
Tanyakan Melia! Tanyakan!
"Pak, saya tanya sekali lagi, di mana Anda mendapatkan sampo ini?"
"Sampo?"
"Ya, sampo yang bapak gunakan."
Anderson mengernyit. Tapi ia kemudian melengang untuk menuju kamar mandi. Tapi, setibanya ia di depan Melia, ia sudah membawa sebotol sampo berwarna merah.
"Ini yang kamu maksud?"
"Eh?" Lagi-lagi Melia kaget. "I-iya."
"Bukan kah aku sudah mengatakan padamu kalau sepertinya aku menggunakan sampo yang sama denganmu."
Melia menahan napas. Satu kecurigaan telah pupus hari ini juga.
"Emm, maaf."
Anderson yang kini mengernyit.
Melia ingin pergi saat ini juga, tapi ia masih sangat curiga. Ia masih belum bisa mempercayai Anderson sepenuhnya sebelum mencercanya lagi dengan ratusan pertanyaan.
"Emm, Pak. Bisa kah anda katakan pada saya apa yang anda lakukan tadi malam? Emm, maksud saya antara jam dua pagi sampai pagi."
"Ada apa, Mel? Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal seprivasi itu?"
"Katakan saja, Pak?"
"Tentu saja aku tidur di rumah."
"Apa buktinya?"
Anderson tertawa. "Sebenarnya apa yang ingin kamu tanyakan? Kamu sedang tidak ingin menuduhku yang bukan-bukan kan?"
"Katakan saja di mana buktinya?"
Anderson melenguh panjang. Tapi kemudian, Anderson memanggil Bram yang ada di luar ruangan.
"Bram."
Hanya butuh tiga detik, Bram masuk ke dalam ruang. "Ya, Tuan."
__ADS_1
"Sepertinya Melia ingin tahu ke mana aku semalam."
Bram ikut mengernyit.
"Katakan padanya ke mana aku semalam?"
"Saya mengantarkan anda pulang dan anda tidak pergi ke mana pun setelah itu."
"Kamu sudah percaya, Mel?"
Melia yang pintar tidak mungkin percaya begitu saja dengan ucapan Anderson.
"Bisa saja kalian bersekongkol?"
Bram dan Anderson saling pandang. Tidak mudah bagi mereka untuk menipu orang sepintar Melia.
"Aku punya cctv di dalam kamarku. Kalau kamu mau, aku bisa mengirimkannya padamu," ucap Anderson kemudian.
Anderson lalu mengangkat jemarinya, sebagai pertanda bahwa Bram diperbolehkan keluar dari ruangan ini.
"Tapi ..."
"Tapi apa Pak?"
"Ada bagian sensitif jika kamu ingin melihatnya. Tentu saja ada bagian-bagian ketika aku telanjang dan seperti sebuah kebiasaan tertidur tanpa menggunakan pakaian."
Melia langsung melangkah mundur ke belakang.
"Saya tidak memerlukan itu. Saya hanya ingin meyakinkan diri ke mana bapak semalam ini."
"Ya, ya, ya. Baik lah." Anderson ikut mundur. "Secepatnya aku akan mengirimkan rekaman cctv itu ke nomormu."
Melia mengangguk cepat. "Saya tunggu, Pak."
"Ceritakan padaku, Melia. Sebenarnya apa yang membuatmu gelisah. Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan hal-hal pribadi ke arahku."
Melia menahan napas.
"Bisa kah anda mengirimkan saja rekaman cctv itu? Dan maaf, saya harus pergi dari kantor ini. Mulai sekarang, saya juga bukan pegawai anda."
Anderson menarik napas. Sebelum Anderson berkata lebih jauh lagi, Melia sudah benar-benar pergi dari sini.
***
__ADS_1
"Bram ...?" Lagi-lagi Anderson memanggil Bram yang berada di luar ruangan.
"Ya, Tuan."
"Apa kamu sudah mengedit cctv itu? Aku tidak ingin terjadi satu kesalahan apa pun."
"Tenang saja, Tuan. Kali ini tidak akan terjadi kesalahan sekecil apa pun."
"Bagus."
Dan kini, fokus Anderson hanya satu. Melihat sebuah rekaman layar di mana Melia sudah turun dari dalam lift dan tersenyum lebar ke arah laki-laki lain.
Dan lagi-lagi, saat melihat hal itu, amarah Anderson sudah tidak bisa ia kendalikan lagi. Pulpen yang ada genggamannya lagi-lagi patah ketika ia tidak terima wanitanya digenggam oleh laki-laki selain dirinya.
***
"Bagaimana?"
Melia menggeleng kecewa.
"Sepertinya bukan dia, Rey."
"Apa kamu yakin?"
Melia mengangguk. "Dia ternyata tidak bohong. Dia mempunyai sampo yang sama."
"Lalu, alibi mengenai malam tadi?"
"Dia berjanji akan mengirimiku rekaman cctv rumahnya."
"Dan kamu percaya?"
"Lalu, apa ada alasan lagi aku mencurigainya? Lagi pula, aku mengenalnya pertama kali di kantor ini. Saat aku mulai bekerja di perusahaan ini. Aku sama sekali tidak mengenal Pak Anderson sewaktu sekolah dulu, apa lagi sewaktu kuliah saat orang itu mulai berani merusak hubungan kita."
Reyan melenguh kecewa.
"Coba ingat-ingat lagi, Mel. Apa kamu benar-benar tidak mengenalnya saat beberapa tahun yang lalu?"
Melia menggeleng. "Ya, Rey. Aku yakin sekali."
Dan sepertinya, mereka benar-benar menemukan jalan buntu lagi.
***
__ADS_1