Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
TENTANG FILM


__ADS_3

Pengangguran hari pertama.


Melia mengerjapkan mata berulang kali ketika pagi datang. Melirik pada celah jendela dan langsung berlari begitu saja. Satu-satunya hal yang ia tuju adalah kamar mandi, melihat pada sampo dan sikat gigi kalau-kalau benda itu sudah berpindah tempat lagi.


Tapi ternyata tidak, benda itu masih pada tempatnya dan itu lah hal yang membuat Melia tenang.


Melia kembali pada tempat tidurnya, tengkurap di sana karena tidak tahu lagi harus melakukan apa.


Pengangguran hari pertama ternyata memang semenyedihkan ini. Berulang kali dia melihat pada layar ponselnya untuk mencari lowongan pekerjaan yang masih dibuka.


Kemarin, dia sempat sharing dengan Rosa. Katanya, ada sebuah pekerjaan sambilan di sebuah toserba alat-alat berat jika Melia mau. Sebelum Melia mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya, mungkin Melia bisa mengisi pekerjaan ini.


"Hai, Mel. Bagaimana? Pamanku kebetulan pemilik toko bangunan itu."


"Iya, Ros. Katakan padanya aku akan datang jam delapan nanti. Oiya, sampaikan salam terima kasihku."


***


Dan di sini lah Melia berada. Berada di depan sebuah etalase alat-alat seperti tang, paku, semen, beton, dan besi yang bahkan Melia tidak tahu. Di sudut sana, penuh dengan jejeran alat bangunan yang mungkin baru pertama kali Melia lihat.


"Bagaimana aku bisa bekerja di sini jika aku tidak tahu banyak barang ini?" Celetuk Melia tanpa sadar.


"Tenang saja, kamu hanya bagian merapikan semua barang ini. Dan tugasmu juga hanya menscan barcode sebelum digantung pada rak dan etalase."


Melia kaget saat ada orang yang merespon ucapannya. Sosok itu sudah menjulang tinggi ke atas dengan rambut yang sudah memutih.


"Emm, maaf Pak."


Laki-laki paruh baya itu terkekeh. "Ya, tidak apa-apa. Aku pemilik toko ini. Selamat datang Melia. Aku harap kamu betah di sini sebelum kata Rosa kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi pendidikanmu."


Melia tercekat. Ternyata ini benar pamannya.


"Emm, maaf. Iya Pak. Maaf sudah merepotkan."


Lagi-lagi dia tersenyum. "Ya, tidak apa-apa. Di sana ada celemek. Sayang jika benda-benda ini mengotori bajumu," ucapnya sambil menepuk bahu Melia.


"Baik Pak."


***


Melia menarik napas. Ternyata, tugasnya tidak buruk juga. Ia hanya disuruh merapikan barang-barang yang tadi diacak-acak oleh pembeli. Menggantungkan berbagai macam barang sesuai pada tempatnya dan hanya menatanya.


"Nice,"


Melia tersenyum senang.


Melia tidak sadar bahwa lewat jendela kaca yang berseberangan dengan jalan, ada orang yang terus mengamatinya. Anderson berada di di bagian belakang sementara Bram berada di bagian sopir.


"Nona Melia sudah jauh lebih mandiri, Tuan. Beliau yang mencari sendiri pekerjaan ini. Bahkan tanpa bantuan saya lewat Tuan."


Anderson tersenyum. Wanitanya memang sudah jauh lebih mandiri. Apa lagi saat berdiri di sana, ia tampak seksi ketika melihat Melia yang serius dengan pekerjaannya. Sesuatu hal yang membuat Anderson betah berlama-lama mengamati wanitanya.


"Apa anda yakin akan turun menemui nona Melia?"

__ADS_1


"Tentu saja, Bram. Aku akan menyapanya."


"Apa anda tidak takut jika nona Melia curiga lagi? Padahal kita sudah hampir berhasil membuat nona Melia yakin kalau selama ini bukan anda pelakunya."


Anderson mengangguk. "Percaya padaku, Bram. Aku hanya menyapa kekasihku."


Bram hanya mengernyit. Lalu dia bisa apa? Toh, Bram juga tidak akan pernah didengar oleh orang yang sudah tergila-gila dengan perempuan.


***


Melia bersenandung ria, menyanyikan lagu Bruno mars hingga tidak sadar bahwa ada orang yang sudah berdiri tepat di belakangnya.


Anderson menikmati ini, menikmati punggung wanitanya berjoget ria dan bau aroma bayi yang tercium di hidungnya.


Melia selalu berhasil membuatnya tergila-gila dari atas hingga bawah, dan Anderson yakin, suatu saat dia pasti bisa menerkamnya.


"Ehem," Anderson berusaha terbatuk untuk menyadarkan Melia. Ia tidak mau, jika ada laki-laki lain yang menikmati tubuh Melia ketika berjoget seperti itu.


Melia tercekat. Buru-buru ia menoleh ke arah belakang karena sepertinya ada pelanggan.


"Maaf, maaf Pak. Ada yang bisa saya ban ...?" Baru saja Melia menatap ke arah pria di belakangnya, tapi lagi-lagi Melia kaget bukan kepalang saat melihat Anderson di sini.


"Pak Anderson?!" Tanpa sadar Melia memekik keras.


"Hai, Mel."


"Pak Anderson?" Lagi-lagi Melia masih tidak percaya.


"Kenapa anda bisa ada di sini?"


"Aku hanya berbelanja. Apa tidak boleh?"


"Bohong!" Melia tercekat dengan pekikannya sendiri. Ia langsung menoleh ke kanan dan ke kiri karena takut jika bosnya yang sekarang memergokinya. Melia hanya takut jika ia dianggap tidak sopan sebagai pelayan.


"Kemari Pak." Melia langsung meraih tangan Anderson, membawanya segera pergi dari tempat ini dan menuju ujung toko agar tidak ada orang yang melihatnya.


Dan ini lah yang membuat Anderson menahan napas. Ini pertama kalinya Melia meraih tangannya dan menggandengnya.


Ya, hanya sebuah tindakan kecil. Tapi cukup mampu membuat Anderson senang.


"Pak? Kenapa anda kemari?"


"Sudah aku bilang aku hanya ingin belanja."


"Belanja di toko material?" Melia menyipitkan mata. "Sepertinya orang seperti anda tidak akan pernah bisa datang ke sini. Apa menurut anda saya sebodoh itu?"


Ha ha ha. Anderson tertawa. "Kamu memang pintar, Melia. Baik lah aku akan mengaku jika aku datang ke sini karena ingin melihatmu."


Melia menahan napas.


"Jangan mulai lagi, Pak."


"Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Kamu tahu aku kesepian tidak ada kamu di kantor."

__ADS_1


Melia memutar mata. Mau sampai kapan dia akan berbicara gombal seperti ini?


"Bisa kah anda pergi? Saya sudah menjalani hidup saya."


"Tidak. Aku tidak mau. Sebelum kamu datang dan menerimaku."


"Pak ... jangan mulai lagi."


"Bukan aku yang mulai. Tapi kamu yang mulai. Mau sampai kapan kamu memegang tanganku?"


"Eh?"


Melia langsung mengikuti arah pandang Anderson. Saat Anderson melihat tangannya yang ternyata masih dipegang oleh Melia.


"Kamu ternyata suka menyentuhku."


"Astaga. Aku tidak sadar." Buru-buru Melia melepaskan tangannya.


"Bohong."


"Aku tidak bohong."


Mereka bertengkar seperti anak kecil, hingga sampai pada suatu ketika sosok laki-laki datang. Laki-laki yang merupakan bos baru Melia datang dan melihat ke arah mereka.


"Apa ada masalah, Mel?"


"Emm, eh. Tidak Pak."


"Lalu pelanggan ini ...?"


Anderson mengernyit. "Maaf, Pak. Saya hanya ingin mencari seutas tali, lakban dan besi sepanjang satu meter kalau ada."


Melia tercekat.


Untuk apa dia mencari barang-barang seperti itu?!


"Oh, ada. Ada." Begitu ucap bosnya. "Melia bisa kah kamu mengantar pelanggan ini untuk mencarinya?"


"Eh?" Melia kembali kaget.


Tapi tiba-tiba, Anderson membisikkan sesuatu ke telinga Melia. "Apa kamu sudah menonton film fifthy shades of grey?"


Melia menahan napas.


"Situasinya sama kan?"


"Kenapa anda membeli barang-barang yang tidak nyambung seperti itu?"


"Jangan terlalu munafik, Melia. Kamu tahu untuk apa barang itu."


"A-apa?"


Tapi Anderson hanya tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Lagi pula, kamu sudah menikmati tubuhku selama semalaman kan?"


Mata Melia terbelalak dengan sangat lebar.


__ADS_2