
"Jinny?" Melia menatap lagi ke arah Jinny yang kini tampak melangkah datang ke arahnya. Tidak biasanya ia yang selalu memasang wajah kusut, kini tersenyum lebar datang ke arah Melia.
"Apa kabar? Lama tidak jumpa."
"Emm, ya. Aku baik." Jawab Melia kikuk.
"Oh, ya. Selamat." Tiba-tiba Jinny sudah menjulurkan tangannya ke arah Melia. "Selamat atas pernikahanmu yang bahkan sudah tersebar ke seluruh media."
Melia masih tidak percaya ketika Jinny berusaha menjabat tangannya. Tapi, Melia menyambut baik itu, membalas senyuman dan jabatan itu.
"Terima kasih,"
"Oh, ya. Dan terima kasih karena sudah menyelamatkanku waktu itu. Aku tidak lagi terdaftar dalam daftar hitam."
Melia mengangguk. Sudah sepatutnya dia melakukan itu.
Tapi sedetik kemudian senyum itu menghilang dari kedua sudut bibir milik Jinny, ia melengos begitu saja, menatap ke arah Melia dari bawah sampai atas.
"Aku masih tidak percaya kau yang dipilih menjadi istrinya."
"Eh?"
"Kenapa orang sekaya Tuan Anderson mempunyai tipe yang sangat buruk." Jinny terlihat melenguh dan menggelengkan kepala. Menatap ke arah Melia dengan tatapan jijik sekaligus menghina.
"...?" Perlu berulang kali Melia meyakinkan diri dengan apa yang dikatakan oleh Jinny.
"Padahal ada yang jauh lebih cantik, lebih elegan, tapi ..."
"Apa maksudmu?"
"Ah, ha ha ha. Ups, maaf. Aku keceplosan." Tiba-tiba saja Jinny tersenyum lagi.
"Maaf, maaf. Jangan diambil hati, oke? Aku hanya mengutarakan apa isi kepala para wanita saat menandangmu. Kamu tahu, mereka semua menghinamu ... tapi bukan kah itu benar? Kamu memang jelek, kucel dan ..."
Mendengar semua pembicaraan itu, tiba-tiba Melia sudah mengepalkan tangan, perkataan Jinny sangat menyakitkan ...
"Oh, astaga. Maaf, aku keceplosan lagi. Ha ha ha. Aku pergi dulu, Mel. Aku takut jika bersamamu akan terus-menerus menjelek-jelekkankanmu."
Lalu, Jinny segera berjinjit dan setengah berlari pergi dari sisi Melia. Sementara Melia, hanya bisa menarik napas panjang karena air matanya tidak terasa menetes.
Seluruh perkataan Jinny, sangat menyakitkan ...
Lebih baik, Melia tidak di sini semakin lama. Beberapa pekerja wanita yang tidak sengaja kini lalu lalang dan berpapasan dengannya memang benar memandangnya dengan tatapan ... aneh ...
Sepertinya, berkeliling kantor menang bukan lah keputusan yang tepat. Setiap perempuan yang Melia temui bahkan menghindar dan saling tatap dan berbisik.
Melia berlari dan segera membuka knop pintu ruangan Anderson. Tapi, baru saja Melia menjejakkan kaki di depan pintu Melia kembali dibuat kaget dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Anderson, apa itu ...?"
Bahkan Anderson masih membeku di sana. Ia tampak baru saja membuang isi paketan itu hingga sesuatu yang mengerikan di dalam paketan itu keluar dan membuat Melia hampir muntah.
***
Sementara di tempat lain, tampak Reyan dan Rosa sudah berada dalam perjalanan menaiki taksi.
Ya, Reyan dan Rosa sudah kembali ke Jakarta. Reyan menjanjikan kepada Rosa bahwa ada tempat tinggal di pinggiran kota yang kemungkinan akan sangat aman.
Paling tidak, untuk sementara waktu ...
Karena sepengalaman Reyan, Bram dan Anderson akan dengan sangat mudah mencari keberadaan mereka.
__ADS_1
"Aku akan mengantarmu ke tempat yang aman dan aku akan pergi sebentar saja ..."
Rosa mengangguk. Entah, ia sudah tidak tahu lagi akan percaya kepada siapa selain kepada Reyan.
"Maaf membuatmu mondar-mandir. Tapi mau bagaimana lagi, setelah kamu mengaktifkan ponselmu di Kalimantan, semua pengawal Bram pasti akan segera datang ke sana untuk mencarimu."
Rosa mengangguk dan Rosa paham akan situasi yang sedang dihadapinya kali ini.
Lalu, mereka telah sampai di sebuah perumahan pinggir kota.
Reyan tampak terburu-buru, ia menggandeng tangan Rosa untuk masuk ke dalam rumah dan menyuruh Rosa untuk segera beristirahat.
Astaga. Rosa hamil. Dan Reyan semakin merasa bersalah membuat Rosa seperti ini.
"Aku harus pergi sebentar, aku janji akan membawa Melia ke sini untuk bertemu denganmu sebentar lagi ..."
Rosa mengangguk.
Selama perjalanan, Reyan dan juga Rosa juga syok, di seluruh jalan yang mereka lewati penuh dengan berita yang menggemparkan.
Reyan dan Rosa bahkan hanya saling pandang karena syok akan kabar yang mengatakan bahwa Anderson akan segera menikahi Melia minggu depan.
"Apa Melia di paksa?"
"Apa Melia diancam untuk menikah dengan laki-laki itu?"
Paling tidak dua hal itu yang ada di pikiran Rosa dan Reyan karena masih tidak tahu semua situasinya sekarang ini.
Reyan sangat khawatir jika itu bisa sampai terjadi, Reyan sudah tidak mempunyai waktu lagi.
Reyan segera bergegas. Setelah memastikan Rosa baik-baik saja jika dia ditinggalkan sendirian, Reyan segera pergi dari tempat ini.
"Rey ..."
"Hati-hati,"
Ada kerutan yang ada di dahi Rosa karena entah kenapa ia semakin mengkhawatirkan keadaan Reyan.
Reyan mengangguk, tersenyum, dan membalas ucapan itu.
***
Dan kini, Reyan berlari untuk cepat-cepat menemui Melia.
"Apa dia baik-baik saja?"
"Apa Melia saat ini sedang tersiksa?"
Adalah pikiran yang masih melintas di kepala Reyan. Dan satu-satunya tujuannya saat ini adalah, ia harus segera pergi ke perusahaan itu. Paling tidak, ia pernah melakukan hal yang sama dengan membuntuti Anderson untuk menemukan Melia.
Dan Reyan harap, tujuannya akan berhasil. Ia akan segera menemui Melia dan membawa Melia pergi bersamanya.
Reyan sudah berada di depan kantor Anderson. Menggunakan hodie berwarna hitam dan tampak mengenakan masker mengendap-endap.
Lalu, sosok itu datang ...
Anderson melangkah keluar dari perusahaan.
Tapi ...
Sesuatu hal yang tidak pernah Reyan sanga-sanga sebelumnya, bahwa Melia ikut keluar bersama dengan Anderson. Berada santai dalam rangkulannya dan tersenyum menatap ke arah Anderson.
__ADS_1
Lalu, petir itu menyambar tepat di ulu hati Reyan. Sebongkah batu yang sangat besar seolah-olah menghantam jantungnya hingga membuatnya sesak tanpa ia kira sebelumnya.
Melia tersenyum ke arah laki-laki itu ...?
Reyan pikir, Melia menderita ...
Rayan pikir, Melia sedang membutuhkan pertolongan ...
Tapi, pemandangan yang ada di depannya membuat Reyan benar-benar marah dan kecewa.
Bagaimana bisa Melia tersenyum seperti itu di depan Anderson?!
Tubuh Reyan semakin lemas. Ia sangat kecewa. Benar-benar kecewa.
Jadi selama ini ...
Hanya dia sendirian yang tampil bodoh? Berharap akan menjadi pahlawan tapi berakhir menjadi pecundang.
Dan Melia ...
Telah mengkhianatinya.
Lalu, tangan Reyan mengepal kuat penuh amarah. Menatap Anderson dengan tatapan benci tidak tertahankan.
***
.
.
.
.
Kalian tim mana?
Tetep di Melia Anderson atau Melia sama Reyan?
kayaknya tetep Anderson lah ya, wakakaka...
.
.
. udah punya w a t t p a d belum, aku sebenarnya emang penulis dari sana. follower aku 100K loh. ah, sombong.
Semnjak jadi ibu, dan punya anak ... dan apa lagi ada tes cpnsan terus menerus dua tahun belakangan ini, jadi nulis di sana terbengkalai.
Mulai punya waktu luang, dan pengen nulis lagi, malah ke noveltoon, dan sekarang tiba2 pengen nulis di w a t t p a d lagi.
why ...?
aku gag bisa ngelupain w a t t p a d, kalian tahu dua novelku di sana besar dan bisa dicetak di gramed..
w a t t p a d cinta pertamaku gaes...
tapi paling tidak aku orangnya fair kok, yang aku post disini pasti aku selesaikan disini. jadi jangan pada salah paham y..
kalau cerita yang udah aku share di sini pasti gag akan aku pindah2 sampai tamat...
.
__ADS_1
.
. kalian sudah mau mengikuti ceritaku aja, aku makasih banyak gaes, untuk itu aku gag mau mengkhianati kalian... aku pernah negerasain kok kecewa ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya... wakkakaa