
Kabar pernikahan Melia dan Anderson nyatanya telah tersebar hampir ke seluruh negeri. Pernikahan yang awalnya hanya sebuah desas desus, kini sudah merebak ke seluruh penjuru perusahaan Anderson.
Nyatanya, Melia lah yang pada akhirnya memenangkan hati Anderson. Menjadi nyonya besar dan menjadi istri milyarder yang bahkan tidak pernah mereka sangka sebelumnya.
Dan kini, Anderson benar-benar datang ke kantor setelah sekian lama. Menggandeng tangan Melia ketika turun dari mobil dan masuk ke dalam perusahaan.
Tatapan-tatapan iri itu nyatanya masih ada, betapa beruntungnya Melia hingga dia bisa bersanding di samping Anderson dan sebentar lagi menjadi istrinya.
Walau pun mereka sudah pernah berjalan bergandengan tangan sebelumnya, tapi tetap saja, kehadiran mereka berdua tetap memberikan kegemparan di kantor ini. Apa lagi setelah hari ini, juru bicara Anderson sudah mengumumkan secara resmi bahwa minggu depan mereka akan menikah lewat media.
Paling tidak, bagi perempuan single, hari ini adalah hari patah hati terbesar sepanjang sejarah perusahaan. Dan bagi laki-laki, hari ini adalah hari pembuktian bahwa Anderson bukan lah laki-laki gay yang sering mereka perdebatkan karena belum pernah mereka lihat Anderson dengan wanita mana pun sebelumnya.
Melia mulai merasa risih, tapi Anderson segera merangkul bahunya.
"Kenapa kau menunduk? Mulai sekarang mereka semua adalah bawahanmu," ucap Anderson.
Melia mengernyit. Tatapan-tatapan itu entah kenapa terasa sangat aneh ...
Ada Jinny di samping sana, ada Rio di ujung tangga dan semua orang yang menatapnya ... entah kenapa membuat Melia sedikit merasa terganggu.
Tapi, tidak dengan Anderson ...
Anderson masih menggenggam tangan Melia dengan bangga saat naik ke atas lift. Hari ini adalah hari pertama Melia sejak dia libur dan situasinya sudah berubah seratus delapan puluh derajat.
"Melia ... perkenalkan dia Loui sekretaris pengganti sejak kamu tidak bekerja di perusahaan ini."
Dan benar saja, ketika Melia menatap ke arah Loui rasanya ia merasa bersalah. Loui tidak patut untuk dicemburui.
"Tuan, semenjak kepergian anda, ada begitu banyak berkas dan paket yang datang ke perusahaan ini. Semua sudah saya kumpulkan di ujung meja."
"Terima kasih, Loui." Jawab Anderson.
Loui tersenyum untuk permisi, dan Melia membalas senyuman itu. Lalu tiba-tiba Loui mengangguk kemudian berlalu untuk menuju ruangannya. Hingga pada akhirnya, hanya tersisa Melia dan Anderson seorang diri di ruangan ini.
"Lalu, aku harus bagaimana? Aku tidak punya tugas apa pun lagi. Aku sudah tidak menjadi sekretarismu."
"Sudah aku bilang tugasmu hanya ada di sini. Menemaniku saat aku lelah, memijatiku, menemaniku makan siang dan terus tetap berada dalam pantauanku," ucapnya sambil kembali merangkul Melia dan mengecup pipi Melia satu kali.
Melia berdecih.
"Itu bukan pekerjaan."
"Lalu, apa kamu butuh pekerjaan yang membuatmu berkeringat?" Anderson mulai menatap Melia mesum.
Dan melihat tatapan itu Melia langsung mendorong tubuh Anderson hingga berhasil membuat Anderson terkekeh.
"Aku tidak pernah mengizinkan istriku bekerja. Ingat itu. Dan kalau kamu bosan, pergi lah jalan-jalan tapi tetap harus berada dalam kantor ini."
Melia menarik napas panjang.
"Istirahat lah, setelah aku menyelesaikan pekerjaanku kita akan ke butik kenalanku."
"Kenapa?"
"Tentu saja membeli gaun pengantin, minggu depan kita menikah."
Melia mengernyit. Ia pura-pura lupa.
"Kenapa Mel?"
__ADS_1
"Ah, tidak."
"Apa aku juga perlu membelikanmu lingerie, mereka juga menjual merk-merk bagus."
"Jangan mulai lagi."
Anderson kembali terkekeh. Melia kemudian berlalu.
"Mau ke mana?" Tanya Anderson.
"Ke kamar mandi."
Anderson mengernyit.
"Kenapa, Anderson ...?"
"Ah, tidak.
"Mau ikut?"
Mendengar hal itu mata Anderson membelalak. Ia tidak pernah menyangka Melia bisa mengatakan hal senakal itu.
"Aku gerah, aku ingin mandi lagi."
Tiba-tiba saja Melia membuka jas yang ia kenakan, membuka salah satu dan salah dua kancing kemejanya hingga membuat Anderson membeku di sana. Jangkunnya naik turun, mukanya merah padam.
Ha ha ha.
Melia tertawa karena berhasil mengerjai Anderson.
"Rasanya tidak enak kan kalau dikerjai seperti ini?"
Melia kemudian berlalu, tertawa puas melihat wajah Anderson yang merah tomat.
***
Kemeja Melia masih basah saat terkena cipratan air saat membasuh mukanya tadi. Setelah tadi ia berhasil memberi Anderson pelajaran kini Melia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar.
Dan yang Melia tuju adalah ruangan Rosa ... sangat menyesakkan ketika ia mulai masuk dan tidak ada orang di sini.
Anderson sudah berjanji padanya kan kalau dia akan mengatasi semuanya dan membawa Rosa dalam keadaan baik-baik saja ...?
Melia menahan napas. Ia hanya bergantung pada semua janji Anderson.
"Melia ...?"
Dan tiba-tiba ada seseorang yang menyapanya.
Jinny tiba-tiba datang berjalan ke arahnya hingga membuat Melia tercekat.
"Jinny?"
***
Sementara itu di tempat lain, Anderson masih berusaha menormalkan napasnya ketika ia baru saja ditinggalkan Melia. Benar-benar seperti bukan Melia yang Anderson kenal selama ini.
"Dari mana Melia belajar menjadi nakal seperti itu?"
Anderson bahkan lupa, kalau Melia belajar dari dirinya.
__ADS_1
Anderson sudah hampir berhasil terjerumus. Melia benar-benar tidak tahu efeknya hingga tubuhnya masih menegang.
Lalu, untuk menjernihkan kepalanya, lebih baik Anderson segera beralih ke pekerjaan lainnya. Membuka paket satu persatu yang tadi diberikan Loui kepada dirinya.
Anderson membuka satu persatu berkas. Hanya sebuah laporan pertanggung jawaban, rincian keuangan dan yang lainnya hingga membuat Anderson langsung menumpuk berkas itu di sudut meja.
Lalu ada sesuatu yang agak aneh di depannya kali ini. Sebuah paket kardus tanpa nama. Hanya ada tulisan yang ditujukan kepada dirinya hingga membuat Anderson mengernyit.
Paket ini penuh lakban, sebuah kardus cokelat yang terus dilapisi kertas hingga Anderson kesusahan saat membukanya.
Dan ketika lapisan terakhir berhasil dibuka, Anderson segera membuka isi kotak itu dan tiba-tiba ia langsung melemparkan kotak itu ke atas lantai.
"SIAL!!! Apa-apaan ini?!"
Dan isinya adalah seekor ayam jantan yang sudah mati. Dimutilasi dengan sangat mengerikan hingga darah berceceran di seluruh isi kardus dan sudah berbau sangat busuk.
***
.
.15:14
: Note : ... dibawah ini jangan dibaca ya kalau nantinya bakal bikin kalian penasaran ...
cerita ini udah aku post di w a t t p a d, dan silahkan mampir kalau berkenan.. rencana mau aku lanjutin. Tenang aja disana juga gratis kok sama kaya noveltoon.
HAVING HIS BABY
Mata Anne mulai berair ketika ia melakukannya. Terduduk lemas di dalam toilet saat menghitungi detikan jam dengan sangat hati-hati. Kini matanya terpejam, ia benar-benar tidak berani melihat benda putih berukuran sepuluh senti meter itu yang kini berada dalam genggamannya.
"Pasti negatif, pasti negatif." Bahkan sampai saat ini, Anne masih berusaha menenangkan hatinya. Jadwal bulanannya terlambat lebih dari sepuluh hari, dan Anne, masih berharap semua akan baik-baik saja. Lagi pula, Anne baru menjalani kegiatan ospek satu minggu yang lalu, dan Anne benar-benar tidak mungkin bisa melanjutkan hidup jika tanda yang dimunculkan oleh benda itu bergaris dua.
Tidak. Anne yakin kalau hasilnya negatif. Seingatnya, jadwal bulanannya memang kadang tidak teratur. Kadang maju, dan kadang mundur tidak sesuai dengan tanggalnya. Dan Anne berharap, bahwa untuk kali ini saja dia juga mengalami hal seperti itu.
Dan sekarang, akhirnya Anne berani membuka mata. Keringat dingin mulai bercucuran bersamaan dengan tangannya yang bergetar. Anne kemudian menunduk, matanya langsung menyala lebar ketika menatap benda putih itu.
"T-tidak. Ini tidak mungkin!"
Syok. Anne benar-benar syok. Detik itu juga wajah Anne memucat saat melihat dua garis terpampang jelas dari benda putih itu. Secepat kilat benda itu terlempar begitu saja. Tangannya bergetar bersamaan dengan bibirnya yang membiru saking pasinya.
Tidak mungkin...!
"Aku tidak mungkin hamil!"
Mata hitam itu kini berair dengan sangat deras. Wajah syok, kecewa, marah dan sedih kini bercampur menjadi satu hingga membuatnya benar-benar frustrasi.
Ya Tuhan, aku baru berumur delapan belas tahun dan aku tidak mungkin hamil.
Anne mulai mengutuk dirinya sendiri. Ini benar-benar sebuah kesalahan besar. Bagaimana letak tanggung jawabnya kepada Ibu asuhnya selama ini? Yang dulu dengan berat hati melepaskan Anne untuk kuliah di Jakarta. Yang dulu sempat menasehati Anne untuk tetap berada di Bandung.
Dan detik itu juga, Anne membuang semua kepercayaan itu. Anne ingat betul ketika dulu Anne bersusah payah untuk membujuk Bunda Airin. Dan ketika kesempatan telah didapat, Anne malah membuangnya begitu saja.
Tangan Anne kembali bergetar. Rasa takut, sedih marah mulai menyerangnya secara bersamaan. Seharusnya ia tidak menuruti semua perkataan teman-temannya satu bulan yang lalu. Rasa sesal kini menggerogoti seluruh jiwanya, teringat akan kejadian satu bulan yang lalu ketika Anne terbangun telanjang di sebuah kamar bersama dengan pria itu.
"Laki-laki itu." Hal yang langsung Anne ingat adalah wajah dari laki-laki itu. Laki-laki yang bahkan belum Anne ketahui siapa namanya. Laki-laki yang telah membuatnya hamil seperti ini.
Aku... harus mencari laki-laki itu. Isaknya dalam hati.
***
__ADS_1