
Di sebuah ruang yang sepi dan juga gelap, hanya ada lampu temaram berada di sudut sana yang mana pencahayaannya tidak mampu untuk menjangkau seluruh ruangan ini.
Di sana, Anderson duduk sambil termenung, memandangi foto-foto Melia yang tersebar di seluruh penjuru bersama dengan Bram yang sedari tadi berada di belakang Anderson.
"Maaf, Tuan. Saya sudah kecolongan."
Mata Anderson berubah tajam. Hal yang Anderson pikir semua akan baik-baik saja nyatanya menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
"Kenapa baru memberi tahuku sekarang, Bram?"
"Saya butuh waktu untuk memastikan semuanya, namun ternyata, dugaan saya benar. Orang yang saya bayar untuk menggantikan Tuan menjadi tersangka dalam kasus kecelakaan itu, ternyata mengingkari janjinya."
Di dalam sudut yang gelap itu Anderson kemudian melangkah. Mengambil salah satu foto Melia dan mengamatinya lekat-lekat.
"Apa yang dia inginkan lagi? Aku sudah membayarnya dengan cukup mahal."
"Dia berusaha merampas anda. Dia bilang, dia butuh lima ratus juta."
Salah satu tangan Anderson mengepal kuat. Anderson sudah semestinya tahu ke mana arah pembicaraan itu.
"Lalu jika tidak?"
"Dia mengancam akan memberi tahu nona Melia bahwa pelaku sebenarnya adalah anda."
Prang!
Tiba-tiba saja Anderson meraih vas yang ada di depannya dan membantingnya keras-keras.
"Maaf, Tuan. Saya benar-benar ceroboh. Saya tidak hati-hati." Bram menunduk, ia menyadari semua kebodohannya.
"Seharusnya saya mencari orang yang dapat dipercaya."
__ADS_1
"Di mana dia sekarang?"
Bram menarik napas panjang kemudian melangkah melewati Anderson, sudah seharusnya Tuannya itu tahu kalau sebenarnya laki-laki itu sudah ada di sini. Berada di luar ruangan dan menunggu uang sebagai jaminan bahwa dia akan terus tutup mulut.
Hanya butuh satu menit berselang ketika Bram meninggalkan Anderson, dan setelah itu, Bram kembali datang bersama dengan seseorang yang lain.
Prok prok prok.
Dan laki-laki itu bertepuk tangan dengan sangat keras saat datang ke arah Anderson. Tawanya menggelegar ketika pada akhirnya dia bisa bertemu secara langsung kepada orang yang selama ini membuatnya mendekam di dalam penjara.
"Wow. Wow. Wow. Sudah kuduga kamu begitu terobsesi dengan perempuan itu. Aku jadi penasaran bagaimana kalau perempuan itu tahu bahwa kamu adalah dalang dibalik kematian orang tuanya."
"Tutup mulutmu!" Bram memerintah. Tapi Anderson hanya menghela napas.
"Kamu tahu kalau aku bisa membunuhmu saat ini juga?" Dan sepertinya, Anderson sudah kehilangan kesabarannya lagi.
"Hey, hey. Calm down. Aku hanya butuh uang tutup mulut. Orang sekaya dirimu pasti tidak keberatan untuk menyisihkan recehan lima ratus juta kan?"
"Itu sudah habis di meja judi. Aaahh, sial. Kenapa aku kalah terus menerus?"
Bram yang mendengar itu semua hanya bisa menarik napas panjang.
Tiba-tiba saja Anderson merogoh sebuah cek dari dalam jasnya, menuliskan nominal uang dan melemparkan cek ke hadapan orang itu.
"Itu terakhir kalinya. Kalau kamu datang ke sini lagi dan membuat onar, aku pastikan kamu tidak akan hidup dalam waktu yang lama."
Ha ha ha. Sosok itu tertawa terbahak-bahak. Jelas itu hanya ancaman kan? Laki-laki itu dengan percaya diri mengambil cek itu dan melengang pergi.
"Jika aku mati, aku sudah menyuruh orang untuk memberikan bukti kepada wanitamu kalau kamu adalah pembunuh orang tuanya."
Dan jawaban dari mulut itu, benar-benar membuat mata Anderson dan Bram membelalak hebat.
__ADS_1
Sial! Dia sudah merencanakan semuanya!
"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan-tuan yang terhormat."
Pintu ditutup paksa, dan Bram masih membeku dibuatnya. Kenapa Tuan Anderson bisa begitu mudahnya memberikan uang kepada laki-laki itu?
"Tuan? Kenapa anda memberikan uang itu kepada dia? Apa anda tidak tahu kalau dia akan datang lagi dan memeras anda?"
Tidak menjawab pertanyaan dari Bram, Anderson langsung menghajar kaca yang ada di depannya hingga langsung luluh lantak. Menimbulkan luka memar penuh darah tapi sepertinya Anderson tidak perduli.
"Tuan?"
"Aku hanya mengulur waktu agar laki-laki itu tidak nekat. Sekarang, tugasmu, pastikan kalau dia tidak akan berani datang kembali."
Bram menarik napas. Melihat darah segar terus keluar dari tangan Anderson benar-benar membuat Bram khawatir.
"Ya, Tuan. Saya pastikan itu."
"Sial! Dia laki-laki yang cerdas."
Bram tercekat. "Maaf, Tuan. Itu sepenuhnya kesalahan saya."
Anderson mengerjapkan matanya sebentar. "Itu bukan salahmu. Tapi jika seandainya Melia pada akhirnya tahu kalau aku adalah pembunuh orang tuanya dan berakhir membenciku ..."
Bram mengernyit saat menatap ke arah Anderson.
"Aku akan tetap terus membawanya selalu berada di sampingku meski dia membenciku. Aku akan menculiknya, membawanya ke luar negeri di mana tidak ada yang bisa menolongnya. Kemudian memaksanya untuk menerimaku walau dia tidak menyukainya."
Bram memang sudah tahu ke mana arah maksud Tuannya ini. Memang sebegitu terobsesi dan tergila-gilanya Tuannya itu kepada Melia.
"Kalau begitu, tidak ada salahnya Tuan mempertimbangkan pendapat saya tempo hari."
__ADS_1
***