Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
SOSOK YANG DATANG


__ADS_3

"Mel! Melia!"


Sudah beberapa kali Reyan meneriaki Melia, tapi Melia tidak menoleh ke arah Reyan sedikit pun. Ia berlari membawa satu buah koper yang masih tersisa dan menembus hujan yang semakin deras.


Reyan kembali dibuat patah hati. Ia hanya bisa menyaksikan Melia pergi dari sisinya hingga sampai ke sekian kalinya.


Di ujung persimpangan jalan, Melia masih tetap berlari untuk menghindari sosok Reyan. Hujan yang tadi lebat, kini sudah berangsur-angsur reda hingga Melia bisa sedikit bernapas lega.


Melia menoleh ke kanan dan ke kiri, mungkin, Melia malam ini hanya membutuhkan tempat untuk berteduh. Setelah seluruh barang berharganya hilang, Melia sudah memikirkan rencana lain untuk mencari pekerjaan besok. Mencari pekerjaan ala kadarnya agar Melia bisa makan dan mempunyai tempat untuk berteduh, dan pastinya untuk membuktikan kepada Anderson bahwa daftar hitam yang sudah ia beri padanya, bukan lah hal yang mampu mematahkannya.


Tapi, baru saja Melia ingin melangkahkan kaki, ia baru sadar bahwa ada sebuah mobil hitam yang membuntutinya.


Melia mengerutkan kening. Ia baru saja ingat kalau mobil itu sudah selalu bersamanya saat ia diusir dari rumah itu.


Tanpa sadar, Melia menggertakkan giginya.


"Anderson?!"


Sial! Apa Anderson tidak jengah untuk terus membuntutinya?! Kini, Melia benar-benar sadar bahwa orang suruhan Anderson terus membuntutinya sedari tadi. Dan sudah dapat dipastikan, orang-orang itu pasti sudah memberi tahu Anderson di mana keberadaan Melia sekarang ini.


Pantas saja, sedari tadi kesialan terus datang kepadanya. Dan perampokan itu, sudah dapat dipastikan kalau itu memang ulang Anderson.


Melia mencengkeram erat tangannya.


"Apa dia masih berpikir, uang dan kekuasaan adalah segalanya?! Apa dia pikir, aku akan merangkak padanya untuk meminta bantuan?!"


Melia menahan napas. Sudah cukup selama ini Anderson mempermainkan dan ikut campur terhadap hidupnya.


Melia kemudian melirik ke arah mobil hitam itu. Dan sesaat setelah itu, ia menatap pada sebuah gang kecil yang tidak akan pernah mungkin dilewati oleh sebuah mobil.


Melia menelan salivanya sebelum akhirnya, ia mulai menarik kopernya dan berlari masuk ke dalam gang agar ia bisa terlepas dari pengamatan Anderson.


Sementara itu, beberapa orang yang menggunakan jas hitam kewalahan ketika Melia mulai menyadari keberadaan mereka. Dan saat Melia berlari untuk terbebas dari mereka, mereka semua panik dan segera spontan turun dari dalam mobil untuk mengejar Melia.


"Sial! Cepat temukan gadis itu atau tuan Anderson akan marah besar!" Begitu pekik salah seorang dari mereka dan menyuruh anak buahnya untuk segera mencari keberadaan Melia.


***


Sementara itu di tempat lain, sebuah mobil lainnya mengebut dengan kecepatan tinggi. Anderson benar-benar harus bertemu dengan Melia dan memaksanya untuk ikut bersama dirinya sekarang juga.


Suara decitan terdengar memekakkan telinga ketika mobil itu berhenti di depan halte bus tempat di mana terakhir kali anak buahnya melaporkan keberadaan Melia.


Tapi, begitu Anderson turun dari dalam mobil, ia tidak melihat keberadaan Melia. Hanya sosok Reyan yang berdiri kaku, dan juga ikut syok saat melihat sosok Anderson yang berdiri dengan angkuhnya.


Sungguh. Begitu Reyan melihat sosok Anderson, Reyan seperti tidak mampu menahan emosi.


Buru-buru Reyan berlari ke arah Anderson, mencengkeram kerahnya, dan langsung memukulnya dengan begitu keras.


"Bangs*at!!!"


Reyan benar-benar emosi, begitu Anderson jatuh, Reyan kembali ingin memukul lagi wajah itu, tapi tiba-tiba, sopir yang tadi menemani Anderson, dengan cepat membela tuannya dan menampik pukulan Reyan. Mendorong tubuh Reyan hingga jatuh ke atas tanah.


Ha ha ha. Reyan malah tertawa.


"Apa selalu seperti ini? Apa orang-orangmu selalu datang untuk menolongmu?! Dasar pengecut!!!"

__ADS_1


Anderson hanya berdiri angkuh di sana. Tatapannya masih syok dengan apa yang sudah dilakukan oleh Reyan.


Dan ini, adalah pertama kalinya ada orang yang berani memukul wajahnya. Membuat Anderson hanya menyeringai dan menghapus darah yang keluar dari ujung bawah bibirnya.


"Apa kamu tidak tahu?! Apa kamu tidak tahu siapa dalang dari semua kekacauan ini?!"


"Orang yang sudah merusak hubunganku dengan Melia, orang yang menghancurkan keluargaku, dan orang yang selama ini menguntit hidup Melia adalah orang yang sama! Dan orang itu adalah bajingan sepertimu!"


Tapi Anderson hanya mendengus, ia ikut tertawa melihat kelakuan Reyan yang masih mengamuk seperti itu.


Dan melihat itu semua, Reyan semakin terbakar emosinya. Bagaimana bisa dia masih saja bersikap santai dan arogan seperti itu?!


Buru-buru Reyan berlari ke arah Anderson, niatnya ingin menghancurkan mukanya lagi, tapi sosok pengawal Anderson menghadangnya.


"Roy, biarkan saja. Biarkan dia puas melakukan apa pun yang ia mau."


"Baik, Tuan." Roy langsung melepaskan ikatan tangannya hingga membuat Reyan langsung kembali berlari ke arah Anderson.


Bug!


Reyan kembali memukul wajah Anderson lagi.


"Beraninya kamu menghancurkan keluargaku?!"


Dan untuk ketiga kalinya, Reyan memukul wajah Anderson hingga membuat Anderson terbatuk.


"Untuk kali ini saja, aku mengizinkan kamu untuk meluapkan emosimu."


"Bangs*t! Apa menurutmu ini lelucon?!"


Anderson tertawa.


"Katakan!!! Kenapa dulu kamu menghancurkan keluargaku?! Kenapa kamu mengirim kami semua ke luar negeri?! Dan kenapa kamu membuat Ayahku kehilangan apa pun yang ia miliki sampai-sampai hampir depresi?!"


Tapi, kali ini, Anderson menatap tajam ke arah Reyan.


"Tidak ada. Satu-satunya kesalahanmu waktu itu adalah memacari wanitaku."


Dan jawaban itu semakin membuat tangan Reyan gemetar. Giginya kembali gemeletuk, emosinya kembali meluap.


"Apa?! Jadi, hanya karena itu?!"


Anderson mengangguk, tapi ketika Reyan akan memukul wajahnya lagi, Anderson menampiknya. Ia menarik tangan Reyan, memutarnya dan menjatuhkannya hingga Reyan memekik kesakitan.


Reyan tidak boleh kalah, ia bangkit kembali dan berusaha untuk membalas perbuatannya, namun sayang, kini keadaan terbalik, Anderson mengunci rapat-rapat tangan Reyan dan saat ini Anderson lah yang memukul wajah Reyan.


"Ini pembalasan karena dulu kamu pernah menyentuh wanitaku."


Bug!


"Dan ini pembalasan karena kamu pernah berkencan dengannya."


Bug!


Dan ini pembalasan karena dulu kamu sudah berhasil membuat wanitaku pernah jatuh cinta padamu."

__ADS_1


Ingatan-ingatan itu nyatanya membuat Anderson merasa marah. Ia benar-benar tidak terima ketika dulu, ia hanya menjadi penonton saat Melia bersama dengan laki-laki lain selain dirinya.


Anderson memukul wajah Reyan lagi dan lagi, Reyan seperti tidak diberi kesempatan untuk melawan dan Anderson kembali terus memukul wajah dan tubuhnya.


"Tuan ... Tuan ... Tuan ..."


Pengawal yang ada di belakang, sedikit merasa khawatir ketika Anderson tidak mau berhenti. ia terus menerus memukul Reyan hingga babak belur. Ia hanya takut, jika tidak dihentikan Anderson akan membunuh orang itu.


"Tuan, berhenti lah. Ada telefon untuk Tuan." Untung saja ada telefon yang berdering hingga Roy mempunyai alasan untuk menghentikan perbuatan Anderson.


Anderson sudah hampir gila. Ingatan menyakitkan ketika Melia berkencan dengan Reyan benar-benar membuatnya murka.


Dan begitu Anderson mengangkat telefonnya, matanya melebar dengan sempurna.


"Tuan Anderson, maaf. Sepertinya kami kehilangan jejak nona Melia."


"Apa?! Bangs*t!!! Kenapa bisa?!"


Anderson langsung berdiri dan mengabaikan Reyan seorang diri mendesis kesakitan. Dahinya mengerut, giginya gemeletuk. Lalu sedetik kemudian, Anderson meminta sopirnya untuk ikut mencari keberadaan Melia.


Dan kali ini, Reyan benar-benar ditinggalkan.


"Psikop*t!"


***


Melia tertatih-tatih, ia menoleh ke kanan dan ke kiri saat semuanya mungkin terasa aman.


Melia tidak sadar ia berada di mana. Tadi, dia hanya berlari sekuat tenaga untuk bersembunyi dari semua pengawalan Anderson.


Tapi tiba-tiba, terdengar suara kemeresek. Melia menyipitkan mata. Apa pengawal itu berhasil mengejarnya sampai ke sini?!


Lalu, seorang laki-laki muncul dari semak-semak. Ia berjalan dan Melia memergokinya.


"Kamu?! Kenapa kamu terus menerus menguntitku?! Katakan pada bosmu kalau daftar hitam yang dia sematkan padaku, itu tidak ada apa-apanya!" Pekik Melia.


Tapi, bayangan itu tidak gentar dengan apa yang diucapkan oleh Melia.


Ia hanya memakai jaket berwarna hitam, dan begitu ia membuka penutup kepalanya, ia tertawa terbahak-bahak.


"Hei, Melia. Apa kabar?!"


Mata Melia melotot tajam.


"P-pembunuh?"


"Siapa bilang aku pembunuh?! Ha ha ha."


***


Gais, aku minta izin ya... sampai tanggal 30 aku gag update.. maafin ya...


tanggal 1 baru bisa up... tungguin ya... ada sesuatu hal, jadi maaf ya ...


jangan marah ya...

__ADS_1


makasih ...


tapi virgin not for sale tetep update kok... maaf ya... jangan kecewa ya... cuman tiga hari kok aku liburnya... maaf ya...


__ADS_2