
Ini gila!
Ini benar-benar gila!
Melia meremas kepalanya saat ia masih tidak percaya kalau ia berhasil keluar dari rumah Anderson.
Ada perasaan sakit ketika ia menyadari akan hal itu. Melihat Anderson yang selama ini sudah berjasa kepada dirinya, rasanya menyesakkan ketika ia harus melakukan hal ini kepada orang yang ia cintai.
Tapi ...
Ada sebuah rahasia yang harus Melia ungkap, yang mana itu mustahil ia dapatkan dari Anderson.
Melia bahkan menangis saat ini juga. Kenyataan bahwa ia harus pergi dari sini adalah sesuatu hal yang lagi-lagi membuat dadanya sesak. Hubungannya dengan Anderson baru saja membaik, tapi Melia sudah melakukan hal nekat lagi.
Tapi mau bagaimana lagi ...? Melia harus benar-benar mengetahui siapa sosok orang yang selama ini ia cintai, dan foto-foto yang ada di dalam ruangan itu sungguh mengerikan. Anderson bahkan sudah mengetahui tentang kehidupannya bahkan jauh sebelum Melia mengenal dengan dirinya.
Melia tidak membawa apa pun selain ponsel yang ia genggam saat ini. Terus berlari dan berlari dan hanya Rosa tujuannya saat ini.
Jantung Melia berdebar dengan sangat keras. Kepalanya penuh dengan kepingan puzzle dan ribuan pertanyaan. Kenapa Rosa mengatakan hal mengerikan seperti itu?
Melia masih bersembunyi saat ia teramat lelah. Duduk bersimpuh ketika ia berada di sebuah pohon yang menjulang tinggi di samping taman kota.
Dan baru saja Melia menormalkan napasnya, terlihat ponselnya berkedip-kedip lagi. Namun bukan Rosa, melainkan ...
"Reyan ...?"
"Melia!"
"..."
"Melia! Ada sesuatu hal yang harus kamu dengar saat ini juga!!!"
***
Anderson menggebrak pintu mobilnya ketika ia sudah sampai di depan rumah. Melihat Bram dan beberapa pengawal lainnya yang langsung berjejer rapi di depan pintu seperti menyambut Anderson.
Sungguh. Semua orang ketakutan melihat raut muka Anderson yang merah padam seperti itu. Penuh dengan amarah yang siap akan meledak saat ini juga.
"Tuan, kami ..."
"Apa yang baru saja kamu LAKUKAN?!!!"
BUG!
__ADS_1
Satu pukulan keras tepat mendarat di sebelah pipi kanan Bram, membuat Bram langsung jatuh tersungkur tapi seketika ia langsung berdiri dan beranjak bangkit.
"Maaf, Tuan. Saya telah melakukan kesalahan fatal."
Dan lagi-lagi Anderson memukul keras pipinya sekali lagi. Meluapkan seluruh emosinya karena telah melakukan kesalahan karena Melia berhasil kabur dari rumah ini.
"Temukan Melia atau aku harus memecatmu!"
Bram menahan napas kemudian mengangguk, tidak ia perdulikan darah yang mengalir dari sisi wajahnya dan langsung memerintahkan seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Melia.
Anderson melemparkan rekaman cctv ke arah mereka. Dari layar ponsel, Bram begitu kaget ketika melihat Melia keluar dari ruangan dan masuk ke dalam ruangan terlarang.
"Cepat temukan, Melia. Kamu tahu kalau ada alat pelacak di ponsel yang selalu Melia gunakan."
"Baik, Tuan."
Bram kemudian berlari ke arah mobil, membuka pintu itu agar ia dan tuannya bisa segera mencari keberadaan Melia.
Bram menyalakan monitor di depan mobil, mencari titik keberadaan Melia yang terpasang di dalam ponselnya dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Nona Melia, masih tidak jauh dari tempat ini, Tuan."
Anderson tidak menjawab apa pun. Tangannya mengepal kuat. Yang terpenting sekarang, ia harus menemukan Melia dan segera membawa Melia pergi bersamanya, bagaimana pun caranya.
***
Dahi Melia mengerut hingga menyatukan alisnya.
"Kamu akhirnya sudah menemukan ponselmu kembali? Aku sudah menghubungimu ratusan kali dan akhirnya aku tahu kamu yang pada akhirnya menjawabnya."
"A-apa?"
Melia baru sadar ketika ia baru sadar dan mengeceknya. Ratusan panggilan yang tidak terjawab memang dari Reyan.
"Aku ketakutan kalau Anderson membuang ponsel ini, tapi ternyata Anderson masih terus ingin memeriksa setiap detail tentang hidupmu dan juga masih mewaspadaiku hingga ia tidak bisa membuang ponsel ini."
"Reyan, apa maksudmu?"
"Jadi, kamu tahu kan siapa Anderson sesungguhnya?! Katamu ponselmu di rampok tapi ternyata kamu menemukan ponsel ini dari tangan Anderson."
Gigi Melia gemeletuk. Ia menahan napas. Reyan tidak salah lagi.
"Dan kamu masih mencintainya? Masih berpura-pura untuk menutup mata?"
__ADS_1
Dan nyatanya air mata itu kembali menetes.
"Reyan ... aku mohon ..."
"Dan jika aku mengatakan hal yang paling menyakitkan dan aku mempunyai bukti, aku masih penasaran apakah kamu masih mencintainya."
Melia meremas dadanya yang entah kenapa terasa sangat sesak.
"Reyan, apa yang ingin kamu ..."
"Anderson adalah pembunuh orang tuamu, Melia ..."
Dan tiba-tiba ada petir yang menyambar tepat di jantung Melia saat ini. Rasanya sesak, hatinya terasa ngilu yang teramat sangat hingga ia tidak mampu untuk bernapas lebih lama lagi.
"A-apa?"
"Ya, Melia. Anderson lah orang yang membunuh kedua orang tuamu. Orang yang sudah meninggalkanmu kala kecelakaan itu dan membayar orang lain yang tak lain adalah pembunuh itu untuk menggantikannya di dalam penjara."
Tangisan itu pada akhirnya pecah, tangan Melia bergetar hebat, jantungnya seperti ditusuk-tusuk, seluruh hatinya bahkan seperti diremas dengan sangat kuat hingga seluruh tubuhnya bergetar dengan sangat hebat.
***
Hai, maafkan lama ya...
Sungkem dulu..
hehe, jujur, ini sudah di pertengahan cerita HTA .. aku gag bisa bikin novel panjang2 kayak rel kereta api gais.. wkwk.. dan sedikit gag rela untuk pisah sama kalian..
tapi ya cepat atau lambat, novel ini pasti akan tetep tamat juga sih... jadi tetep tungguin ya..
aku lagi bikin Instagram dengan nama hi_alaleana
follow dong ... biar aku seneng...
janji deh, banyak yang follow aku langsung update cerita ini besok...
oiya.. aku bakalan nge share ceritaku yang lain di Instagram.. jadi sebenarnya HTA ada sekuelnya dan malah udah aku bikin sebelum HTA wkwkwk.. tapi ya karena .. .. HTA lebih booming aja di noveltoon. karena ya mungkin noveltoon emang platform paling banyak pembaca dibanding platform2 lainnya..
novelnya judulnya Hasrat Tuan Alexander
sebenarnya kalau kalian ikutin aku di toko sebelah pasti juga udah baca novel ini.. tapi aku belum memutuskan untuk kontrak dengan siapa2.. jadi lebih baik aku turunin dan aplud di Instagram..
jadi, see u di Instagram mulai besok juga :)
__ADS_1