
Mata Melia terbelalak kaget ketika masih tidak percaya dengan sosok yang ada di depannya. Ia syok, membuatnya hampir terjatuh ketika ia langsung melangkah mundur ke belakang.
"M-mau apa kamu?! Bukan kah kamu seharusnya masih ada di penjara?!"
Ha ha ha. Orang itu tertawa terbahak-bahak.
"Ada orang yang mampu membuatku keluar dengan sangat cepat."
Melia mengernyit.
Tidak. Ini pasti salah. Ia pasti salah. Seharusnya orang ini tidak keluar sekarang, dia masih mempunyai beberapa tahun lagi untuk bisa keluar dari penjara.
Melia semakin ketakutan, ia meringsut mundur ke belakang.
"Kenapa kamu takut?" Senyum itu menyeringai dengan kengerian yang tiada tara. Dari dalam saku jasnya, tiba-tiba ia mengeluarkan sebilah pisau yang sangat tajam.
"M-mau apa kamu?!"
"Menurutmu?! Ha ha ha. Aku hanya ingin tahu segila apa dia saat melihat wanitanya berdarah?"
Melia semakin melangkah mundur, ia ingin lari tapi baru saja ia akan lari, sosok itu datang dan menarik tangannya. Mendorongnya paksa hingga jatuh ke atas tanah.
"Salah siapa dia tidak menurutiku ... seharusnya dia sudah memberiku uang yang aku minta."
Lalu, sosok itu mengangkat tinggi-tinggi pisau yang ia pegang, bersiap untuk menghunus Melia dari sisi mana pun yang ia suka.
***
"Aaaa!!!" Jeritan itu terdengar mememakkan telinga, Anderson langsung dibuat membeku begitu saja ketika mendengar bahwa suara itu adalah suara jeritan Melia.
Anderson mendongak ke atas ke arah sumber suara itu, sebuah gang sepi yang gelap tanpa penerangan.
"Cepat temukan Melia sekarang juga! Aku tidak ingin dia terluka sedikit pun!"
Anderson berpacu dengan waktu, ia langsung berteriak kepada para pengawalnya dan meminta para pengawal untuk segera mencari keberadaan Melia.
"Baik, Tuan."
***
Darah segar keluar dari leher Melia saat ini, pembunuh itu melukainya hingga menimbulkan bekas perih dan nyeri yang teramat sangat.
Ha ha ha.
Melia semakin ketakutan, dia meringsut mundur ke belakang ketika melihatnya menggila dengan sangat mengerikan.
"Apa yang kamu lakukan?!"
__ADS_1
Melia hampir menangis begitu saja, sosok itu kembali mencengkeram kerah bajunya kemudian mencekik leher Melia kuat-kuat.
"Tol ... long. Lep ... pas!"
Melia terbatuk-batuk, ia sudah nyaris tidak bisa bernapas saat ini.
"Berteriak lah, Melia. Menurutmu apa anda orang yang bisa menolongmu saat ini? Ha ha ha."
Melia menggeleng-geleng keras. Ia takut. Sungguh merasa takut. Melia meronta, tapi sayang, tenaganya tidak cukup mampu untuk berontak.
Sosok itu semakin mencekik lehernya kuat-kuat. Membuat seluruh tubuh Melia semakin lemas begitu saja.
"P-pembunuh ..."
Plak!
Tiba-tiba saja sosok itu melepas cekikannya dan langsung menampar keras pipi Melia.
"Sudah aku katakan aku bukan pembunuh! Kilatan matanya semakin mengerikan ketika mendengar Melia mengatakan itu.
Uhuk, uhuk, uhuk.
Melia terbatuk-batuk. Ketika ia mendapatkan oksigen, ia langsung segera bernapas kuat-kuat.
Tapi sayang, sosok itu tidak melepas Melia begitu saja. Ia kembali menarik rambut Melia hingga Melia hampir terjungkal ke belakang.
Melia menggeleng keras. Ia baru saja kehilangan ponselnya beberapa waktu yang lalu.
"Lepas!"
"Cepat hubungi Anderson atau aku akan semakin menggila! Aku akan membuatmu hancur sehancur-hancurnya."
Melia tetap menggeleng.
"Aku ... kehilangan ponselku."
"Bohong!"
Plak!
Tiba-tiba saja ia menampar keras pipi Melia, membuat Melia sampai jatuh untuk yang ke dua kalinya.
Kepala Melia tidak sengaja terkena pagar besi, membuat kepalanya pusing dan pandangannya langsung kabur. Tapi, belum selesai Melia menyadarkan dirinya, sosok itu kembali datang dan mengacungkan pisau lagi ke arah Melia.
"Cepat hubungi Anderson dan bilang padanya untuk mengirimiku uang!"
Tapi Melia tetap menggeleng.
__ADS_1
Bug!
Melia kembali di banting ke atas tanah.
"Kamu benar-benar ingin aku bunuh?!"
Melia menangis lagi. Sungguh. Ia benar-benar ketakutan. Ia merangkak menghindar tapi laki-laki itu kembali menangkapnya.
Hingga sampai suatu ketika sosok itu tidak sengaja melihat rok Melia yang terbuka. Membuatnya lupa sesaat dan jangkunnya tiba-tiba naik turun.
Senyuman itu semakin menyeringai dan Melia semakin ketakutan.
"Kalau begitu, izinkan aku mencicipimu sebentar saja. Ha ha ha."
Mata Melia terbelalak hebat. Ia ingin berlari tapi sosok itu langsung menjambaknya dan membantingnya ke atas tanah.
Tidak! Jangan!
Melia ketakutan. Sosok itu mencengkeram bajunya dan langsung merobeknya. Membuat tangis Melia tumpah ruah dan tangannya bergetar hebat. Jantungnya berdegup keras, kengerian benar-benar menyergapnya dan ia semakin takut.
Ya Tuhan, siapa pun tolong aku ...
Sosok itu kembali menarik rok Melia, sekuat tenaga Melia mempertahannya tapi sayang, bunyi sobekan terdengar keras hingga Melia tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Situasinya benar-benar genting, Melia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Ia menangis, ia benar-benar ketakutan, hingga sampai pada suatu ketika terdengar beberapa langkahan kaki yang terdengar mendekat ke arah dirinya.
"LEPASKAN!"
"Anderson ...?"
Melia mendesiskan nama itu. Ketika ia melihat sosok itu, tiba-tiba oksigen langsung masuk begitu saja ke dalam paru-parunya, membuat Melia bisa bernapas penuh kelegaan.
Anderson berada di ujung tangga dengan mata yang sangat syok, ia melihat Melia terjatuh dengan sangat mengenaskan hingga membuatnya benar-benar marah.
"APA YANG KAMU LAKUKAN?!"
Sosok itu kaget akan kehadiran Anderson. Tapi, dia tidak kehilangan akal, ia langsung menarik Melia dan menodongkan pisau ke arah lehernya.
"Sekali kamu melangkah, aku akan mengiris leher perempuanmu sampai putus."
Lalu, terdengar tawa yang menggelegar dengan sangat mengerikan. Membuat tangan Melia semakin gemetar hebat dan menangis sesenggukan.
***
halo halo, aku balik lagi...
oiya.. kalok kalian pengen novel dengan genre kayak gini, bisa mampir ke k b m, bisa donlod di aplikasi ya...
__ADS_1
judulnya the bad boy next door.. kisah obsesi jugak...