
Di bawah sudut yang gelap, seseorang tengah menahan napas berulang kali. Di tangan kanannya ia meremas botol minuman yang sedari ia teguk. Matanya merah, raut wajahnya kacau, sekacau ruang yang sedang ia tempati saat ini.
Reyan mengepalkan tangan penuh amarah. Kata-kata dari pembunuh itu terngiang-ngiang hingga benar-benar membuatnya murka.
"Lalu, menurutmu ...? Siapa yang sudah membuat orang tuamu bangkrut?"
"Siapa orang yang sudah memporak-porandakan kehidupanmu hingga kamu harus pindah dari tempat tinggalmu?"
"Lalu, siapa orang yang sudah memisahkanmu dengan kekasihmu?"
Dan kata-kata itu terus menerus berputar di kepala Reyan hingga benar-benar membuat dirinya pusing.
"Apa kamu tidak sadar bahwa dia adalah orang yang sangat dekat denganmu saat ini? Orang yang mampu melakukan apa pun, orang yang mempunyai kuasa untuk melakukan segala macam cara."
Reyan membanting botol minuman kaca ke atas lantai hingga terdengar bunyi prang yang membuat jantung siapa saja berdesir saat mendengarnya.
Reyan ingat saat masa-masa sulit itu, ketika orang tuanya tiba-tiba bangkrut dan semua kehilangan akal untuk memulihkan keadaan ekonomi keluarganya.
Ayahnya hampir gila, Ibunya nekat pergi meninggalkan keluarganya dan membuat hidupnya hancur.
Reyan perlu waktu yang sangat panjang untuk membantu Ayahnya, membantu sekuat tenaga agar ia bisa memulihkan ekonomi keluarganya. Rela putus kuliah demi harus bekerja banting tulang.
Dan sampai saat ini, Reyan masih mencari orang yang sudah membuat hidupnya hancur. Hingga sampai pada akhirnya ia kembali menemukan sebuah benang merah.
Reyan baru menyadari bahwa sebenarnya, semua ini ada hubungannya dengan Melia. Saat pembunuh itu mengatakan ...
"Bukan kamu targetnya, tapi perempuanmu. Sosok itu sangat terobsesi padanya. Satu-satunya kesalahanmu waktu itu adalah memacarinya. Itu sebuah kesalahan fatal hingga membuat sosok itu murka. Dan dia, tidak akan segan-segan untuk menyingkirkan siapa pun orang yang berhasil merebut hatinya kecuali dia."
__ADS_1
Lagi-lagi Reyan meremas kepalanya. Dendam ini terlalu menyakitkan. Dan orang itu harus membayar semuanya. Bagaimana mungkin orang itu menghancurkan hidupnya hanya karena ini?! Membuat keluarganya berantakan hingga ia tidak bisa bernapas kala itu.
"Melia ...?"
Jadi, semua kepingan puzzle, semua teka-teki yang selama ini ia cari ada pada dirinya. Dulu, Reyan benar-benar mencari, alasan apa yang membuat Ayah dan Ibunya menderita.
Lalu ...? Siapa dalang di balik ini semua?!
"Orang itu ... begitu dekat dengan dengan perempuanmu saat ini. Dia bahkan rela melakukan apa saja demi mendapatkan wanitamu."
Ketika Reyan memejamkan mata, sosok Anderson muncul begitu saja di depannya. Sosok orang yang mampu melakukan segala macam cara, sosok yang mampu melakukan apa pun dan menghalalkan segala macam cara.
"Anderson ...?"
Mata Reyan terbelalak kaget. Ia sudah tidak mungkin salah lagi. Anderson lah orang yang ada di balik semua ini. Hanya dia satu-satunya orang yang saat ini dekat dengan Melia. Dan dia lah satu-satunya orang yang dapat melakukan semua hal yang ia inginkan.
"Aku harus membalas dendam ...!" Dan begitu pekik Reyan sebelum akhirnya ia keluar dari ruangan ini.
***
Dan ternyata, Anderson memang tidak main-main dengan ucapannya. Anderson benar-benar memasukkan Melia ke dalam daftar hitam. Saat Melia pulang ke rumah, Melia harus menemukan fakta bahwa sudah ada beberapa orang di sini. Mengeluarkan semua barang-barang Melia dan melemparkannya sampai ke luar rumah.
"T-tunggu. Apa-apaan ini? Kenapa kalian mengeluarkan semua barang-barangku?"
"Maaf, tapi kamu harus segera pergi dari tempat ini. Ada orang lain yang berani membayar mahal untuk menempati rumah ini," ucapnya sambil mengeluarkan semua barang-barang Melia lagi.
"Tidak. Jangan. Tunggu. Aku ... tinggal di mana setelah ini?" Melia masih syok, tangannya bahkan gemetar ketika melihat semua baju-bajunya di keluarkan dengan paksa.
__ADS_1
"Tapi itu bukan urusanku, nona." Ucap salah seorang laki-laki yang ikut mengangkut semua barang-barang Melia.
Ya Tuhan, tidak.
Melia hampir menangis. Semua orang yang ada di sini begitu kasar kepadanya. Seluruh tas, sepatu, laptop, bahkan baju-bajunya berceceran ke atas tanah. Mereka seperti membuangnya, yang bahkan Melia tidak tahu kenapa semua ini begitu mendadak terjadi kepadanya.
Anderson ...?
Dan hanya dia lah satu-satunya alasan kenapa semua ini terjadi kepada dirinya. Membuat dirinya marah, menangis, dan syok bercampur menjadi satu.
"Cepat kamu pergi dari sini, nona. Sang pemilik baru akan datang ke sini sebentar lagi."
Dan tangisan itu kembali pecah. Melia tidak tahu, kenapa Anderson bisa setega ini kepadanya.
***
Jangan menangis, Mel. Jangan menangis. Kamu kuat. Kamu harus kuat. Ucapnya berulang kali kepada dirinya sendiri. Ia menata semua pakaiannya ke dalam koper dan berjalan keluar dari rumah ini.
Melia ingin menangis, tapi ia tidak boleh kalah dengan Anderson. Ia harus membuktikan bahwa daftar hitam yang Anderson buat, tidak akan pernah berarti apa-apa bagi dirinya.
Satu-satunya hal yang ia lakukan sekarang adalah, ia harus mencari tempat tinggal baru. Mencari kosan atau apa pun itu untuk ia tinggali karena ini sudah hampir senja.
Tapi, Melia sadar bahwa ia tidak mempunyai uang cash saat ini. Membuatnya harus mencari ATM terdekat untuk mengambil uang.
Tapi saat kartu ia masukkan ...
Kenapa saldoku berubah menjadi nol ...?
__ADS_1
Dan saat itu juga, Melia dibuat lemas begitu saja.