
"Lepas! Lepaskan aku!"
Melia meronta. Sementara Anderson semakin memaksa Melia untuk ikut pergi bersamanya.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan?! Apa yang akan kamu lakukan pada Reyan?!"
Melia semakin putus asa ketika Bram berhasil membawa Reyan pergi. Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi entah ke mana.
"Tidak usah kamu pedulikan dia lagi! Dia pantas mendapatkannya!"
Dan pernyataan itu entah kenapa terasa sangat menyakitkan. Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu setelah semua yang dia lakukan kepada kami?!
Sementara Melia masih syok, Anderson menarik paksa tangan Melia lagi.
"Ikut aku."
"Aku tidak mau!!!"
Dan berulang kali pun Melia menolak.
"Mel, aku sudah melakukan semuanya untukmu! Apa kamu masih tidak mengerti juga?!"
Melia menggeleng-geleng keras.
"Tolong Reyan! Aku mohon kembalikan Reyan!!! Menurutmu apa yang ingin kamu lakukan lagi padanya?! Setelah apa yang sudah kamu lakukan padanya hingga dia menderita, sekarang apa yang ingin kamu lakukan lagi?!"
"Apa kamu tidak tahu kalau aku melakukan semuanya karena aku mencintaimu?"
Melia seperti sudah muak dengan segala hal itu. Melia melepas tangan Anderson dan melangkah mundur ke belakang.
"Anderson ... kamu benar-benar orang yang jahat."
Anderson menghela napas berat. Pada akhirnya Melia mau menyerukan namanya saja setelah sekian lama. Tapi bukan sebutan seperti ini yang Anderson inginkan ...
"Setelah sekian lama pada akhirnya kamu mau menyebut namaku ... tapi dalam situasi seperti ini ... ironis." Anderson tertawa menertawakan dirinya sendiri.
"Aku ... akan melaporkanmu pada polisi." Melia langsung menunjuk pada ponsel Reyan yang berhasil tadi ia bawa. Berusaha memencet tombol-tombol agar ia dapat segera menghubungi polisi.
Tapi di sana, Anderson hanya tertawa lagi.
"Menurutmu, apa mereka akan percaya?"
Tangisan Melia kembali pecah. Bahkan, Anderson berhasil membawa orang menggantikannya di penjara saat dia menabrak orang tuanya, dan sekarang apakah semua akan berakhir sia-sia lagi jika ia melaporkannya?
Tapi, Melia tidak terpengaruh. Ia berusaha menelefon polisi lagi. Tapi, para pengawal Anderson dengan cepat merebut ponsel itu dan menghempaskannya ke atas tanah. Hancur berkeping-keping menjadi beberapa bagian.
Melia syok, tangis Melia pecah lagi.
"Anderson, kamu benar-benar jahat."
"Aku tidak perduli dengan apa yang kamu pikirkan, Melia. Dan sekarang cepat ikut aku!"
Melia menggeleng keras. Ia melepaskan tangan Anderson.
"DASAR BAJING*AN!!!" Sungguh. Melia sudah tidak tahan lagi. Ia benar-benar muak. Ia marah kepadanya hingga rasanya ia benar-benar ingin membunuhnya.
"Jelaskan padaku kenapa kamu melakukan semua ini padaku?!!! Kenapa kamu membunuh orang tuaku?! Kenapa kamu melarikan diri?! Kenapa kamu bahkan dengan teganya menggantikan posisimu dengan orang lain?! Kenapa kamu menghancurkan hidup Reyan?! Kenapa kamu hampir membunuh Boby?! Kenapa kamu membuntutiku selama ini?!"
__ADS_1
"Melia, aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan?!"
"Jangan pura-pura bodoh?! Menurutmu apa aku tidak tahu setelah aku melihat semua kejahatanmu."
"Apa mantan pacarmu itu sudah mencuci otakmu selama kalian menginap?!"
"Jangan bicara yang tidak-tidak! Kenapa kamu selalu bertindak seolah-olah kamu adalah korban?"
"Aku pernah bilang padamu kalau jangan pernah percaya pada orang lain selain aku ..."
"Anderson ... kamu hampir membuatku gila."
"Aku mencintaimu, Mel. Bisa kah kamu melupakan apa yang terjadi dan kembali padaku saja?"
Dahi Melia semakin mengerut, ia bahkan sudah tidak mengenali Anderson lagi. Orang yang ada di hadapannya saat ini terlalu pandai untuk playing victim. Selalu berbohong, berkilah dan bahkan hampir membuat Melia gila.
"Lalu, bisa kah kamu jelaskan kenapa ada begitu banyak fotoku dan rekaman cctv dari rumah lamaku?"
"..."
"Bahkan Boby, korbanmu yang lain juga mengakui bahwa orang yang menabraknya adalah orang yang sangat mirip dengan Bram."
"..." Anderson hanya bisa menyipit memperhatikan Melia yang menangis sesenggukan.
"Kenapa Anderson? Apa kamu menyesal bahwa Boby masih hidup dan masih bekerja di perusahaanmu?"
"Melia ..."
"Dan aku sendiri juga sudah mendengar rekaman suara darimu, saat kamu mengatakan sendiri kalau kamu adalah orang yang menabrak kedua orang tuaku sampai meninggal dan menyuruh orang lain menggantikan kamu di penjara."
Sementara Anderson, hanya bisa menarik napas panjang. Ternyata memang benar, bahwa Melia sudah mengetahui semuanya. Seberapa keras ia berkelit lagi, Melia sudah tidak akan percaya lagi.
Anderson menatap Melia dalam-dalam, melihatnya menangis seperti itu memang terasa menyakitkan.
Sepertinya memang benar kalau Anderson harus menyudahi semua kebohongan dan sandiwaranya selama ini.
Anderson tertawa lagi. Menatap ke arah Melia dengan getir.
"Jadi ... aku sudah ketahuan rupanya ..." ucapnya tiba-tiba.
Dan ucapan itu, benar-benar berhasil membuat Melia kembali menangis terisak-isak. Rasa sakitnya terasa menyayat hati, jantungnya seperti dicabik-cabik ketika mendengar semua pengakuan itu.
"Ya, Melia. Aku memang sudah melakukan semua hal itu."
Petir itu menyambar tepat di ulu hati Melia.
"Dan selama ini aku ditipu ...?"
Ironis. Melia dibohongi mentah-mentah.
"Tapi, asal kamu tahu, aku benar-benar mencintaimu."
"Pembohong."
"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."
Dan sorot mata Melia berubah menjadi benci. Bayang-bayang saat kecelakaan itu tiba-tiba teringat terasa begitu jelas. Ketika Anderson menabrak kedua orang tuanya meninggal, dan meninggalkannya seorang diri. Suatu tindakan paling tidak bertanggung jawab yang pernah dilakukan bajing*an seperti Anderson.
__ADS_1
"Aku tidak sudi melakukannya."
Anderson menahan napas.
"Kalau begitu, aku bisa memaksamu lagi."
"Aku benci padamu sampai akhir."
Tidak sengaja, air mata Anderson mengalir begitu saja.
"Apa kesalahanku sudah tidak termaafkan lagi?"
"Bahkan aku sudah tidak sudi melihatmu lagi."
"..."
"Aku harus pergi! Aku benci padamu! Aku benci laki-laki yang membunuh kedua orang tuaku! Aku tidak sudi hidup bersama penguntit menjijikkan yang mengawasi setiap detail hidup perempuannya bahkan tanpa jeda sedikit pun. Bahkan, aku tidak tahu bagaimana caranya kamu bisa datang sesuka hati ke rumahku. Apa yang sudah kamu lakukan padaku sampai aku tidak pernah sadar?
Melia sudah tidak bisa membendung semua emosinya. Ia terengah-engah, napasnya tersengal. Ia menangis sesenggukan.
Sedangkan Anderson hanya bisa diam membisu. Mempersilahkan Melia mengucapkan sumpah serapah untuknya agar dia puas melampiaskan semuanya.
"Aku mencintaimu, Mel. Sangat. Aku melakukan semuanya hanya untuk mengawasimu dan kamu baik-baik saja."
Tapi sepertinya Melia sudah tidak mau mendengar apa pun lagi yang Anderson ucapkan.
"Kembali lah padaku. Beri aku kesempatan."
Melia menggeleng. "Sudah aku katakan aku tidak akan pernah mau bersamamu lagi."
Tarikan napas Anderson terasa sangat berat. Matanya mulai memerah, tangannya mengepal menahan rasa sakit yang mulai menyeruak tajam.
"Kamu selalu tahu kalau aku bisa memaksamu, bukan?"
Tiba-tiba saja, Anderson mengambil sesuatu dari balik saku jasnya.
"A-apa yang ingin kamu lakukan?"
"Katamu ... kamu ingin tahu bagaimana caranya aku selalu menguntitmu, dan kenapa kamu tidak sadar saat aku melakukannya ..."
Melia mulai ketakutan. Ia melihat Anderson tiba-tiba mengenakan penutup hidung dan mengambil sebuah botol kecil berisi cairan.
"Apa yang ingin kamu lakukan?!" Melia mulai melangkah ke belakang, mulai berlari sekuat tenaga namun Anderson dengan cepat menangkapnya. Menarik tangannya dan membekap mulut Melia.
"Maafkan aku," desis Anderson sebelum Melia jatuh ke dalam kegelapan.
***
20.30 aku update cerita ini... share kapan kalian baca cerita ini .. wkwkwk
.
.
.
Temui aku di Ig hi_alaleana
__ADS_1