Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
DAFTAR HITAM


__ADS_3

Gigi Anderson gemeletuk, tangan Anderson mengepal kuat ketika Melia menyerahkan cincin itu kepadanya. Syok, marah, kecewa melebur menjadi satu. Anderson tidak menyangka Melia akan bertindak sampai sejauh ini.


"Melia ...! Apa yang kamu lakukan?!"


Tangis Melia pecah.


"Aku tidak bisa hidup dengan orang sepertimu! Dan sepertinya ini impas dengan kekacauan yang sudah kamu lakukan kepadaku!"


"Melia!"


Ketika Anderson ingin meraih Melia, Melia menepisnya. Ia menjauh dari Anderson dan pergi meninggalkannya.


Nyatanya hal itu malah semakin membuat Anderson gila. Ia benar-benar akan meledak. Ia tidak bisa melepaskan Melia dengan begitu mudah.


Anderson mengejar Melia, tapi tangannya kelewat kasar saat Anderson memaksa Melia untuk ikut dengannya, dengan sangat keras, Anderson menarik tangan Melia dan memaksanya untuk kembali.


"Lepas!"


"Ikut aku!"


Terlambat. Melia tidak bisa berkutik ketika Anderson memaksanya untuk ikut. Anderson membawa Melia ke sebuah ruang dan menghempaskan Melia ke sini. Menutup dan mengunci ruangan ini rapat-rapat agar Melia tidak bisa kabur.


"Melia?! Apa kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan?!"


"Ya, aku sadar ..."


"Kamu gila!"


"Anda yang gila."


"Melia! Tidak bisa kah kamu tidak membantahku?!"


"Apa kamu tidak sadar?! Apa kamu sama sekali tidak mempunyai perasaan sama sekali?! Oke, Jinny memang salah. Tapi kamu tidak harus merusak keluarganya. Bahkan keluarganya tidak tahu apa-apa dengan apa yang sudah Jinny perbuat."


"Ini pelajaran untuknya."


"Ini yang aku tidak suka padamu! Dan aku menjadi semakin tidak yakin untuk hidup dengan laki-laki kejam seperti dirimu."


"Aku hanya melakukan untuk membelamu."


"Tapi caramu salah! Kamu membelaku dengan menghancurkan hidup orang lain, apa kamu tidak berpikir kalau kamu tidak normal?!"


Melia terengah-engah. Ia dibuat menangis lagi.

__ADS_1


"Tarik ucapanmu. Anda tidak mempunyai hak sama sekali untuk menghancurkan sebuah keluarga. Apa anda tidak tahu rasanya hidup tanpa keluarga?!"


Jantung Anderson dibuat berdesir ketika Melia mengatakan hal itu.


"Aku tidak bisa menarik apa yang sudah aku ucapkan."


Melia menahan napas.


"Apa sebegitu tingginya harga dirimu?"


Dan sepertinya, Melia juga sudah kehilangan akal. Melihat laki-laki yang tidak mempunyai hati di depannya juga sudah membuat Melia muak.


"Kalau begitu, aku juga harus pergi."


"Jangan berani-berani melangkah atau aku akan benar-benar melakukan hal nekat!" Seru Anderson.


"Apa kamu sudah berpikir bahwa kamu hebat di sini?! Hanya karena mempunyai harta, kamu bebas melakukan apa saja?!"


"..."


"Maaf, tapi aku benar-benar harus pergi."


"Sekali kamu melangkah keluar, aku akan melakukan hal yang sama kepadamu! Kamu tahu aku orang seperti apa Melia. Sudah aku katakan kalau aku tidak akan pernah bisa melepasmu dengan begitu mudah."


Tangan Melia mengepal kuat. Tangis Melia kembali akan pecah saat ini juga.


"Aku pergi ..."


"Aku beri kamu kesempatan untuk mengambil cincin ini lagi."


Tapi Melia menggeleng.


"Aku tidak bisa menikah denganmu. Dan sama sepertimu, aku tidak bisa menarik ucapanku."


Skak match.


Melia seperti diberi kekuatan untuk mengatakannya. Dan kali ini, Melia sudah benar-benar bersiap akan melangkah pergi.


"Sekali kamu mencoba untuk melangkah lagi, aku janji akan membuat hidupmu hancur. Membuang semua apa yang sudah kamu miliki, dan membuat hidupmu menderita sama seperti mereka."


Dan kali ini, tangis Melia benar-benar pecah. Sungguh. Anderson sekejam ini.


"Aku akan melakukan apa pun hingga sampai di titik kamu tidak bisa melakukan apa-apa. Hingga kamu berpikir bahwa hanya aku lah satu-satunya orang yang bisa menolongmu."

__ADS_1


"Seperti itu kah caramu berpikir ...?"


"Ya, dan sampai mati pun aku tidak akan pernah bisa melepaskanmu."


Tangan Melia mulai bergetar. Bahkan, seluruh sendinya seperti tidak mampu berdiri lagi ketika merasakan kengerian yang teramat sangat.


"Jadi, sekarang ... kamu juga memasukkanku ke dalam daftar hitam."


"Sekarang pilih. Kamu tetap di sini, atau kamu akan nekat keluar dan sudah dapat dipastikan setelah kamu keluar dari ruang ini, aku akan membuat hidupmu menderita."


Dan lagi-lagi, Melia gerah akan semua ancaman itu. Melia benar-benar muak. Tapi, semakin Anderson seperti ini, Melia semakin diberi kekuatan untuk melawannya.


Melia nekat melangkah, membuka kunci pintu itu dan segera keluar dari ruangan ini.


"Melia! Apa kamu gila?!"


Tapi, teriakan Anderson sudah tidak Melia perdulikan lagi.


Satu menit berselang, dan Anderson dibuat membeku dibuatnya. Hingga sampai pada suatu ketika Bram datang dan mendapati Anderson berdiri kaku di depan pintu.


"Bram,"


"Ya Tuan."


"Masukkan Melia ke dalam daftar hitam juga. Buat hidupnya menderita. Jangan biarkan siapa pun kecuali aku yang dapat menolongnya."


"Baik, Tuan"


Setelah Anderson mengatakan semua itu, Anderson langsung melengang pergi. Menggebrak pintu itu dan segera pergi dari sini.


Sementara itu, ada sosok wanita yang mendengar itu semua. Rosa tampak syok, matanya melotot tajam. Ia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang ia dengar saat ini.


Dan sialnya, Bram melihat Rosa. Rosa tertangkap basah, tapi hanya dalam hitungan detik, Bram membungkam mulut Rosa untuk tidak mengatakan kepada siapa pun tentang apa yang yang sudah ia dengar.


"K-kalian ...?"


"Jangan pernah macam-macam untuk menceritakan hal ini kepada siapa pun."


"Kalian ... kenapa jahat sekali?"


"Bukan kah ini impas untuk mendapatkan perempuan yang disukai?"


Rosa masih syok. Sementara Bram hanya berdiri angkuh di sana. Bram hanya dapat melihat seluruh tubuh Rosa gemetar ketakutan. Apa lagi saat melihat Bram, Rosa juga takut kalau dia juga mendapatkan daftar hitam hanya karena tidak sengaja mendengar itu semua.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba, Bram meraih tangan Rosa untuk duduk di kursi yang ada di sini, kemudian menyium keningnya seperti berusaha menenangkan kalau Rosa akan baik-baik saja.


"Selagi kamu diam, aku tidak akan macam-macam denganmu."


__ADS_2