Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
KERIBUTAN


__ADS_3

Anderson menyeka keningnya berulang kali. Mengernyit tanpa bisa memikirkan apa-apa saat ia terus menerus menatap ke arah layar cctv di depan sana. Melia, yang tengah menyantap makanan di kafetaria.


Ia memangku wajahnya. Menarik napasnya berulang kali sebelum menghembuskannya.


"Sebenarnya, apa yang sedang anda pikirkan, Tuan?" Bram ikut mengernyit melihat Tuannya seperti itu.


"Nanti sore aku diajak Melia untuk ke pemakaman orang tuanya, Bram."


"Jadi, itu yang anda pikirkan?"


Anderson menarik napas panjang. "Ya. Dan kamu tahu apa yang sudah terjadi."


"Apa anda tidak punya pikiran untuk jujur saja kepadanya?"


"Kamu gila. Kamu tahu betapa bencinya Melia kepada orang yang sudah membuat orang tuanya meninggal."


"Tapi anda sudah begitu banyak melakukan hal baik selama hidupnya setelah orang tuanya meninggal. Saya pikir, itu bisa membuat nona Melia memaafkan anda."


"Aku tidak mau menanggung resiko," ucapnya sambil terus menatap ke arah cctv di layar depan.


Hingga sampai pada akhirnya Anderson sedikit terganggu ketika lagi-lagi ia melihat layar cctv di mana ada beberapa perempuan yang datang ke arah meja Anderson. Mereka tampak mengganggu dan mengusik Melia saat makan bersama dengan Rosa.


"Bram."


"Ya Tuan."


"Bukan kah kemarin aku sudah menyuruhmu untuk memecat mereka?"


Deg.


Tiba-tiba Bram tercekat.


"Bram?"


Tiba-tiba Bram menunduk.


"Maaf, Tuan."


Anderson mengernyit.


"Saya lupa akan hal itu."

__ADS_1


"Lupa?"


Dan ini lah satu kesalahan fatal yang baru saja dilakukan oleh Bram. Sesuatu hal yang sebenarnya belum pernah dilakukan Bram setelah sekian lama.


Dan sudah dapat dipastikan, kalau ada sesuatu hal yang saat ini mengganggu pikirannya.


"Bram. Apa ada masalah?"


Bram menahan napas.


"Sebenarnya ... orang yang menggantikan anda di penjara," Bram ragu untuk meneruskan kalimatnya.


"Kenapa? Ada apa lagi dengan dia?"


"Sepertinya dia bermaksud untuk terus menerus memeras anda."


***


Awalnya, Melia hanya menyantap makanan dengan damai bersama dengan Rosa. Saling bersua mengenai pekerjaan sampai suatu ketika terdengar beberapa langkah perempuan tengah mendekat ke arah mereka.


"Perempuan murahan." Tiba-tiba salah seorang dari mereka mengucapkan kata itu. Membuat Melia hampir tersedak karena ia sadar bahwa ucapan itu memang ditujukan ke arah dirinya.


Ya, bukan kah Melia harus berani? Melia bukan perempuan lemah, asal mereka tahu.


"Maksud kalian?"


"Sudah aku katakan padamu, Ros. Dia itu rubah. Kenapa kamu masih mau berteman dengannya disaat dia sudah merebut posisimu? Dan dia juga tipe perempuan murahan yang menggoda bosnya sendiri."


"Jaga bicaramu!" Nada Melia mulai memekik keras. Amarahnya memuncak ketika mereka lagi-lagi mengatainya hal yang tidak-tidak.


"Lalu? Apa itu namanya? Aku pernah melihatmu keganjenan dengan laki-laki lain, dan tiba-tiba, belum ada beberapa hari kamu sudah menempel dengan Tuan Anderson. Hei, beri aku tips, bagaimana caranya kamu menggoda Tuan Anderson? Apa kamu menggunakan tubuhmu?"


Plak!


Mendengar dirinya dilecehkan untuk ke sekian kalinya, Melia seperti mempunyai keberanian untuk menampar keras pipi itu.


"Kurang ajar! Berani-beraninya kamu?!"


"Ya, kenapa aku tidak berani?! Kamu sudah berulang kali mengataiku yang tidak-tidak!"


"Tapi memang benar kan? Kamu itu penggoda! Seluruh karyawan perempuan di perusahaan ini membicarakanmu asal kamu tahu. Dari sekian banyak perempuan yang jauh lebih cantik darimu, Tuan Anderson bahkan tidak pernah melirik kami. Dan tiba-tiba kamu berhasil membuat Tuan Anderson menerimamu dan berhasil satu mobil dengannya?! Jelas membuat kami curiga kalau sebenarnya kamu memang memancing Tuan Anderson dengan tubuhmu!"

__ADS_1


Melia ingin menjambak rambut itu, tapi Rosa menghalanginya.


"Melia!"


"Menurutmu?! Apa Tuan Anderson akan tergoda?! Ha ha ha. Sadar lah, dia itu Tuan besar, dan kamu hanya gadis cupu yang mungkin hanya diperalat sebagai pemuas nafsunya."


Melia lagi-lagi sudah tidak mampu menahan kesabarannya lagi. Emosinya meluap, ia sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi.


Seluruh orang melihat Melia, seluruh perempuan di sini hanya menatap Melia bahkan dengan tatapan sinis. Seperti membenarkan bahwa, diam-diam di belakang Melia, mereka memang sedang membicarakan Melia. Hati Melia dibuat sakit ketika menyadari akan hal itu.


Kenapa pikiran mereka sepicik ini?! Apa mereka semua sebegitu tergila-gilanya dengan Anderson?!


"Jangan pernah bermimpi untuk menjadi cinderella. Kamu itu hanya buang-buang waktu menggoda Tuan Anderson dengan tubuhmu!"


Kesabaran Melia sudah habis. Melia kini menyerang perempuan yang bernama Jiny itu hingga tersungkur ke atas lantai.


Tapi Jiny balik menyerang. Kekuatannya ternyata jauh lebih besar dengan kekuatan milik Melia hingga posisi mereka terbalik, Melia ternyata mudah dikalahkan dan Jiny kini bisa membalas tamparan yang tadi dilakukan oleh Melia.


Plak!


Awalnya satu kali, lalu dua kali, hingga berakhir Jiny menampar Melia sampai ke lima kali.


Rosa berusaha membantu tapi lagi-lagi orang yang membela Jiny menahannya dan menjauhkan Rosa ke arah belakang.


"Melia! Melia!"


Melia kewalahan. Semua karyawan perempuan malah tertawa terbahak-bahak di kafetaria. Sebagian dari mereka syok, tapi kebanyakan dari mereka senang karena perempuan penggoda seperti Melia, memang pantas diperlakukan seperti itu kan?


Ya, banyak perempuan di perusahaan ini yang memangtidak terima ketika Melia menggunakan cara kotor untuk mendekati Tuan Anderson.


Ada bekas darah yang mengalir. Melia sudah hampir kehilangan tenaga. Beberapa orang laki-laki yang ingin menolong, nyatanya tidak mampu meredam apa yang sedang terjadi ketika banyaknya perempuan mulai bertindak.


Melia menangis. Ia merasa benar-benar dipermalukan. Hingga sampai pada suatu ketika terdengar langkahan kaki, dan sosok itu tengah berlari menuju ke arah kafetaria ketika melihat gadisnya diperlakukan secara membabi buta.


"APA YANG KAMU LAKUKAN?!" Teriak Anderson ketika ia berteriak ke arah perempuan yang lagi-lagi menampar pipi Melia.


Bram yang berada di samping Anderson juga kaget melihat kebrutalan antar wanita.


Semua orang tercengang. Seluruh orang yang ada di kafetaria spontan langsung berdiri melihat bosnya itu yang notabene hampir tidak pernah menginjakkan kaki di kafetaria.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN KEPADA CALON ISTERIKU?!" Dan teriakan Anderson mampu membuat mereka tercengang hampir bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2