Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
RUANGAN YANG DITEMUKAN


__ADS_3

Melia masih termangu, menatap pada pintu yang baru saja dilewati oleh Anderson dengan tatapan tidak percaya.


Dia akan segera pergi ke ke Perancis?!


Apa Melia mimpi? Apa Anderson sedang tidak waras ketika mengatakannya?


Tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka hingga membuyarkan lamunan Melia. Sosok Bram muncul dari arah luar hingga masuk ke dalam ruang.


"Bram ...?"


"Nona Melia."


"Pak Anderson ...?"


"Maaf, Nona. Tuan Anderson ada di kantor sekarang. Beliau sedang membereskan semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan karena sebentar lagi beliau akan ke Perancis dengan anda dan menetap dalam waktu yang cukup lama."


Detik itu juga Melia menahan napas. Bahkan Anderson tidak mendengarkan terlebih dahulu mengenai pendapatnya. Melia juga belum mengiyakan permintaannya itu, tapi kenapa Anderson bisa terburu-buru hingga sampai seperti ini?


"Aku ... katakan padanya aku belum siap untuk pergi ..."


"Kita harus pulang, Nona." Belum selesai Melia melanjutkan kata-katanya, Bram sudah menyela seluruh pembicaraan Melia.


"Tapi,"


"Saya diperintah Tuan Anderson untuk membawa anda ke tempat tinggalnya."


Dahi Melia semakin mengerut. Untuk yang kesekian kalinya Anderson melakukan sesuatu hal tanpa persetujuannya.


"Cuaca sedang tidak bagus. Paris dilanda salju yang lebat. Keberangkatan anda paling cepat besok dini hari, dan anda tidak mungkin berada di kamar perawatan rumah sakit sampai besok, untuk itu anda harus pulang ke rumah Tuan Anderson dan bersiap dari sana."


Dan sampai sekarang pun, Melia tidak pernah ditanyai pendapatnya, bahkan juga dengan Bram, pengawalnya. Tiba-tiba Bram kembali membuka pintu kamar lebar-lebar, menyuruh Melia keluar untuk ikut bersamanya.


"Tapi,"


***


Terlambat. Melia sudah berada di dalam mobil dan ada Bram di depannya kali ini.


Jantungnya bergemuruh hebat, tangannya pun bergetar kala memikirkan keputusan demi keputusan yang Anderson buat bahkan tanpa meminta pertimbangannya.


"Pak Anderson, apa memang selalu seperti ini?"


Bram tidak menjawab apa pun lagi. Bram hanya memegang kemudi dan melajukan mobilnya tanpa terganggu dengan pertanyaan Melia.


"Pak Anderson, apa kamu tidak terganggu dengan semua sikapnya?"


Bram masih diam saja.


Melia melenguh. Percuma saja jika dia akan bicara apa. Bram pasti tidak akan pernah mau menjawabnya.


"Hanya saja ... aku memang mencintainya, tapi di sisi yang lain, aku ketakutan setengah mati padanya."


Bram sedikit melirik ke arah Melia dari spion yang tertempel dari arah depan. Kerutan yang ada di dahi Melia sudah cukup mampu menjelaskan betapa khawatirnya dia.


"Mengenai keputusan Anderson membawaku ke Perancis ... apa tidak bisa diganggu gugat lagi? Kenapa semuanya menjadi terburu-buru seperti sekarang ini?"


Dahi Bram ikut mengerut.


Karena Tuan sangat ketakutan kalau semua rahasianya terbongkar dan anda membencinya, Nona ....


Bram menarik napas, lalu mengeluarkannya pelan. Ia hanya menjawab semua pertanyaan Melia dengan batinnya saja.


"Bahkan, aku belum berpamitan dengan siapa pun. Aku tahu aku sudah tidak punya keluarga, tapi aku masih mempunyai teman-teman. Bahkan, aku juga belum berpamitan dengan Rosa."

__ADS_1


Mendengar nama Rosa disebut, tiba-tiba Bram langsung mengerem mobil ini secara mendadak. Bram kaget bukan kepalang. Jantungnya seperti dicengkeram kuat saat Melia menyerukan nama itu.


"Bram ...!"


Melia hampir terjatuh saat Bram hampir menyelakainya. Mobil-mobil yang ada di belakang kini mulai membunyikan klakson, tanda bahwa apa yang baru saja dilakukan Bram memang berbahaya.


"A-apa yang baru saja kamu lakukan?!"


"Maaf, maaf Nona." Bram kemudian melajukan mobilnya lagi.


Bram mengerjap-erjap. Dadanya kembali perih saat teringat nama itu lagi. Tiga hari sudah berlalu dan Bram meninggalkannya bagaikan sampah. Rasanya terasa sangat sesak, seharusnya ia sudah bertanggung jawab pada dirinya dengan menikahinya. Tapi, ternyata situasi sedang berubah.


Maafkan aku, Rosa ... tunggu lah sebentar lagi. Setelah aku menyelesaikan semuanya, aku akan kembali padamu.


Begitu ucap Bram di dalam hati.


***


Dan kini, di sini lah Melia berada. Di sebuah tempat tinggal yang menjulang tinggi ke atas. Pilar-pilar yang berdiri kokoh itu mampu menjelaskan betapa kayanya Anderson. Dengan rumah tiga lantai dan juga arsitektur modern yang berwarna gelap hampir kesemuanya.


"Anda bisa masuk, Nona. Mari saya antarkan."


"Emm, eh?"


Melia masih terkagum-kagum dibuatnya. Ia masih belum percaya dengan rumah megah yang baru pertama kali Melia lihat saat ini.


Tapi, Melia menurut, ia melangkah mengekor dari arah belakang. Dan begitu pintu dibuka, Melia hanya melihat satu orang perempuan paruh baya berseragam putih hitam dan juga seorang laki-laki.


"Perkenalkan Melia, ini Lusi pembantu di rumah ini. Dan Rano, tukang kebun rumah ini."


Melia mengangguk ke arah mereka berdua. Tersenyum tipis dan mereka menyambut Melia dengan sangat sopan.


Tapi entah kenapa tanda tanya besar mulai menggelitik di pikiran Melia saat ini.


Dan pertanyaan itu tanpa sengaja terlontar dari mulut Melia saat ini.


Bram hanya mengangkat bahunya sambil menatap Lusi dan Rano yang meninggalkan mereka berdua untuk tugasnya masing-masing.


"Tuan Anderson tidak menyukai kebisingan dan dia membutuhkan ruang sepi."


"Jahat sekali ... apa Anderson bisa sekikir itu hingga dia tidak kasihan pada dua orang itu?"


"Orang yang anda katai jahat dan kikir adalah calon suami anda."


Melia melengos dan menatap tajam ke arah Bram. Tapi tiba-tiba, Melia seperti teringat akan sesuatu.


"Oh iya. Saat aku masuk ke dalam daftar hitam. Aku tahu kalau tas yang berisi dompet dan ponselku yang dicuri pasti ulah kalian. Aku ... aku mau semua tas itu kembali."


Tapi, Bram hanya menaikkan bahu. "Aku tidak tahu, Nona. Mari, saya antarkan anda ke kamar."


"Eh? Hai! Aku sedang bicara!"


Dahi Melia kembali mengerut lalu dengan terpaksa menuruti permintaan Bram untuk menyusuri anak-anak tangga dan naik ke atas.


"Ini kamar anda, Nona," ucap Bram ketika ia sudah berada di depan pintu. "Setelah anda masuk, anda dilarang tuan Anderson untuk pergi ke mana pun. Dan saya, akan tetap berada di depan pintu anda untuk mengawasi anda agar anda tidak pergi ke mana pun."


Dan lagi-lagi, Melia terhenyak akan apa yang diucapkan oleh Bram.


"Astaga! Apa-apaan ini?!"


"Maaf, saya hanya menjalankan perintah."


Melia mencengkeram erat tangannya sendiri merasa semua yang dilakukan Bram dan Anderson tidak lah wajar.

__ADS_1


"Sebenarnya, apa yang sebenarnya ingin kalian sembunyikan? Kamu dan Anderson adalah dua orang yang benar-benar membuat semua orang curiga. Sebenarnya kenapa dengan kalian?"


Tapi belum selesai Melia bicara lagi, Bram sudah menarik tangan Melia untuk masuk ke dalam kamar dan Bram berjaga di depan pintu kamarnya.


***


Sial! Sial! Sial!


Melia seperti ingin meninju orang itu di dalam kamar.


Sementara di luar ruangan, Bram tampak memejamkan matanya rapat-rapat. Perasaannya tersiksa. Sejak tiga hari yang lalu, ia benar-benar kepikiran dengan Rosa. Ia sudah meninggalkannya bagaikan sampah dan belum mengabari Rosa sama sekali.


Bram tidak tahan. Ia benar-benar tidak tahan. Dilihatnya layar ponsel dan mencari kontak bernama Rosa.


Tangannya mulai gemetar. Dilihatnya pintu yang ia jaga dan sepertinya sudah sangat sunyi. Mungkin, jika ia tinggal sebentar untuk menghubungi Rosa, Melia juga tidak akan keluar dari kamar itu.


Bram tidak akan jauh, dia hanya butuh tempat sedikit sunyi untuk berbicara panjang lebar kepada Rosa.


Lalu, Bram mulai melangkah. Sedikit melangkah menjauh untuk segera menghubungi Rosa.


***


Sementara di dalam kamar, Melia benar-benar kepikiran. Seperti ada rahasia besar di dalam diri mereka hingga membuat Melia dikurung di dalam kamar ini.


Awalnya sepuluh menit, lalu lima belas menit hingga berakhir setengah jam Melia sudah sangat bosan. Tapi tiba-tiba, Melia seperti terdengar sebuah dering hand phone dan nada deringnya seperti tidak asing.


Melia mengerut.


Bukan kah ini sama persis dengan nada deringku?


Ah, tidak mungkin. Sudah tiga hari dan ponselku pasti sudah mati.


Melia menggeleng-gelengkan kepala lagi.


Tapi, semakin Melia dengar semakin Melia penasaran. Suara itu, samar-samar memang sangat familiar dengan suara ponselnya. Membuat Melia bangkit dari ranjang dan mempertajam pendengarannya.


Ya, sepertinya ini tidak salah. Ini jelas ponselnya.


Dahi Melia mengerut kemudian nekat untuk keluar kamar yang ternyata tidak dikunci.


Mata Melia melebar. Bram tidak ada di luar padahal Bram berjanji untuk selalu menjaganya.


Tapi, bukan kah itu bagus? Melia tiba-tiba mencari sumber suara itu dan mulai keluar dari kamar dengan langsung menutup pintunya agar Bram mengira bahwa dia masih di dalam kamar.


Melia mulai melangkah. Suara itu terdengar cukup jauh dan sepertinya itu berada di lantai tiga. Dengan langkah yang mengendap-endap Melia mulai mencari lagi suara itu. Hingga sampai pada suatu ketika, Melia menemukan sebuah ruang di mana ruangan itu berada di paling ujung dan suara ponsel yang berdering nyaring itu entah kenapa terasa semakin jelas terdengar.


Ya, tidak salah lagi. Pasti ada ponsel di dalam ruangan itu.


Cepat-cepat Melia pergi ke arah sana. Meraih knop pintu lalu kini membukanya.


Ya. Ternyata benar. Begitu Melia membuka pintu itu, ponselnya benar-benar berada di sana. Terpasang pada charger dan berada di atas meja.


Tapi ...!


Bukan itu juga. Saat Melia mengibaskan pandangan ke sekitar. Melia dibuat kaget begitu saja. Pandangan yang ada di depannya kali ini benar-benar membuatnya sangat syok bukan kepalang.


ASTAGA!!! APA-APAAN INI?!


Bahkan Melia harus membungkam mulutnya sendiri ketika melihat seluruh isi ruangan kamar ini yang penuh dengan foto-fotonya berada di dalam ruangan.


***


Updatenya udah agak banyak ya sekarang.. hehehe... oiya kasih dukungan juga buat virgin not for sale.. biar aku tambah semangat.. makasih ;)

__ADS_1


__ADS_2