melia kemudian berlari, ia masih terus menangis ketika naik menggunakan taxi hanya untuk ke Bandara. Melia nekat untuk pulang sendiri, meninggalkan Anderson di sana seperti sudah tidak perduli lagi.


***


Sementara di dalam ruang sana, Anderson hanya bisa mematung menatap ke arah pintu yang baru saja dilewati Melia dengan tatapan nanar. Tangannya mengepal kuat disertai dengan hembusan napas yang tiba-tiba langsung memburu.


Giginya gemeletuk. Sepertinya, rencana yang ia pakai sama sekali tidak berhasil hingga membuat dirinya benar-benar marah.

__ADS_1


Tiba-tiba Anderson berjalan ke atas meja, ia kemudian mengambil vas yang ada di sana dan membantingnya kuat-kuat.


Sial! Melia tidak berhasil masuk ke dalam perangkapnya! Dan satu-satunya hal yang harus ia lakukan adalah, ia terpaksa menggunakan cara yang lain.


Jika Anderson tidak bisa memiliki Melia dengan cara yang sedikit halus, mungkin ... Anderson akan memilikinya dengan cara yang sangat kasar.


Karena Anderson, tidak akan pernah bisa jika tidak memilikinya.


***


Lampu terlihat remang-remang saat Anderson masuk ke dalam sebuah ruang di mana ini adalah kamar pribadinya.


Waktu sudah hampir tengah malam dan ia baru saja pulang. Saat tadi Anderson menyusul Melia ke Bandara, ia terlambat beberapa menit hingga Anderson harus menunggu pesawat berikutnya.


Anderson melepas dasinya ke sembarang tempat, mukanya masih merah padam menahan amarah ketika ia mengingat kejadian tadi pagi.


Dia masuk ke dalam kamar dan mulai menyalakan lampu. Anderson memicingkan mata, menatap ke semua dinding kamar miliknya yang sudah dipenuhi dengan foto-foto Melia.


Anderson memiliki setiap detik dan setiap detail kegiatan Melia sehari-hari bahkan sejak dulu. Saat Melia menggunakan seragam putih abu-abu, saat berada di bangku kuliah, sedang makan, hingga berkumpul bersama dengan teman-temannya.


Melia tidak sadar, bahwa ada seorang penguntit yang dari dulu mengikuti hidupnya. Bahkan disudut sana, ada sebuah layar yang menunjukkan bahwa layar itu adalah rekaman cctv dari rumah Melia.


"Melia, kenapa kamu sangat sulit untuk didapatkan?"


Hingga pada akhirnya Anderson mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Dan hanya butuh waktu lima menit, Bram sudah ada di hadapannya.


"Ya, Tuan. Anda memanggil saya?"

__ADS_1


Anderson mengangguk. Tapi tatapannya tidak berhenti untuk terus menatap ke arah foto Melia yang ada di depannya.


"Pecat saja Melia, Bram."


Mendengar hal itu mata Bram membelalak hebat.


"Maaf, Tuan?"


"Ya, pecat saja. Ancam dia karena sudah mengakhiri kontrak dan dia harus mengganti rugi. Katakan padanya untuk memohon ampunan padaku dan ancam dia dengan beribu alasan."


Mendengar hal itu, Bram mengerutkan kening tidak mengerti.


"Dan lakukan dengan cara apa pun, kamu bisa membuat hidupnya menderita. Mungkin kamu harus mengusirnya dari rumah itu, buat dia kehilangan apa pun dalam hidupnya, buang semua fasilitas yang dia miliki, hingga ia merasa sudah benar-benar tidak mempunyai apa-apa lagi."


"Tapi, Tuan. Anda sangat mencintai nona Melia."


"Karena hanya dengan cara itu, Bram. Agar aku bisa memilikinya."


"Tunggu, maksud Tuan."


"Dan setelah dia berada di titik keputus asaan, katakan padanya, bahwa hanya aku satu-satunya orang yang dapat menolongnya."


Bram berhasil menganga dibuatnya. Ia menelan salivanya pasrah saat ia mulai mengerti dengan apa yang sebenarnya direncanakan oleh Tuannya.


Bram langsung mengangguk. "Baik, Tuan. Akan saya laksanakan sesuai perintah anda."


Bram kemudian pamit, meninggalkan Anderson yang tanpa sedetik pun menoleh ke arahnya dan hanya terus menatap wajah Melia yang tersenyum lebar di foto itu.

__ADS_1


"Kapan kamu bisa tersenyum dan tertawa lepas seperti itu di hadapanku, Melia?" Tanya Anderson di tengah keheningan malam.


Sementara itu, Melia tidak tahu ... bahwa sebentar lagi, mungkin nasibnya akan terancam. Anderson sudah benar-benar terobsesi pada dirinya.


__ADS_2