
Melia semakin gelagapan ketika Anderson terus menyondongkan tubuhnya ke arah Melia. Membuat dirinya terapit ke sisi sofa hingga Melia benar-benar tidak bisa berkutik lagi.
"Jadi, bagaimana? Kuhitung sampai tiga dan sampai hitungan ketiga kamu belum menjawab apa-apa, kuhabisi kamu di sofa ini."
"ORANG GILA!"
"Sudah kubilang, aku tidak punya waktu lagi untuk bermain-main."
"Itu semua bukan pilihan! Itu jebakan! Dua opsi itu sama-sama menguntungkanmu! Apa aku bodoh?!"
"Ya, memang." Seperti tidak mempunyai dosa, Anderson malah terkekeh di depan Melia. "Aku memang pintar kalau soal jebak menjebak."
"Tidak waras."
"Ha ha ha." Anderson tertawa lagi dan mulai menggoda Melia. "Jadi ...?" Tangannya kembali bergerilya.
"Lepaskan tangan anda, Pak!"
"Hei, semua wanita bahkan berebut untuk bisa ku sentuh."
Melia berdecih. Kenapa dia selalu bangga akan hal-hal tidak waras seperti ini?
"Jadi, kuhitung sampai tiga."
"TUNGGU. Jelas-jelas ini buah simalakama. Dua opsi benar-benar membuatku gila."
"Aku tahu kamu menyukainya. Astaga, mau sampai kapan kamu jual mahal. Kamu diam-diam juga menginginkan tubuhku, kan?"
"Eh?" Mata Melia melebar. Sial! Kenapa laki-laki ini tidak pernah sungkan untuk menyuarakan apa yang ada di dalam kepalanya?
"Tidak ada kesempatan lain lagi, Melia. Putuskan opsi itu sesegera mungkin. Satu, ambil cincin ini, atau dua, aku harus menidurimu.
"GILA!"
"Dan sekarang, kuhitung satu sampai tiga."
"Tunggu." Sungguh. Anderson benar-benar membuat Melia kelabakan.
"Satu ..." Dan kini, Anderson mulai berhitung tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Kurang ajar!"
"Dua ..."
"Sekali kamu mendekat, aku akan berteriak!"
"Tiga."
Anderson sudah kehilangan kesabaran, ia mengunci Melia rapat-rapat dan membantingnya ke arah sofa.
"Terlambat Melia!"
"Lepas! Hmmft." Bahkan, Melia sudah tidak bisa berteriak sesuai dengan ancamannya tadi, Anderson sudah membungkam mulutnya, tangannya mulai bergerilya dan memaksa Melia untuk membuka baju.
"Aku sudah memberimu kesempatan, dan sepertinya, kamu memang menginginkan opsi kedua."
"Orang gila!"
__ADS_1
Dan ketika Anderson mulai membuka baju Melia dengan paksa, Melia berteriak histeris.
"Oke, oke, oke! Baik lah, baik lah, baik lah! Aku akan memilih opsi pertama!" Teriak Melia kencang-kencang.
Senyum kemenangan langsung tergambar jelas dari kedua sudut bibir milik Anderson. Dia tertawa terbahak-bahak dan kemudian langsung melepaskan Melia. Berdiri di samping Melia dan bersenandung penuh kemenangan.
"Well, kalau begitu ambil cincin ini."
Tanpa ada kata sanjungan, dan tanpa situasi yang romantis, Anderson langsung memberikan cincin ini ke hadapan Melia. Menarik tangan Melia dan memasangkan cincin itu secara cepat.
"Mulai sekarang kamu tunanganku."
Sial! Aku dijebak!
"Mungkin ini lamaran paling horor yang pernah didapatkan oleh seorang wanita di seluruh dunia."
"Ha ha ha. Sudah kubilang aku tidak bisa romantis."
Melia mendengus karena masih marah dengan semua perlakuan Anderson. Bagaimana tidak?! Dia selalu berbuat semaunya seperti tadi. Melia kemudian duduk di sofa paling ujung, raut mukanya berubah masam dan setitik air keluar dari sudut matanya.
"Hei, ayo lah. Aku hanya berusaha membuatmu menerima lamaranku."
"Kamu membuatku takut."
Dan sepertinya Anderson paham akan perasaan Melia. Ia kemudian menarik napas panjang, menghembuskannya pelan dan langsung berjalan ke arah Melia.
"Apa kamu tidak merasa kalau tindakanmu sangat kelewatan?!"
"Kalau tidak begitu kamu tidak akan menerima lamaranku. Kuakui itu memang brengsek, tapi aku sudah tidak tahan lagi. Aku benar-benar sudah kehilangan akal untuk bisa membuatmu benar-benar milikku."
"Tapi tidak dengan cara seperti itu."
Melia masih marah. Sementara Anderson masih sibuk menenangkannya.
"Pindah lah ke rumahku sekarang juga. Karena besok kita akan menikah."
"Besok?" Mata Melia tercengang.
"Ya, kenapa? Aku sudah memberi tahumu tadi kan? Besok kita menikah dan Bram sudah menyiapkan semuanya."
Melia semakin tercekat akan kata-kata itu.
"T-tunggu."
"Kamu sudah menerima lamaranku, Melia." Mata Anderson mulai menyipit, ia benar-benar tidak bisa jika harus menunggu lebih lama lagi.
"Ya, tapi. Tidak harus besok juga kan?"
"Aku tidak punya waktu. Apa kamu tidak tahu seberapa frustrasinya aku untuk bisa mendapatkanmu, kan?"
"Aku ... aku belum siap."
"Kamu tidak perlu mempersiapkan apa-apa. Sudah kubilang, Bram telah mempersiapkan semuanya. Satu-satunya hal yang perlu kamu siapkan adalah malam pertama kita. Karena kamu harus mempersiapkan tenagamu karena mungkin, aku tidak akan membiarkanmu istirahat selama semalaman suntuk."
Plak!
Melia langsung memukul bahu Anderson keras-keras.
__ADS_1
"Kenapa pikiran anda tidak jauh-jauh dengan itu?"
"Hei, itu normal bagi laki-laki. Lagi pula, aku hanya menginginkanmu, bukan wanita lain."
Melia mendengus.
"Jadi, besok kita tetap akan menikah."
"Aku belum siap."
"Sudah kukatakan, aku sudah menyuruh orang-orangku untuk mempersiapkannya."
"Bukan seperti itu ..."
"Lalu?"
"Lagi pula, aku juga belum meminta izin dengan orang tuaku ..." tiba-tiba suara Melia terdengar lirih, sedangkan Anderson langsung tercekat ketika mendengar Melia mulai mengungkit kedua orang tuanya.
"Maksudku, walau pun kedua orang tuaku sudah meninggal, aku tetap harus meminta izin padanya."
Jantung Anderson tiba-tiba berdegup dengan sangat kencang.
"Kamu juga, kamu harus datang bersamaku di tempat di mana orang tuaku di makamkan untuk meminta izin kan?"
Ada rasa sesak sekaligus nyeri ketika Melia mengatakan akan hal itu.
"Seandainya, orang tuaku masih hidup, mereka pasti senang. Tapi sayang, laki-laki bajingan itu sudah membunuh orang tuaku."
"Membunuh ...?"
"Ya." Melia mengangguk. "Oh, iya. Aku belum menceritakan padamu tentang orang tuaku." Tiba-tiba Melia menoleh. "Orang tuaku kecelakaan karena korban tabrak lari, dan mau sampai kapan pun, aku tidak akan pernah memaafkan orang yang sudah menabrak orang tuaku sampai meninggal."
Rasanya, Anderson langsung lemas seketika. Napasnya tiba-tiba berat ketika memandang ke arah Melia yang terus menerus menceritakan orang tuanya.
"Kamu ...? Tidak akan pernah memaafkannya?"
"Tentu saja, dia sudah membunuh kedua orang tuaku."
Anderson menelan salivanya.
"Tapi mungkin, dia tidak sengaja ..."
"Kenapa anda membela pembunuh itu Pak? Jelas-jelas aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau pembunuh itu lari begitu saja saat kecelakaan itu. Dia laki-laki pengecut, bisa saja dia keluar untuk menolong, tapi apa yang dia lakukan? Dia malah langsung melarikan diri dan kabur."
Dan ucapan Melia benar-benar membuat Anderson membeku dibuatnya.
***
Hai, maaf lama... maaf ya akhir2 ini aku lagi belajar tes CPNS hahahha... jadi aku bagi waktu belajar sama nulis.. maaf ya jadi keteteran.. doain semoga keterima jadi PNSnya. awokwokwok. ngelunjak.
Oiya, kalau kalian suka sama cerita yang maksa maksa kayak gini, aku punya cerita lain Lo di aplikasi sebelah, tepatnya di ***.
Judulnya The Bad Boy Next Door.
Intinya juga sama. Tentang Obsesi. Misteri. Karena aku suka bikin cerita yang ada misterinya. hahaha. biar main tebak2an. Biar seru. Tapi dengan cerita yang berbeda. Ya, intinya si cewek diganggu sama tetangga sebelah kaya raya tajir tikiwir2. Kalau kalian pengen baca, aku sudah posting Sampek tamat di sana. Ada dua karya tamat di sana. Silahkan mampir kalau berkenan.
__ADS_1
Nah, untuk cerita tentang Anderson, tenang aja.. aku bakalan post cerita ini sampek tamat disini kok... aku lagi ngajuin kontrak di sini juga. semoga diterima kontraknya, karena kalau enggak mungkin aku juga patah semangat.. wkwkwkkw. canda.