
"Bonjour, Mademoiselle" - (selamat pagi nona).
Melia masih mematung di sini, air mata itu sudah mengering. Tepat di depan jendela Melia hanya bisa mematung sambil menatap ke arah laut yang membentang luas.
"Le petit dejeuner est pret," - (Sarapan sudah siap).
Pelayan itu tampak menunduk kemudian melangkah pergi. Menyisakan kembali Melia yang seorang diri dan berdiri dalam kefrustrasian.
Melia sudah lelah, lebih tepatnya sudah putus asa. Tenaganya sudah hampir habis, selama semalaman dia berteriak, menuntut untuk dikembalikan sampai suaranya hampir habis berapi-api.
Anderson tetap dalam pendirian, ia tetap tidak mau melakukannya. Sampai pada akhirnya Anderson memberikan Melia ruang, membiarkan Melia tenang sejenak dengan meninggalkannya untuk memberinya waktu.
Dan tetap saja ...
Melia tetap frustrasi dengan semua hal ini.
Lewat celah pintu yang terbuka sedikit Anderson hanya mengamati Melia tapi satu menit kemudian Anderson juga ikut berlalu pergi.
***
Hamparan laut yang ada di depannya seperti tidak berujung, saat Melia kembali menatapnya lagi Melia tidak mampu menemukan tanda-tanda di mana keberadaanya saat ini. Semua orang bungkam, semua orang tidak mau memberi tahu Melia di mana Melia saat ini berada.
Melia pun tidak tahu apakah dia masih di dalam negerinya sendiri atau kah berada di negeri orang lain, semua orang di sini berbicara aneh dan Melia tidak bisa menangkap satu pun apa yang mereka katakan.
"Le petit dejeuner est pret, Monsieur." - (makan pagi sudah siap, tuan).
Anderson pun yang juga ikut melamun, kaget saat pelayan itu datang dan menawarinya makanan.
Mungkin pelayan itu juga frustrasi. Dua orang yang datang ini, bahkan sejak kemarin tidak makan satu suap pun.
"Attends une minute." - (tunggu sebentar).
Lalu pelayan itu tidak berani berkata lebih jauh lagi. Ia pergi dan lebih baik segera meninggalkan mereka.
Lalu, Anderson pun mulai masuk ke kamar itu lagi. Melihat Melia yang masih tetap saja berdiri dan memperhatikan hamparan laut yang luas.
"Kamu harus makan, dari kemarin kamu bahkan tidak makan sedikit pun."
Anderson pun juga lupa, kalau sedari kemarin dia juga tidak makan sedikit pun.
"Aku ingin pulang." Air mata frustrasi itu masih menetes.
"Kamu tahu kalau aku tidak bisa melakukannya."
Melia masih memegangi dadanya yang terasa sangat sakit.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan? Apa yang sebenarnya kamu mau dariku? Kenapa kamu melakukannya sampai sejauh ini?"
"Apa yang ingin kamu dengar, Melia? Kamu bahkan tahu kalau aku melakukannya karena aku terlalu mencintaimu."
__ADS_1
Melia kembali menarik napas panjang. Ia sudah terlalu lelah untuk berteriak lagi. Tenaganya sudah hampir habis hingga ia benar-benar lelah.
"Bisa kah kamu turun ke bawah? Aku ingin menjelaskan tentang semuanya. Aku mohon Mel, makan lah sedikit saja ..."
Tapi Melia tetap lah Melia. Ia tetap keras kepala. Ia menggeleng keras.
Tapi Anderson tetap lah juga Anderson. Ia menarik tangan Melia dan memaksa Melia untuk ikut bersamanya.
***
Lalu, di depan meja makan pun Melia masih tidak mau menyuapkan makanan apa pun ke mulutnya. Ia mengalihkan pandangan dari Anderson yang ada di depannya.
"Aku minta maaf," ucap Anderson memecah keheningan yang menyiksa.
"Kenapa malam itu kamu melarikan diri? Kenapa kamu tidak menoleh sedikit pun ke arah kami saat kecelakaan itu dan malah kabur tanpa memperdulikan kami yang sekarat?!"
Dan Melia pada akhirnya Melia menampar Anderson dengan kata-katanya. Ia ingin mendengarkan penjelasan yang dijanjikan oleh Anderson.
"Ya, aku tahu aku salah. Aku memang pengecut waktu itu."
Melia meremas tangannya sendiri.
"Kamu tahu, itu adalah sesuatu hal yang aku sesalkan bahkan sampai saat ini. Asal kamu tahu, aku belum bisa memaafkan diriku sendiri."
"Bohong."
"Aku sungguh-sungguh, Melia."
"Masa mudaku memang bajingan, aku benar-benar mengakui kesalahanku ketika dulu aku pernah menjadi pengecut. Aku salah karena telah meninggalkanmu dan orang tuamu. Ya, aku akui aku jahat, bahkan aku juga tega membayar orang untuk menggantikanku di penjara. Untuk itu aku memohon maaf ... aku benar-benar menyesal."
"..."
"Tapi ternyata Tuhan memberikan balasannya. Aku memikirkan setiap detik kecelakaan itu. Aku selalu kepikiran bagaimana keadaanmu, aku selalu merasa bersalah dan terus bermimpi buruk. Dan mungkin ini lah awalnya ..."
"Maksudmu?!"
"Sejak saat itu ... saat aku terus merasa bersalah, aku mulai menguntitmu, selalu ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Lalu, aku mulai ikut campur dalam kehidupanmu, selalu mematikan bahwa kamu hidup dengan baik dengan cara menjamin seluruh hidupmu. Aku lah orang dibalik beasiswa itu, dibalik perkerjaan sampingan yang benar-benar kamu butuhkan, dibalik semua kehidupanmu mudahmu itu. Bahkan, aku juga ikut campur saat kamu datang padaku dan memperkenalkan diri menjadi sekretaris pribadiku."
Melia terasa sangat sesak.
"Kamu sudah melakukan hal sampai sejauh ini?"
"Dan itu lah kenapa aku selalu mempunyai fotomu setiap waktu. Hingga pada akhirnya aku mulai menyukaimu, mulai menginginkanmu dan mulai mencintaimu."
"..."
"Aku bahkan tidak tahu bagaimana aku harus memulai menjelaskan padamu. Maaf selama ini aku memilih untuk menyembunyikan semuanya. Karena aku tahu, jika kamu mengetahui semuanya dari awal, kamu pasti akan membenciku setengah mati dan menutup hatimu untukku."
Melia terisak lagi.
__ADS_1
"Maafkan aku ... aku minta maaf ..."
"Kamu menyakiti orang-orang di sekitarku, Rosa ... Reyan ... Boby?"
"Untuk Boby, kamu salah paham. Aku hanya menyuruh Bram untuk memberinya pelajaran, tapi rupanya Bram malah tidak sengaja menabraknya. Dan untuk Reyan, kamu tidak usah khawatir ... aku hanya membuatnya pergi jauh darimu."
"Tapi kamu pernah menghancurkan keluarganya."
"Cintaku padamu terlalu buta. Kamu tidak tahu bagaimana sakitnya saat perempuan yang paling aku cintai, dicium oleh lelaki lain, dipegang tangannya dan dimiliki oleh orang lain."
Melia menggeleng lagi.
"Aku hanya putus asa bagaimana caranya memisahkanmu dengannya. Aku hanya ingin kamu tetap menjadi milikku seutuhnya."
Melia menarik napas panjang.
"Rosa ...?"
Anderson menggeleng keras. "Itu bukan rencanaku. Bram yang mencintainya sejak awal. Rosa tidak masuk dalam rencanaku."
Melia menggigit ujung bibirnya. Rasanya menyesakkan. Melihat semua orang di sekitarnya menderita benar-benar membuat hatinya sakit.
"Kamu tahu, Anderson ... kamu harus paham, bahwa apa yang kamu rasakan bukan lah cinta."
Anderson mendongak saat Melia mengatakan hal itu.
"Itu bukan cinta, tapi obsesi ..."
Anderson menggeleng.
"Lepaskan aku, Anderson agar kamu bisa mengerti bahwa itu bukan cinta. Itu obsesi."
Dan Anderson terperangah akan semua ucapan Melia.
Melia kemudian berdiri, menatap ke arah Anderson.
"Dengar, Anderson. Itu bukan cinta. Apakah kamu tidak sadar juga? Itu hanya lah obsesi."
"..."
"Mulai saat ini aku memaafkanmu. Buang seluruh rasa bersalahmu. Biarkan itu menguap, dan aku mohon segera lepaskan aku karena aku tahu itu hanya lah obsesi. Dan sebentar lagi, aku yakin perasaan itu juga akan menguap dengan mudahnya."
Tangan Melia mengepal ketika mengatakan itu. Melihat Anderson yang saat ini menangis terisak-isak di atas meja dengan kefrustrasian.
Hingga pada akhirnya Melia berlalu, naik menyusuri tangga dan jatuh ke atas ranjang dengan menangis tersedu-sedu.
***
Cuma mau bilang, bentar lagi tamat...
__ADS_1
16.33