Hasrat Tuan Anderson

Hasrat Tuan Anderson
MELIA DAN REYAN YANG BERTEMU


__ADS_3

Kosong ...


Reyan kini ditinggalkan dan hanya tersisa dia seorang diri. Bram sudah pergi, membopong Rosa bersama dengan para pengawalnya keluar dari rumah ini.


Reyan pada akhirnya tahu bahwa, ternyata memang tidak mudah untuk melawan Anderson. Nyatanya, sekuat apa pun ia mencoba untuk bersembunyi, lari atau pun melawan dirinya, Reyan akan kalah tidak berkutik sama sekali.


Ini semua memang tidak adil.


Setelah ia menghancurkan keluarganya dan membuat hidupnya hancur berantakan, bagaimana bisa pada akhirnya Anderson lah yang memenangkan semuanya? Bahkan, Melia ..., orang yang sangat ia cintai melebihi apa pun di dunia ini.


Reyan terisak.


Orang lemah, nyatanya akan selalu kalah dengan orang yang mempunyai kuasa.


Lalu kemudian Reyan berdiri. Menatap pada lantai yang baru saja ada Rosa yang pingsan di atas sana. Tangisan keputus asaan Rosa nyatanya masih terngiang-ngiang di kepala Reyan hingga Reyan harus terus berucap maaf. Bahwa Reyan, nyatanya memang tidak mampu untuk menyelamatkannya.


***


Sedangkan di tempat lain, Melia masih terus memegangi hatinya yang entah terasa ngilu. Rasanya ada sesuatu yang aneh, perasaannya tidak tenang saat ia menengok pada jendela kamar yang terbuka.


Tepat tengah malam tapi Melia tidak bisa tidur. Nyatanya ia malah kepikiran dengan Reyan dan juga Rosa hingga sampai saat ini. Sudah terlalu lama Melia menggantungkan keadaan mereka dengan semua janji Anderson, namun hingga sampai sekarang, mereka belum ada kabar sedikit pun.


Melia memijat pelipisnya hingga tiba-tiba ia kaget luar biasa ketika merasakan ada orang yang memeluknya dari belakang.


Anderson ikut memandang ke arah langit malam yang semakin pekat.


"Kenapa belum tidur?"


Melia menggeleng. "Kenapa kamu tahu aku belum tidur hingga masuk ke kamar orang sembarangan."


"Lampu kamarmu masih hidup dan aku penasaran."


"Kamu bisa mengetuk pintu."


"Untuk apa aku harus mengetuk pintu saat masuk ke dalam kamar calon istriku sendiri?"


Melia melenguh. Nyatanya Anderson memang selalu seperti ini kan?


Lalu dari arah luar, terdengar seseorang yang mengendap-endap. Seseorang menggunakan hoddie berwarna gelap datang dengan percaya diri berjalan ke arah gerbang rumah Anderson.


Reyan sudah tidak bisa menahannya lagi ...


Ia harus bertemu Melia untuk mendengar semua penjelasan dari Melia. Bagaimana mereka bisa berakhir seperti apa yang ia lihat saat ini.


Sangat menyakitkan ketika Reyan mendongak, lagi-lagi ia melihat Melia tertawa mesra seperti itu bersama dengan Anderson lewat jendela kaca hingga benar-benar membuat Reyan ingin muntah.


Lalu, Reyan berjalan. Berada sampai ke depan gerbang dan Reyan sudah tidak perduli bahwa ada puluhan pengawal yang menghadangnya.

__ADS_1


"MELIA!!!" Reyan berteriak dan menengadah kepalanya ke atas, menatap ke arah Melia yang masih berada di depan jendela.


Tapi nyatanya, teriakan itu berhasil di dengar oleh Melia. Melia melepas pelukan Anderson dan menatap ke arah bawah.


Reyan berada di sana hingga membuat mata Melia melebar.


"Reyan ...?"


Ada yang panik saat Melia melihat Reyan berada di sana. Tiba-tiba saja, Melia langsung berlari keluar dari dalam kamar untuk turun ke bawah hingga Anderson langsung mengikutinya.


Buru-buru Melia langsung keluar menuju pintu, membuka pintu itu lebar-lebar dan benar saja, Reyan yang ternyata berdiri di sana.


"Reyan."


Baru saja Reyan akan diusir paksa, tapi kehadiran Melia di sini membuat para pengawal segera menghentikan apa yang akan mereka lakukan.


Melia berlari menghampiri Reyan. Matanya melebar, ia masih tidak percaya dengan apa yang ia saksikan saat ini. Reyan berada di depannya dan Melia masih terharu melihat bahwa Reyan baik-baik saja.


Tapi, tiba-tiba dari arah belakang terdengar langkahan kaki dari Anderson. Anderson juga syok ketika melihat Reyan dengan beraninya datang seorang diri ke rumahnya sendiri.


"Hai, Mel."


Dan itu lah sapaan yang langsung membuat air mata Melia menangis saat ini juga. Ada banyak hal yang ingin ia katakan juga kepada Reyan.


"Reyan, kamu baik-baik saja ...?"


Tapi Reyan tersenyum skeptis. Menatap kehadiran Anderson dengan sinis yang mungkin saat ini, Anderson sedang berpikir keras untuk bagaimana caranya mengusirnya dari sini.


Ada nada getir yang terlintas dari suara milik Reyan, membuat Melia menahan napas sejenak lalu mulai meremas tangannya.


"Jangan bicara macam-macam. PENGAWAL!!!"


Baru saja Anderson meneriakkan nama pengawal untuk menyeret Reyan dari sini, Melia menahannya. Ia memohon dan menarik tangan Anderson.


"Aku mohon, izinkan aku bicara berdua dengan Reyan. Ada banyak hal yang harus kita luruskan."


Saat Reyan melihat Melia yang bicara seperti itu pada Anderson, sudah cukup mampu membuat Reyan mengerti kalau mereka ternyata telah bersama. Entah sejak kapan, tapi itu benar-benar membuat Reyan semakin benci.


Bahkan, bukan hanya pada Anderson tapi pada Melia juga. Padahal Melia sudah tahu bagaimana Anderson membuat hidupnya menderita selama ini.


Pengkhianatan ini nyatanya sangat menyesakkan.


"Tapi Melia ..."


"Aku mohon ..."


Dan melihat air mata itu, membuat Anderson pada akhirnya menyerah. Butuh waktu yang agak lama untuk Anderson berpikir, bagaimana ia dengan mudahnya memberikan Melia kesempatan untuk bersama dengan Reyan berdua saja?

__ADS_1


Bagaimana kalau Reyan mulai meracuni pikiran Melia lagi?


Bagaimana kalau Reyan akan membuat Melia berubah pikiran?


Adalah hal yang terus berputar di kepalanya hingga membuat Anderson menggeleng. Anderson ingin menolak, tapi Melia segera berkata. "Percaya padaku,"


Anderson mengepal tangan kuat. Kata-kata itu ... apakah Anderson harus mempercayainya?


Lalu tiba-tiba, Anderson kemudian melangkah mundur ke belakang. Menarik napas kemudian menatap ke arah mereka berdua.


"Aku beri waktu, tidak lebih dari lima belas menit."


Reyan hanya tertawa sinis. Sedangkan Melia bersyukur, karena Anderson sedikit mampu telah mengatasi kekeras kepalaannya.


"Terima kasih,"


***


Lalu, di sini lah mereka berada. Tengah malam dan mereka saling duduk berhadapan di kursi hanya dengan berdua saja.


Melia meremas tangannya sedangkan Reyan menatap Melia dengan gamang.


"Ternyata, semudah ini kamu mengkhianatiku, Mel."


Melia menggeleng keras kemudian menangis.


"Kamu tahu, aku tidak pernah mengkhianatimu."


Lalu mereka terus berbicara panjang lebar. Di atas sana, ada seseorang yang mengamati mereka dengan gelisah. Anderson meremas tangannya karena takut kalau Reyan akan memprovokasinya.


Entah mereka membicarakan apa karena Anderson tidak mendengar apa pun yang mereka bicarakan. Ia mulai gelisah, ia ingin merebut Melia dari sisi laki-laki itu tapi nyatanya ia kembali menggantungkan janji yang Melia ucapkan beberapa waktu yang lalu.


"Janji jangan pernah tinggalkan aku."


"Aku janji,"


Dan itu lah janji yang Melia ucapkan hingga Anderson bergantung pada janji itu.


***


18:13


hai, silahkan baca tiga ceritaku yang lain di wa ** pad..


PERNIKAHAN PAKSA ARINI


HAVING HIS BABY

__ADS_1


HASRAT TUAN ALEXANDER


;)


__ADS_2