
Hanya dalam hitungan detik, Anderson dan banyak pengawalnya sudah mengepung rumah yang Melia tempati. Anderson berlari bersama dengan Bram, berusaha masuk ke dalam rumah itu dengan mendobrak pintu keras-keras.
Pintu berhasil dibuat hancur. Anderson segera masuk untuk segera menemukan Melia berada di dalam rumah ini.
Anderson segera mengitari rumah, mulai memasuki ruangan satu persatu. Naik ke lantai atas hingga turun lagi ke lantai dasar.
"Tuan Anderson ..."
Salah satu pengawal berlari ke arah Anderson ketika mereka semua menyadari bahwa sudah tidak ada lagi orang di dalam rumah ini.
"Sepertinya mereka sudah kabur dari rumah ini."
"Apa?!" Anderson semakin marah dibuatnya.
"Pintu ruang belakang terbuka, sepertinya mereka sudah pergi dari rumah ini melalui pintu belakang."
"Kurang ajar!" Tangan Anderson mengepal. Mukanya semakin merah padam.
"Mereka pasti belum jauh dari tempat ini, cepat temukan mereka!" Suara dari Bram menggema, secepat kilat mereka kemudian menyebar keluar dari ruangan dan segera pergi untuk segera menemukan Melia.
***
Di tempat lain, Melia dan Reyan tergopoh-gopoh ketika mereka baru sadar bahwa sudah lebih dari satu jam mereka berlari menjauh dari tempat itu.
Dua jam yang lalu, saat Reyan pergi berbelanja ke toserba untuk keperluan makan mereka besok pagi, Reyan tidak sengaja melihat jejeran mobil Anderson dan begitu banyak pengawalnya sedang mencari keberadaan mereka.
Detik itu juga Reyan tahu, bahwa sepertinya Anderson sudah berhasil menemukan titik di mana mereka berada.
Reyan yang syok, langsung keluar dari toserba hingga melupakan barang belanjaannya dan segera pulang ke rumah dengan tergesa. Berlari secepat mungkin dengan memutar arah agar bisa sampai ke tempat Melia berada.
"Melia, kita harus segera pergi dari sini."
Melia yang ada di dalam kamar terlalu kaget dengan sikap Reyan yang terburu-buru.
"Ada apa? Kamu kenapa?"
"Anderson telah menemukan keberadaan kita."
Dan di sini lah mereka berada. Berlari di tengah kegelapan, bergandengan tangan, dan berusaha menghindari sosok Anderson yang mengerikan.
__ADS_1
"Reyan, aku ..." Melia terjatuh saat ia mulai tidak mampu lagi untuk berlari. Peluh mulai bercucuran, napasnya terengah-engah.
"Berusaha lah, Melia. Sebentar lagi kita akan sampai. Di depan sana ada mobil yang sudah aku pesan untuk membawa kita pergi." Reyan menunjukkan Melia ke arah ponselnya.
Reyan menarik tangan Melia lagi, sedangkan Melia, tetap berusaha untuk kabur dari sini. Sungguh. Melia teramat takut jika sampai ia dibawa lagi oleh Anderson.
"Sebentar lagi, Mel."
Hingga samar-samar dari arah belakang terdengar langkahan kaki. Suaranya, terdengar begitu banyak orang berlarian hingga membuat Reyan semakin kelabakan.
"Melia, cepat. Mereka datang."
Melia menoleh ke arah belakang. Melia hampir ingin menangis.
"Kita harus bagaimana?"
Secepat kilat Reyan langsung menarik Melia masuk ke dalam sebuah semak-semak di pinggir jalan. Memasuki sebuah tempat penuh pepohonan yang tinggi menjulang.
"Aku tahu jalan yang lebih cepat dari sini."
Melia mengangguk kemudian mengikuti Reyan, dan rupanya, pilihan Evan ternyata benar. Para pengawal Anderson terkecoh hingga Melia bisa sedikit bisa bernapas lega.
"Itu mobil yang aku pesan."
Reyan juga bisa sedikit lebih tenang. Ia melihat pada mobil yang terparkir di sana dan mencocokkan nomor mobil, lewat aplikasi pesan online yang ada di dalam ponselnya.
B 2 1 6 ...
"Itu mobilnya Mel."
Melia mengangguk. Ia mengikuti apa perkataan Reyan pada sebuah mobil berwarna biru di sana.
Reyan menggandeng tangan Melia lagi. Mengetuk pintu itu tiga kali lalu menerobos masuk.
Dan ketika Melia dan Reyan sudah duduk di dalam mobil, Reyan segera menyuruh sopir untuk segera pergi dari sini.
"Pergi dari sini dulu, Pak. Saya mohon pergi sejauh yang anda mampu dulu."
Sopir itu tampak menyeringai. Lewat kaca spion yang ada di atasnya, dia tampak sedikit mengangkat alisnya dengan sangat mengerikan.
__ADS_1
"Menurutmu, apa kamu bisa lari?"
Dan suara itu benar-benar mirip sekali dengan suara yang Melia kenal.
"Ka-kamu?"
"Hai, nona Melia."
Mata Reyan melebar dengan segala situasi ini, tapi sebelum Reyan mampu berpikir lagi, Bram sudah menghajar Reyan dan memukulnya dari arah depan.
"Jangan!!!"
Tapi teriakan Melia tidak cukup mampu untuk membuat Bram berhenti. Pukulan ketiga, hingga mampu membuat Reyan jatuh pingsan.
Melia yang melihat itu semua hanya bisa syok, matanya membelalak sempurna dengan air mata yang tidak sengaja menetes deras.
"Reyan! Reyan! Reyan!"
Melia tampak khawatir dengan keadaan Reyan. Ia menangis tersedu-sedu, ia berusaha membangunkan Reyan tapi Reyan tidak bangun sama sekali.
"Reyan ... aku mohon ..."
Melia menangis lagi. Lalu, terdengar pintu belakang terbuka. Sebuah tangan dengan sangat kasar mencengkeram erat tangan Melia, memaksa Melia untuk segera keluar dari dalam mobil ini.
Dan Bram hanya kembali melenguh panjang.
"Aku sudah mengatakan pada anda untuk jangan macam-macam, Nona," ucapnya sendiri melihat Melia yang sudah kembali ke pelukan Anderson di luar sana.
Sedangkan Bram, kemudian melajukan mobil ini dengan kecepatan tinggi, membawa Reyan sejauh mungkin dari sini karena dia sudah terlalu banyak merepotkan.
"Reyan!!!"
Teriakan Melia menggema ketika mobil itu pergi, menangis meraung-raung lalu berniat ingin mengejar mobil itu. Tapi lagi-lagi cengkeraman tangan itu terlalu kuat, ia masih terus memaksa Melia untuk kembali kepadanya.
"Anderson!!!! Kamu bajingan!!!"
***
Virgin not for sale update juga loh, ikutin 2 cerita ini ya...thank u
__ADS_1
Ig : hi_alaleana