Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
REYAN DAN ROSA


__ADS_3

Reyan terengah-engah, ia terbatuk-batuk. Saat ia membuka mata, ia sudah melihat matahari terbit dari ufuk timur.


"Di mana ini ...?"


Seluruh tubuhnya terasa nyeri, perut dan wajahnya membiru bekas luka lebam yang ditinggalkan Bram malam itu.


"Sial ..."


Reyan kembali terbatuk. Ia mencoba berdiri meski ia teramat lelah dan kesakitan.


"Astaga Melia ..."


Dan yang pertama kali Reyan ingat adalah Melia. Hatinya seperti di cengkeram kuat ketika menyadari bahwa sudah tidak ada Melia lagi berada di sampingnya. Menandakan suatu fakta bahwa Melia berhasil ditangkap oleh laki-laki bajingan itu.


"Kurang ajar!!!" Entah sudah ke berapa kali Reyan mengumpat. Ia frustrasi, tapi ia mencoba berjalan lagi, ia tetap berusaha untuk membawa Melia berada di sampingnya lagi. Ia berjanji untuk mendapatkan wanitanya lagi.


Tapi ...


Di sekitarnya penuh dengan semak-semak belukar. Pematang sawah membentang luas di sepanjang ia memandang. Reyan bahkan terbangun di pinggiran jalan dan Reyan belum tahu ia ada di mana.


"Di mana ini?"


Hingga pada akhirnya ia melihat seorang laki-laki paruh baya menggunakan sepeda dengan caping di atas kepala. Membuat Reyan segera melambaikan tangan dan menyetop pengendara sepeda itu.


"Pak, mohon maaf saya ingin bertanya. Ini di daerah mana? Saya berada di mana?"


Laki-laki itu tampak tertegun. Ia keheranan dengan Reyan yang bertanya hal itu dan penampilannya pun juga tampak kusut.


"Ini di Parupay, nak." Jawab laki-laki itu.


"Parupay?" Bahkan Reyan baru pertama kali mendengar nama desa itu.


"Ya, nak. Di Krayan, Kalimantan Utara."


Dan mendengar hal itu mata Reyan membelalak sempurna. Ia tidak pernah menyangka bahwa dia berada di daerah sini. Bahkan di pedalaman yang mungkin baru pertama kali Reyan datangi.


"Astaga ..."


Lalu, pejalan sepeda itu berlalu meninggalkan Reyan. Seorang diri dan masih terperangah kaget.

__ADS_1


***


Sementara itu di tempat lain, Rosa telah selesai mengepak penuh barangnya ke dalam koper.


Ia harus melarikan diri. Harus!!!


Setelah tadi malam ia mengusir Bram, tidak ada jaminan lagi kalau dia akan datang ke tempat ini.


Rosa sudah mengirimkan surat pengunduran diri, mengambil semua tabungannya untuk kabur agar tidak bisa ditemukan. Paling tidak, setelah anaknya lahir, mungkin dia akan kembali dan menjelaskan tentang semuanya pada semua orang.


Hanya saja, Rosa terlalu takut. Bram adalah orang yang mengerikan sama dengan Anderson.


Rosa membawa seluruh koper-kopernya. Memesan sebuah tiket pesawat dan segera pergi menuju bandara.


***


Perjalanan Rosa teramat panjang. Setelah menaiki pesawat ia harus berkendara dulu menggunakan bus, masuk ke dalam pedalaman dengan jalan terjal yang sangat tidak mudah.


"Tante Iren ..."


"Astaga, Rosa ..."


"Kenapa kamu tidak bicara pada Tante ...?"


Rosa menggeleng. "Maaf, Tante. Tapi aku hanya butuh tempat untuk melarikan diri dan ..."


"Dan apa ...?"


"Bisa kah Tante rahasiakan ini dari orang tuaku? Karena mereka akan pulang tahun depan dan aku ..." Tiba-tiba Rosa terisak, ia menangis lagi dan Tante Iren mengerti akan hal itu.


"Masuk lah, mari bicara di dalam."


Rosa mengangguk dan menurut untuk masuk ke dalam.


Lalu ... Rosa mengatakan tentang segala hal, tentang apa yang terjadi kepada dirinya dan mengenai kehamilannya. Menangis terisak-isak dan Tante Iren yang terus menggenggam erat tangan Rosa.


"Tenang lah, kamu harus tenang ... ada Tante di sini dan Tante akan melindungimu. Istirahat lah, kamu harus istirahat ... Ya Tuhan, kenapa nasibmu seperti ini, sayang ..."


Tante Iren memeluk Rosa dengan penuh kasih, mengantarkannya ke sebuah ruang yang bisa digunakan Rosa untuk beristirahat.

__ADS_1


Dan dua hari pun berlalu ...


Rosa benar-benar tinggal di rumah Tante Iren hingga membuat hatinya damai. Mungkin, tempat ini memang jauh dengan kota besar, tapi Rosa begitu nyaman berada di sini. Rosa merasa aman, dan yang lebih penting lagi, Bram mungkin tidak akan bisa menemukannya.


Rosa berjalan ke arah luar rumah. Ia masih tidak percaya dia berada di daerah pedalaman Kalimantan. Membuatnya ingin melangkah keluar rumah dan berjalan-jalan sebentar saja.


"Kamu bisa pergi ke sana, Ros. Di pematang sawah luar sana sangat lah indah. Mungkin itu bisa membuatmu sedikit nyaman ..."


"Benar kah ...?"


Tante Iren mengangguk. Dan Rosa sedikit tersenyum di sana. Ia kemudian sedikit tertarik hingga ia melangkahkan kaki pergi.


Ada rasa sedikit trauma saat Rosa pergi seorang diri, tapi hamparan luas keindahan itu tiba-tiba mengaburkan tentang semuanya. Membuat Rosa kemudian melangkahkan kaki untuk ke sana.


"Indah sekali ..."


Rosa tersenyum.


***


Reyan kembali terbatuk-batuk. Kepalanya pening luar biasa, sejauh mata memandang ia baru menyadari kalau hanya ada hamparan hijau yang sangat luas. Sudah tidak ada orang dan begitu sepi di tempat ini.


Reyan terlalu lemah, berulang kali ia terjatuh. Matanya sudah mulai kabur tapi ia mencoba untuk bertahan.


Begitu banyak darah yang keluar dan sudah mengering. Luka lebam itu semakin membiru dan ketara. Sesaat kemudian ia mulai tidak tahan, ia ambruk dan tidak sadarkan diri.


Sementara di sana, ada seorang perempuan yang tidak sengaja melihat. Matanya melebar ketika melihat ada orang yang sempoyongan dan jatuh ke pematang sawah.


"Hei, astaga ..."


Rosa berlari ke arah laki-laki asing itu, mengguncang-guncangkan tubuhnya tapi nihil.


Laki-laki asing itu masih terpejam dan Rosa semakin ketakutan.


"Bangun!"


Rosa kemudian berteriak meminta pertolongan.


***

__ADS_1


09:37


__ADS_2